JAKARTA – Kombinasi patahan bebatuan dangkal dan konstruksi bangunan yang tidak diperkuat memicu kehancuran dahsyat dalam gempa bumi di wilayah pusat Italia, Rabu lalu (24/8/2016). Dalam kejadian tersebut sedikitnya 159 orang tewas dan puluhan lainnya masih dalam pencarian.
Seperti banyak desa dan kota di wilayah pegunungan Italia, Amatrice kota yang terdampak gempa terdiri dari banyak rumah dan gereja berkonstruksi batu yang dibangun ratusan tahun lalu sehingga ketika gempa dahsayat itu terjadi, dalam hitungan detik bangunan segera rata dengan tanah.
“Bahkan 100 tahun lalu, mereka tidak tahu bagaimana cara membangun struktur yang tahan gempa,” kata David A. Rothery, profesor Open University di Milton Keynes, Inggris, seperti dikutip BBC (26/08/16).
Namun menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), besarnya efek gempa di Italia terjadi karena kedalaman gempa yang sangat rendah, sekitar 9,6 kilometer di bawah permukaan Bumi.
“Gempa dangkal menyebabkan lebih banyak kehancuran daripada gempa dalam karena kedangkalan itu memicu guncangan yang lebih dahsyat,” tutur Profesor Rothery.
Cocco seorang ahli geologi dari Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi di Roma
mengatakan Italia sudah menggunakan konstruksi anti-seismik dalam pembangunan gedung-gedung modern. Namun pemerintah Italia kurang memerhatikan bangunan yang sudah dibangun ratusan tahun lalu. Padahal bangunan kuno berkonstruksi batu adalah struktur dominan di Italia.
“Ketahanan bangunan (kuno) terlalu rendah dibandingkan dengan frekuensi dan dampak kuat dari fenomena alam yang ditentukan oleh risiko seismik di negara kami,” tutur Cocco.





