Meniti Asa Ditengah Puing Gusuran Rawajati

foto Aditya KBK

JAKARTA, KBK – Wulansari (37) dan ketiga anaknya tak pernah mengira bahwa jalan hidup yang harus ditempuh begitu terjal dan penuh liku. Ia tak menyangka bahwa pagi itu, kamis 1 September 2016 adalah hari terakhir bagi Wulan dan keluarga melihat rumahnya berdiri.

Deru mesin buldoser yang meraung-raung sejak matahari terbit, terdengar bak lonceng kematian bagi Wulan hingga jeritannya pun tak sanggup menghentikan alat berat itu meratakan rumahnya di RT 09, RW 04, Kelurahan Rawa Jati, Kalibata, Jakarta Selatan.

Sebagai tempat pilihan bertahan hidup, kini Wulan mendiami trotoar di Jalan Rawajati Barat dengan mendirikan tenda darurat seluas 4 X 3 meter yang ditnggali oleh 3 kepala keluarga, tiap malam Wulan harus berbagai lapak setidaknya denga 14 orang untuk sekedar merebahkan tubuh.

Derita hidup yang di tanggung Wulan tak berhenti disitu, ketika menjelang siang sengatan matahari terasa begitu kuat di dalam tenda dan pada saat turun hujan ia pun harus bersiap kebanjiran karena posisi tenda yang berdiri diatas saluran air. Sebagai singel parent Wulan enggan direlokasi ke rusun Marunda Jakarta Utara karena jaraknya yang terlampau jauh dari tempat anak-anaknya sekolah dan bekerja.

“Saya asli warga Jakarta, saya lahir di Setiabudi terus rumah saya digusur, lalu saya pindah ke Tanah Abang digusur lagi, setelah itu nikah pindah ke Rawabelong hingga pada akhirnya tahun 1992 saya menetap disini (Rawajati),” ucap Wulan yang kesehariannya berprofesi sebagai Jurnalis media online.

Di dalam tenda darurat, Wulan lebih sering memasang wajah kecut. Ia merasa tidak diperlakukan secara adil oleh para pemanggku kepentingan karena dianggap sebagai penduduk yang mendirikan bangunan di lahan milik negara.

“Rumah saya terdaftar, ada RT RW nya. Saya juga bayar PBB dan mendapat saluran listrik resmi. Tapi tiba-tiba digusur tanpa ada sosialisasi dan peringatan,” ujar Wulan kepada KBK, Senin (05/0916).

Wulan ingat betul pada saat proses penggusuran dirinya tak dapat berbuat banyak, Wulan mesti beradu cepat dengan laju buldoser yang tak pandang bulu merobohkan tiap petak rumah. Tak banyak harta benda yang dapat diselamatkan, termasuk 3 lemari pendingin yang terkubur dalam puing-puing rumah beserta perabotan lainnya.

“Saya cuma bisa menyelamatkan pakaian, sepeda motor dan TV, itu pun layar TV saya retak akibat benturan,” ungkap Wulan dengan nada kesal.

Sementara itu Sumadi (55) teman satu tenda Wulan bernasib lebih memprihatinkan. Di hari ke empat pasca penggusuran, Sumadi hanya bisa terduduk dekat perabotan rumah tangganya yang disusun semeraut. Guna menunjang kehidupan sehari-hari Sumadi mengandalkan bantuan dari sumbangan berupa mie instan dan telur. Tak jauh dari pandagannya tampak Kaniem (52) istri Sumadi yang tengah menggendong cucu dari anak pertamanya, Beni Nugroho.

Sebagai tukang ojek, Sumadi masih bingung harus pindah kemana. Ia tak mau pindah ke rusun Marunda karena sudah memiliki pelanggan setia di daerah Kalibata City. Begitu juga dengan anak kedua Sumadi, Sumarlin yang telah menjadi security di Kalibata City.

Denga nada berapi-api Sumadi sangat menyesali tindakan Satpol PP yang tidak manusiawi dalam memperlakukan korban gusuran, mata Sumadi makin berkaca-kaca setelah menceritakan anak sulungnya yang terinjak-injak aparat ketika proses penggusuran

“Anak terakhir saya Herman Suseno itu terinjak-injak ketika mencoba menyelamatkan harta benda. Tapi aparat tidak peduli, mereke beringas, seperti orang kerasukan. alhamduilah anak saya tidak mengalami luka serius,” ucap pria asal Temanggung tersebut.

Adik kandung Sumadi, Misman (50) lebih parah lagi. Kepalanya bagian belakangnya bocor dan tangan kirinya patah akibat ulah Satpol PP yang bertindak kasar. Tanpa rasa tanggung jawab, Sumadi tak diberikan sepeser pun uang untuk biaya pengobatan Misman. Lagi-lagi Sumadi harus membongkar tabungannya yang kini tinggal menyisakan Rp 40 ribu.

“Adik saya tangan kirinya patah dan kepala belakangnya bocor, sepertinya mengalami gegar otak karena mimisan. Setelah dilarikan ke rumh skit Budi Asih sekarang Misman ambil kontrakan di Kemuning Rawa Jati,” kata Sumadi yang sesekali melirik ke puing bekas rumahnya karena takut disusupi orang asing yang ingin menjarah sisa-sisa perabotannya.

Ketika matahari semakin terik dan suasana didalam tenda makin pengap Sumadi masih meyisakan satu harapan yakni bisa mendapatkan uang ganti rugi. Harapannya bukan tanpa sebab, sejak Sumadi membangun rumahnya tahun 1982 ia kerap dimintai uang retibusi sebesar Rp 5 ribu tiap harinya oleh pihak kelurahan setempat dan kini ia mengharapkan uang itu kembali dalam bentuk kerohiman.

Kondisi yang tak kalah memilukan juga menimpa Ella (35) ibu rumah tangga yang kini juga masih beum tau akan tinggal dimana. Sejak gusuran kesehariannya Ella hanya bisa menyisir puing-puing bekas bangunan rumahnya. Kegembiraan sontak menghiasi wajah Ella ketika dirinya mendapati foto anak terakhirnya yang terselip ditumpukan papan triplek.

Disebrang puing terlihat Udin suami Ella yang tengah merapihkan buku-buku pelajaran anaknya. Lagi-lagi senyum menghiasi wajah Ellah ketika berhasil menemukan tas sekolah anaknya berwarna ungu kelabu. Namun apa yang didapat Ella merupakan pelipur lara belaka.

Disaat buldoser kembali datang di hari ke empat untuk merapihkan puing bangunan, keceriaan yang tadinya menghiasi wajah Ella tiba-tiba sirna. Dengan sekejab air mata Ella menetes membasuh tanah, ia tak kuasa melihat rumah sebagai tempat berlindungnya sejak tahun 1990 raib digilas buldoser.

“Anak saya tiga, sekarang semuanya saya ungsikan ke rumah neneknya. Saya khawatir anak pertama saya histeris melihat rumahnya hancur,” jelas Ella.

Guna mengakses kebutuhan mandi, cuci, kakus baik Wulan, Sumadi dan Ella hanya bisa mengandalan MCK bantuan dan menumpang di RT sebelah yang tidak terkena gusuran.

“Tapi semalam saya dengar MCKnya sudah di bongkar sama Polisi, katanya bikin ngga tertib. Mungkin pemerintah menyuruh kami untuk buang air sembarangan,” tutup Wulan penuh kekesalan.

Advertisement