Menguak Tabir Misteri Kasus Novel

Penetapan tersangka kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, RM (kiri) dan RB yang terjadi hampir tiga tahun lalu diharap mengawali pengusutan tuntas sampai ke dalangnya.

DICOKOKNYA RB dan RM, tersangka pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, diharapkan mengawali pengungkapan tuntas kasus penyiraman air keras yang sudah berlalu hampir tiga tahun itu.

Novel disiram air keras oleh dua pelaku yang berboncengan dengan sepeda motor saat berjalan kaki sepulang shalat subuh dari mesjid Al-Ihsan yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya di kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara pada 11 April 2017.

Akibat cedera yang dialami di mata kirinya, Novel sempat dirujuk di RS Singapura, sementara kedua pelaku, walau aksi mereka terekam di CCTV dan sketsa wajah mereka berhasil dilukis, seolah-olah raib ditelan bumi.

Misteri kasus Novel sempat mencederai legacy yang ditinggalkan Presiden Jokowi selama periode pertama kepemimpinnya (2014 – 2019) selain kematian aktivis HAM Munir Said Thalib yang diracun arsenik dalam penerbangan ke Amsterdam pada 7 Sept. 2014.

Hingga kini, setelah 15 tahun berlalu, aktor intelektual atau dalang pembunuhan terencana itu belum terungkap kecuali operator lapangan, pilot Garuda, Polycarpus Budi Priyanto yang dipidanakan setelah terbukti menaruh arsenik ke makanan yang disantap korban.

Bedanya, kasus Munir terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sementara kasus Novel Baswedan terjadi di era kepemimpinan periode pertama Presiden Joko Widodo.

Kasus penyiraman air keras terhadap Novel nyaris gelap selama 32 bulan di tengah dugaan adanya keterlibatan seorang perwira tinggi polisi dan penganiayaan terhadap Novel berkaitan dengan kasus yang ditanganinya.

Menurut catatan, Novel a.l. menangani kasus e-KTP (terdakwanya
mantan Ketua DPR Setya Novanto), kasus mantan Ketua MK Moh. Akil Mochtar dan Mantan Sekjen MA Nurhadi, mantan Bupati Buol Amran Batalipu dan kasus simulator SIM (terdakwa mantan Kakorlantas Polri Irjen. Pol. Djoko Susilo).

Kabareskrim Polri baru
Penangkapan RM dan RB Kamis lalu (26/12) terjadi selang 11 hari setelah pengangkatan Komjen Lystio Sigit Prabowo sebagai kabareskrim Polri dan sehari setelah kenaikan pangkat dan jabatan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Gatot Eddy Pramono menjadi jenderal bintang tiga (Komjen) dan menjadi Wakil Kepala Polri.

Untuk menepis keraguan publik, Sigit menyatakan, yang penting baginya, ia tidak salah tangkap dan meyakini, RM dan RB adalah pelaku penyiran air keras terhadap Novel yang sesungguhnya.

Hal itu dipertegas lagi oleh Kabiro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Argo Yuwono yang menyebutkan, RM adalah pengendara sepeda motor yang memboncengkan RB.

Khusus RB, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, wajahnya mirip dengan salah satu dari empat sketsa yang pembuatannya dibantu oleh kepolisian Australia berdasarkan keterangan para saksi.

Walau penangkapan tersangka pelaku RM dan RB menjadi titik terang sekaligus menampik sikap skeptis publik atas keseriusan polisi mengusut kasus ini , dituntut transparansi dalam proses pengusutan selanjutnya, termasuk menggali motif perbuatan mereka.

Publik juga penasaran atas makna teriakan RB pada kerumunan wartawan saat ia bersama RM dipindahkan dari ruang tahanan Polda Metro Jaya ke ruang tahanan Bareskrim Polri, Jumat (27/12). “Tolong dicatat, saya tidak suka sama Novel, karena dia penghianat, “ serunya.

Sejauh ini RM dan RB hanya disebut-sebut masih berdinas aktif di Polri, namun belum diungkapkan di kesatuan mana ia bertugas, dan lebih jauh lagi, siapa dalang atau aktor intelektual yang mengerakkan aksi mereka.

Kabareskrim sendiri mengaku, penetapan RM dan RB baru langkah awal, namun pihaknya berjanji akan bekerja cemat dan transparan serta juga membuka kemungkinan adanya tersangka lain.

Sedangkan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo mengingatkan pentingnya keselamatan RM dan RB serta keluarganya, mengingat kasus ini merupakan kejahatan terencana, terorganisasi dengan rapi dan oleh bukan pelaku tunggal.

Selamat bekerja Polri, rakyat menanti pengusutan tuntas kasus ini.

Advertisement