Mengenang Perjalanan Syekh Ali Jaber, Pendakwah Kelahiran Madinah yang Menangis saat Dapatkan Status WNI

Syekh Ali Jaber/ Foto: Merdeka.com

JAKARTA – Kepergian Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang dikenal Syekh Ali jaber yang merupakan pendakwah dan ulama berkewarganegaraan Indonesia ini menyisakan duka yang mendalam bagi umat muslim, bahkan media sosial hari ini diramaikan dengan unggahan selamat jalan bagi almarhum.

Syekh Ali Jaber sebelum menjadi pendakwah telah menjadi penghafal Al-Quran sejak kecil. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam, hingga akhirnya di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam.

Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri dan pada usia sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Quran.

Di tahun terakhir hidupnya Syekh menjadi korban penusukan pada 13 September 2020, oleh orang yang tidak dikenal saat berceramah di Masjid Falahuddin, Sukajawa, Bandar Lampung., dan mengalami luka tusuk bagian lengan kanan.

Syekh Ali Jaber juga sempat terkonfirmasi infeksi corona, namun dapat dipastikan beliau sudah keadaan negatif Covid-19 di RS YARSI, Cempaka Putih, Jakarta, ketika menghembuskan nafas terakhirnya.

Hal tersebut dipertegas Ustad Yusuf Mansyur lewat akun instagramnya @yusufmansurnew, yang menyebut Ali Jaber meninggal dunia bukan karena COVID-19. “Benar Syeikh Ali wafat (pukul) 08.30, sudah dalam keadaan negatif Covid di RS Yarsi Cempaka Putih, Jakarta,” tulisnya.

Sementara itu Syekh Ali Jaber juga harus melalui jalan panjang untuk mendapatkan kepercayaan resmi menyandang sebagai Warga Negara Indonesia.

Dalam tayangan YouTube Deddy Corbuzier yang diunggah pada Rabu (16/9/2020), dia menceritakan saat dirinya mendapat penghargaan dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ketika saya dapat penghargaan dari bapak SBY jadi warga negara Indonesia. Banyak orang mengucapkan selamat, saya nangis,” kenang Syekh Ali Jaber.

Ia menganggap bahwa penghargaan yang diterimanya akan menjadi beban tanggung jawab selanjutnya sebagai warga negara Indonesia.

“Ya Allah saya terima penghargaan ini tapi bagi saya beban, bukan sebuah kemuliaan. Karena saya dengan kepercayaan itu menjadi WNI berarti saya hidup sebagai rakyat Indonesia,” lanjut Syekh Ali Jaber.

Ia bertekad untuk bisa menjaga kepercayaan dan penghargaan itu agar tidak menjadi beban bagi Indonesia.

“Kalau saya tidak bisa menjaga nama baik negara Indonesia, lebih baik cabut warga negara,” tegas ulama yang telah tinggal di Indonesia selama 12 tahun itu.

“Karena itu saya berusaha tulus. Kalau saya ada salah, saya dapat masukan dari kiai, habib atau siapa, saya tidak ada rasa malu untuk segera minta maaf,” sambung dia.

 

Advertisement