Menjadi Imam Salat

Meski bacaan surat oleh imam panjang-panjang, asalkan iramanya enak didengar saampai bikin merinding, jemaah pasti senang-senang saja.

TANPA sengaja kemarin saya menemukan di Youtube (https://www.youtube. com Com/shorts/tdH_bp6wLHM), video seorang imam meninggal saat memimpin salat. Dia jatuh ketika hendak sujud, dan tersungkur tak bergerak lagi. Makmum di belakangnya segera maju menggantikan jadi imam. Setelah salat selesai barulah jenazah sang imam diurus. Sayangnya kemudian ada narasi yang mengecewakan, “Meski ini hanya settingan tapi ada pelajaran berharga bahwa maut bisa datang sewaktu-waktu.”

Ketika masih penasaran dengan konten video tersebut, saya menemukan video lain yang rupanya sumber aslinya (https://www.youtube.com/watch?v=_WOOLiZsijE). Di situ lebih lengkap, ada adegan ketika sang imam nampak mengusap-usap dadanya –sepertinya sakit– lalu jatuh tersungkur. Lalu setelah salat selesai, imam pengganti membalikkan tubuh imam yang meninggal. Ternyata sudah tak bernapas, dan wajah sang imam pun diusapanya. Innalillahi waina illaihi roji’un………

Video yang penulis temukan kali pertama dibuat 3 bulan lalu, sedangkan video yang kedua produk 3 tahun lalu. Itu artinya, video yang kedualah yang asli. Astgfirullah! Sampai sebegitunya orang sekarang cari duit, tega-teganya memanipulasi kejadian demi sebuah konten. Untung saja masih ada narasi positipnya: ada pelajaran berharga bahwa maut bisa datang sewaktu-waktu.

Menjadi imam salat itu punya tanggungjawab berat dunia akhirat. Kalau benar, pahala dinikmati bersama, jika salah menjadi tanggungjawab sang imam sendiri. Jadi mirip Pemimpin Redaksi sebuah media, di situ selalu ada kalimat penyerta: Penanggung Jawab. Artinya jika isi media itu berurusan dengan hukum, yang diadili dan masuk penjara ya Pemimpin Redaksi, bukan wartawan atau penulisnya. Ini pernah terjadi tahun 1970-an, ketika majalah Sastra milik HB Yasin menurunkan cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin. HB Yasin benar-benar masuk penjara, sementara siapa sesungguhnya Ki Panji Kusmin tersebut, HB Yasin konsisten tak mau membukanya.

Pemimpin Redaksi yang jadi imamnya penerbitan, memang juga hanya satu orang saja. Hanya koran Pos Kota tempat penulis bekerja, yang punya dua imam, yakni Imam Pamudjo dan Imam Subardi. Sudah lama saya tak bertemu mereka. Imam Subardi sudah meninggal beberapa tahun lalu, sedangkan Imam Pamudjo yang tinggal di Rawamangun, semoga saja masih hidup dan tetap panjang umur.

Imam itu bahasa Arab yang berarti pemimpin. Meski imam salat tanggungjawabnya tak sebesar imam negara (khalifah, presiden), tak semua orang bersedia menjadi iman salat. Tapi sudah menjadi kebiasaan kita, begitu pulang haji ke mesjid dengan gamis dan pakai sorban, langsung ditodong jadi imam. Ada yang langsung bisa, tapi ada pula yang grogi, sampai-sampai baca surat Alkafirun muter-muter tak kunjung selesai. Jemaah yang kesal sampai ada yang nyeletuk, “Lakum dinukum waliyadin-nya kapan nih?”

Setidaknya ada 9 syarat untuk menjadi imam salat. Di antaranya adalah: Lelaki akil baliq, berakal sehat, mampu membaca Qur’an dengan baik, terbebas dari hadats besar dan hadats kecil, juga  bukan musafir yakni orang yang bepergian sejauh minimal 85 Km dan bermukim tak lebih dari 4 hari.

Dari sejumlah persyaratan tersebut, penulis beberapa kali menemukan “pelanggaran” tak sengaja. Ada anak muda di lingkungan mesjid kami di kawasan Cipayung Jakarta Timur, yang dikenal rajin salat. Sayangnya dia anak autis. Tampangnya normal, tapi jika diajak ngomong selalu ngaco. Ke mana-mana nenteng termos air putih meski tak jelas konteksnya. Karena datang belakangan, pernah dia jadi salat subuh sendirian. Tiba-tiba ada jemaah menepuk bahunya dan jadi makmumlah pada anak muda yang tidak normal tersebut.

Bicara soal musafir, jadi ingat kejadian seminggu lalu di mesjid yang sama. Seorang ustadz senior karena dia termasuk perintis masjid tersebut sejak tahun 1985-an, ditegur pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid) setempat agar tak lagi menjadi imam, karena statusnya musafir. Sebab beliaunya sudah pindah ke Cianjur lebih dari 10 tahun lalu. Tapi Pak Ustadz masih ngeyel bahwa masih penduduk sini. Memang sih, meski usia sudah 70-an tahun, setiap hari Kamis pagi hingga Jumat sore beliaunya bawa mobil sendiri ke mesjid rintisannya dalam rangka menjadi imam.

Padahal maksud pengurus DKM sebenarnya adalah, Ustadz sudah tua, bacaan surat-suratnya sudah pelo, bahkan pernah jadi imam salat subuh tapi lupa baca surat Alfatikhah di rokaat ke dua. Jemaah sudah menyeru subhanallah berulang kali, beliaunya tak nyadar juga. Tetapi sejak Kamis pagi tadi Pak Ustadz sudah tidak hadir lagi, dan memang sejak 2 minggu lalu mesjid kami sudah memilik rawatib (imam tetap) sendiri.

Rawatib muda ini memang seorang hafidz (hafal Qur’an) dan irama bacaannya enak didengar. Jemaah senang-senang saja dia baca surat-surat panjang setiap subuh, karena bacaannya enak didengar dan tartil. Sebab ada ustadz yang ditandai oleh jemaah, bacaan suratnya panjang-panjang tapi iramanya tidak enak didengar. Sampai ada jemaah yang bersikap, setiap Rabu pagi memilih subuhan sendiri di rumah. Sebab salat berjamaah di mesjid pasti ketemu Pak Ustadz yang bacaan surat-suratnya panjang-panjang selalu, tapi tidak enak didengar. (Cantrik Metaram)

Advertisement