ANGKA balita stunting atau kunting (kerdil) di Indonesia masih tinggi, tahun 2018 tercatat 8,8 juta. Untuk pemenuhan gizi balita, KSP Moeldoko menganjurkan setiap rumah pelihara ayam, sehingga punya telur sendiri. Beda lagi dengan Menko PMK Muhadjir Effendi, untuk mencegah generasi stunting cukup dengan sertifikasi pranikah bagi para calon pengantin (CP). Apa hubungannya?
Dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi sering mengingatkan, kesehatan bumil (ibu hamil) harus dijaga termasuk pemenuhan gizinya. Hanya dengan cara ini lahirnya anak-anak kerdil bisa dihindari. Tahun 2045 bakal terjadi bonus demografi alias peledakan penduduk, sehingga jumlah penduduk RI nantinya diprediksi mencapai 321 juta jiwa. Bayangkan, jika 1 persen saja menjadi penderita stunting, 3,2 juta jiwa bukan jumlah sedikit. Jika mereka kumpul menjadi 1, Indonesia menjadi seperti bangsa Liliput.
Di masa balita, terutama masa pertumbuhan 1.000 hari (sampai 3 tahun), gizi bayi dan ibunya harus terjamin. Jaman Belanda, disususul jaman Jepang sampai awal-awal kemerdekaan, orangtua jarang memperhatikan itu. Makan daging hanya ketika ada tetangga slametan atau punya hajat. Makan telur sebutir jarang sekali, biasanya dibagi empat atau bahkan delapan. Itu karena kemiskinan masih membelit anak negeri.
Tapi balita kekurangan gizi tak selalu karena kemiskinan harta, tapi juga karena miskinnya pemahaman orangtua tentang kesehatan. Meski uang ada, makan di rumah tak pernah mementingkan menu “empat sehat lima sempurna”. Bahkan saking pelitnya, dia bilang, “Makan enak kan hanya ketika di lidah, setelah ditelan besok jadi tinja juga.”
Setelah Orde Baru berkuasa, ekonomi anak negeri mulai menggeliat, sehingga murah sandang pangan. Anak kampung kini tak lagi tertarik buah-buahan jatuh, atau kue-kue sisa jamuan tamu. Makan telur ayam dan bebek juga bisa satu butir sendiri atau lebih.
Maka bayi lahir di era Orde Baru, juga langsung melek, karena gizi yang baik. Padahal bayi tempo doeloe harus merem dulu sampai 2 minggu bahkan lebih.
Untuk mencegah kekurang gizi, sejak dini bayi harus terima asupan gizi yang baik. Di Jakarta Gubernur Ahok dulu selalu kampanye perlunya setiap keluarga makan daging, karena bikin otak jadi encer. Gubernur Anies sekarang menyisihkan anggaran untuk pemberian susu bagi murid-murid SD (Revolusi Putih). Ini juga pernah dilakukan sekitar tahun 1960-an, ada hari-hari minum susu di Sekolah Rakyat.
Tapi ironisnya sekarang, di zaman yang murah sandang dan pangan ini, angka balita kunting masih tinggi. Data tahun 2018 menunjukkan, terdapat 8,8 juta balita yang pertumbuhannya terhambat. Dulu, jamu cap Jago Semarang masih bisa tampung pegawai orang cebol, kalau sekarang?
Mungkin merujuk pengalaman masa kecil, KSP Moeldoko punya usul, untuk mencegah generasi stunting sebaiknya setiap rumah memelihara ayam sendiri, sehingga telor tak perlu beli lagi. Ini mirip saran Pak Harto dulu, ketika harga menggila sebagaimana kata Menpen Harmoko seusai sidang kabinet, agar setiap rumah tanam cabe baik di lahan atau pot.
Beda lagi dengan Menko PMK Muhadjir Effendi, untuk mencegah balita stunting atau kunting, bisa dilakukan sejak dini dengan sertifikasi pranikah di KUA. Apa hubungannya? Ternyata, sebelum menikah para CP diberi penyuluhan tentang perlunya kesehatan dan gizi bagi anak-anak mereka nanti. Oo, begitu……
Mendagri Tito Karnavian bisa jadi mengiyakan teori tersebut. Buktinya dia yang di masa kecil makan kerupuk melulu, badannya tidak bisa tinggi. Ketika sekolah di Akpol Semarang setiap baris ditaruh di belakang karena pendek sendiri. Tapi teori itu dimentahkan oleh SBY presiden RI ke-6. Meski sedari kecil makan kerupuk dingin yang alot, faktanya bisa tumbuh tinggi besar sehingga di AMN Magelang dipanggil teman-temannya: onta!
Kata Menko PMK Muhadji Effendi, setiap CP perlu ikut kursus pranikah selama 3 bulan di KUA dan nantinya memperoleh sertipikat. Kursus ini akan dibuka mulai tahun 2020 mendatang. Menag Fachrul Razi setuja-setuju saja dengan programnya Muhadjir Effendi. Tapi di Kemenag, hal semacam itu sudah sejak lama diurus oleh BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan). Cuma selama ini penekanannya tentang pembentukan keluarga sakinah.
Maka ketimbang kebanyakan tempat dan menambah anggaran, sebaiknya program Kementrian PMK itu demerger dengan program Kemenag di BP4 setiap KUA. Para CP tak hanya diberi penyuluhan menuju keluarga sakinah, tapi juga diberi pemahaman tentang perlunya kesehatan dan gizi bagi ibu hamil, terjaminnya gizi bayi selama 1000 hari di masa pertumbuhan. (Cantrik Metaram)





