
ATHENA – Menteri Perhubungan Yunani Kostas Karamanlis menyatakan pengunduran dirinya pada Rabu (1/3/2023) waktu setempat, menyusul insiden tabrakan kereta yang menewaskan sedikitnya 38 orang dan melukai puluhan lainnya.
Dalam pernyataannya, Karamanlis menyatakan pengunduran dirinya adalah hal paling sedikit yang bisa ia lakukan untuk menghormati para korban.
Ia juga menyatakan bertanggung jawab atas kegagalan pemerintah selama bertahun-tahun.
Sementara itu, otoritas Yunani pada hari yang sama telah menahan kepala stasiun di Kota Larissa karena insiden tersebut.
Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa otoritas memutuskan untuk menahan pria berusia 59 tahun itu setelah dirinya memberikan keterangan kepada jaksa.
Pejabat kepolisian menjelaskan bahwa kepala stasiun tersebut akan dituntut atas kelalaian yang menyebabkan banyak kematian dan kelalaian yang menyebabkan cedera parah.
Dilansir dari Reuters, insiden pada Selasa (28/2/2023) malam itu, terjadi ketika kereta penumpang anjlok dan terbakar setelah menabrak kereta barang.
Kecelakaan tersebut adalah insiden kereta api terparah yang pernah terjadi di negara tersebut.
Jumlah korban tewas masih bisa bertambah, menurut otoritas Yunani, terlebih karena suhu di gerbong kereta dilaporkan meningkat.
Juru bicara dinas pemadam kebakaran Vassilis Varthakogiannis menyatakan bahwa suhu akibat api yang membakar gerbong pertama kereta penumpang itu menyulitkan proses identifikasi korban yang terjebak.
Otoritas Yunani juga tengah menyelidiki penyebab kereta penumpang tersebut bertembung dengan kereta barang yang melaju dari arah berlawanan di jalur rel yang sama dengan kecepatan tinggi, diduga hampir mencapai 160 km per jam.
“Segala sesuatu dalam tragedi ini, sayangnya, sebagian besar mengarah pada kesalahan manusia,” kata Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dalam pidato yang disiarkan televisi Yunani pada Rabu.
Penyelamatan Korban Terus Dilakukan
Tim penyelamat Yunani pada Kamis terus mencari korban. Seorang penyelamat bernama Constantinos Imamidis (40), mengatakan kemungkinan korban selamat ditemukan semakin kecil karena suhu gerbong penumpang yang terbakar amat tinggi.
“Dan yang paling sulit adalah, alih-alih menyelamatkan nyawa, kali ini kami justru harus mencari mayat,” katanya.
Banyak penumpang kereta harus memecahkan jendela untuk bisa keluar dari kereta tersebut. Menurut otoritas setempat, suhu gerbong dilaporkan meningkat hingga 1.300 derajat Celsius.
Beberapa kerabat korban sampai harus memberikan sampel DNA mereka di rumah sakit di Larissa untuk membantu identifikasi korban kecelakaan.
Sementara itu, Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dalam pidato yang disiarkan televisi Yunani pada Rabu (1/3/2023), menyatakan bahwa bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa kesalahan manusia kemungkinan besar menjadi penyebab kecelakaan tersebut.
Akibat insiden itu, pekerja kereta Yunani serentak menggelar mogok kerja pada Kamis. Mereka menuding pemerintah mengabaikan permintaan untuk memperbaiki standar keamanan perkeretaapian selama bertahun-tahun
Seorang pensiunan pelatih masinis Nikos Tsouridis mengatakan bahwa masinis yang terlibat dalam kecelakaan itu tewas karena ketiadaan aturan keselamatan.
“Kenapa tidak ada aturan keselamatan? Kepala stasiun memang melakukan kesalahan, dia sudah akui itu, tapi seharusnya kita juga punya mekanisme keselamatan yang bisa diandalkan,” katanya.
Pengelola kereta api Yunani TrainOSE dijual kepada perusahaan transportasi Italia Ferrovie dello Stato Italiane pada 2017 di bawah program talangan dana internasional kepada Yunani.
Dari penjualan tersebut, Yunani berharap ada investasi jutaan euro untuk pengembangan infrastruktur perkeretaapian.
Sumber: Antara




