/Indonesia, Tanah Airku,
Tanah Tumpah Darahku/.
Demikian bunyi bait pembuka lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu itu diperkenalkan pertama kali oleh komponis Wage Rudolf (WR) Supratman dengan permainan biola pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda itu melahirkan pernyataan sikap yang kemudian dikenal sebagi Sumpah Pemuda. Berdasarkan bukti kuat yang ada, Sumpah Pemuda diilhami atau kuat dipengaruhi oleh puisi karya Muhammad Yamin, sastrawan, budayawan dan politisi kelahiran Minangkabau, Sumatera Barat.
Ungkapan tanah air dan tanah tumpah darah disebut beberapa kali dalam puisi karya Yamin antara tahun 1920 sampai dengan 1928. Kedua ungkapan ditulis langsung berurutan: tanah air, tanah tumpah darah.
Penelusuran sejumlah puisi Yamin, yang merupakan hasil pemandangan dan renungannya, memang membuktikan bahwa ada hubungan erat antara tanah dan air. Bumi Indonesia diungkapkan terdiri dari hutan rimba, ngarai, gunung, sungai dan telaga. Juga gugusan pulau-pulau yang mengapung di air (laut), sehingga Indonesia dulu disebut Nusantara.
Tetapi mengapa tanah tumpah darah? Yamin menyebut ungkapan tanah tumpah darah dalam dua puisinya yang berjudul sama, yakni “Tanah Air”. Dalam puisi bertanggal Bogor, Juli 1920, ia, setelah memuja keelokan pemandangan pulau Andalas atau Sumatera, menulis; //Itulah tanah, tanah airku/Sumatera namanya tumpah darahku/. Lalu, dalam puisi bertarikh Pasundan, 9 Desember 1922, Yamin menulis: //Karena di sanalah darahku tertumpah/Serta kupinta berkalang tanah//.
Untuk memenuhi permintaannya itu, jenazah Muhammad Yamin yang wafat di Jakarta tanggal 17 Oktober 1962 di makamkan di Talawi, dekat Sawahlunto. Ia dilahirkan di Talawi, 23 Agustus, 1903.
Dalam puisinya yang berjudul “Indonesia, Tumpah Darahku”, bertarikh Pasundan 26 Oktober 1928, Yamin memulai dengan ungkapan yang kemudian menjadi kata-kata mutiara://Bersatu kita teguh/Bercerai kita jatuh//. Yamin dalam puisi ini dengan tegas mengatakan://Tumpah darahku Indonesia namanya/Indonesia namanya, tanah airku/, /Bangsa Indonesia bagiku mulia/, dan /Ke Indonesia kami setia//.
Masih menjadi pertanyaan, mengapa tanah tumpah darah? Yamin menulis://Karena di sanalah darahku tertumpah//. Kalau yang ia maksud adalah tanah atau negeri kelahiran, bukankah yang menumpahkan darah adalah ibundanya waktu melahirkannya, bukan darah Yamin sendiri yang tumpah? Bingung juga untuk mengambil kesimpulan, karena puisi bukanlah ranah matematika yang berdasarkan logika. Pilihan kata sangat dipengaruhi oleh rasa sang pencipta.
Memang ungkapan tanah tumpah darahku mengesankan lebih kuat. Lebih sakral, bahkan. Darah adalah unsur penting bagi kehidupan manusia. Karena itu, muncul istilah penyakit kekurangan darah, darahnya kental, gampang membeku, darahnya terlalu encer, kalau terluka darahnya mengucur terus, tak mudah berhenti. Yang jelas, manusia dan hewan akan mati kalau kehabisan darah.
Dulu ada sumpah dengan cap jempol darah untuk mendukung Ibu Megawati menjadi Presiden RI. Artinya, para pendukung rela mati, kalau Ibu Mega tidak menjadi orang nomer satu negeri ini.
Semoga, bukan karena ungkapan tanah tumpah darah, sejarah negeri ini beberapa kali berlumuran darah. Bermula dari kisah Ken Arok, raja Singosari, yang terkena kutukan keris Empu Gandring, hingga sejumlah raja keturunannya mati akibat keris yang sama. Lalu, perang untuk mempertahankan Kemerdekaan, yang antara lain melahirkan Hari Pahlawan 10 November, untuk mengenang para pahlawan pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Menyusul kemudian, perang saudara, yakni pemberontakan PKI Madiun 1948, pemberontakan DI/TII, PRRI, Permesta dan G30 S/PKI, 1965. Serentetan pemberontakan itu dan aksi penumpasannya banyak menumpahkan darah anak bangsa ini.
Peringatan Sumpah Pemuda 2015 semoga semakin menyatukan bangsa ini agar tidak ada lagi darah tertumpah sia-sia karena kepentingan pribadi, suku dan golongan.Ingat: “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”.



