
SEPAKBOLA di Indonesia adalah olahraga yang paling banyak ditonton publik setiap kali digelar pertandingan, baik di ajang lokal, regional mau pun kualifikasi dunia.
Selain pantas memiliki kesebelasan tangguh berkelas dunia dipilih dari talenta diantara 273 juta penduduk, setiap even pertandingan sepakbola yang ditonton secara massal, juga bisa dijadikan sarana edukasi misalnya untuk mendorong supporter dan juga permainan fair.
Faktanya tak begitu, karena protes berujung kekerasan oleh supporter terutama saat kesebelasan idolanya kalah, bahkan tanpa sebab, menyerang supporter atau kesebelasan lawan atau melakukan perusakan, selain merugikan, juga merendahkan citra bangsa acapkali terjadi.
Peristiwa teranyar, saat bonek atau supporter Persebaya dikalahkan oleh Rans Nusantara FC dalam pertandingan Liga I di Stadion Gelora Delta Sidosrjo, (15/9) lalu.
Tidak terima atas hasil pertandingan, para bonek merangsek ke lapangan, merusak fasilitas stadion, menyerbu pemain dan official Persebaya dan malam harinya dilanjutkan dengan menggeruduk kantor manajemen Persebaya di Surabaya Town Square.
Kekerasana oleh supporter sepakbola terjadi berulang-ulang, namun sampai hari ini agaknya tidak ada upaya terpola, antisipatif dan sistematis untuk mencegah kejadian serupa ke depannya.
Misalnya saja, di sebelum pertandingan dimulai, seharusnya ada peringatan singkat melalui pengeras suara pada penonton untuk bersikap fair, melalui spanduk-spanduk, juga mungkin ditulis di lembar tiket masuk.
Peringatan tentang pasal-pasal KUHP dan ketertiban umum yang dilanggar jika melakukan kekerasan verbal dengan mencaci maki membully ksebelasan atau supporter lawan, juga pasal-pasal jika melakukan kekerasan fisik.
Perilaku supporter sepakbola Indonesia yang melakukan pembulian pada supporter atau pemain lawan, apalagi di event-event internasional, sangat merusak citra Indonesia di mata dunia.
PSSI, para pemangku pendidikan dan aparat keamanan mestinya bisa bekerjasama merancang edukasi yang pas bagi supporter sepakbola Indonesia agar mereka ikut mendorong terciptanya fair play.




