TANPA terasa Ramadan tiba kembali. Dan seperti biasanya, untuk menentukan awal puasa atau tanggal 1 Ramadan, sering ada perbedaan antara versi pemerintah dan ormas Islam Muhammadiyah. Menteri Agama –biasanya dari NU– cenderung menggunakan tradisi rukyatul hilal (mengamati bulan), sedangkan Muhammadiyah memakai metode hisab (perhitungan berdasarkan ilmu astronomi). Hasil perhitungan kadang bisa sama (bareng), tapi sering pula beda sehari.
Berdasarkan perhitungan Muhammadiyah, tanggal 1 Ramadan 1438 H akan jatuh hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017. Sedangkan pemerintah dan juga NU, nanti dulu……, tunggu sidang isbat yang akan dilaksanakan Kementrian Agama Jumat sore besok. Semoga saja hasilnya bisa sama, yakni awal puasa tahun ini sama-sama tanggal 27 Mei 2017. Tapi misalkan berbeda juga, tak masalah juga karena semua itu kemudian diserahkan pada keyakinan masing-masing. Siapa tahu pula, beda awal Ramadan tetapi bisa sama di hari jatuhnya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H.
Kok bisa, beda di awal Ramadan kok bisa sama di 1 Syawal? Bisa saja, karena umur bulan di tahun hijriah itu antara 29 dan 30 hari. Beda dengan kalender masehi, usia bulan bisa 28 hari, 29 hari, 30 hari dan 31 hari. Maka berbahagialah bagi mereka yang tanggal lahirnya 29 Februari. Jika dia hobi merayakan ulang tahun, akan bisa ngirit biaya. Soalnya, tanggal 29 Februari itu hanya akan hadir 4 tahun sekali.
Kemarin ada suara dari Senayan bahwa sebaiknya tradisi sidang isbat oleh Kementrian Agama itu dihapuskan saja. Wakil Ketua Komisi Agama DPR Sodik Mudjahid berpendapat, sidang isbat itu justru sebuah pemborosan, karena akan menghabiskan biaya besar untuk pengamatan di lapangan dan sidangnya itu sendiri. “Mendingkan dananya disumbangkan untuk kegiatan ormas NU atau Muhammadiyah,” kata Mujahid politisi Gerindra tersebut.
Di samping pemborosan anggaran, sidang isbat juga hanya akan mempertontonkan perbedaan pimpinan kelompok-kelompok Islam menyikapi datangnya Ramadan. Bahkan karena perbedaan sikap itu, sebelum Menag Lukman Hakim Syaifuddin, Ketum PP Muhammadiyah tak pernah mau menghadiri sidang isbat Kementrian Agama. “Menagnya orang parpol (Suryadarma Ali), jadi kehadiran kami sekedar pemanis saja,” kata Din Syamsuddin kala itu.
Jauh sebelum diusulkan Sodik Mujahid, tahun 2013 ketika Din Syamsuddin masih Ketum PP Muhammadiyah juga pernah mengusulkan senada. Setiap menggelar sidang isbat, Kemenag harus mengelurkan anggaran sampai Rp 9 miliar. Nanti sidang isbat penentuan 1 Syawal keluar Rp 9 miliar lagi. Sidang isbat penentuan Idul Adha Rp 9 miliar lagi. Sayang kan, duit rakyat Rp 27 miliar setahun dihambur-hamburkan.
Sistem kalender biasanya berhubungan dengan orang ber-KB. Tapi Muhammadiyah juga lebih suka “sistem kalender” (baca: sesuai jadwal di kalender) dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Karena dengan menggunakan ilmu hisab tersebut datanya sangat akurat dan pasti. Beda dengan menggunakan rukyatul hilal, sangat tergantung dengan cuaca. Jika mendung menggantung, gagalah rukyatul hilal itu dan akhirnya cukup digenapkan sesuai hadits Nabi.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab sedangkan NU cenderung mengacu pada rukyatul hilal. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya para pemimpin kedua ormas tersebut menyenangi Ilmu Hisap (pakai p bukan b). Maksudnya menghisap tembakau! Lihat saja, tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. Malik Fadjar gemar merokok. Apa lagi kyai-kyai NU, banyak yang keberatan jika rokok diharamkan. (Cantrik Metaram)





