Jadi Sampah Pemuda

Sampah pemuda dan pemudi. Yang cantik dipoligami, yang jelek dijadikan tumbal sebagai teroris.

HARI ini, 28 Oktober 2022 kita memperingati Hari Supah Pemuda yang ke-94. Ini merupakan rentetan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Setelah Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, yang kemudian disusul peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928; bangsa Indonesia semakin matang dan mantap menuju cita-cita proklamasi yang terwujudkan 17 Agustus 1945. Mereka adalah para militan bangsa pada jamannya.

Sayangnya, setelah kita merdeka 77 tahun lamanya, semangat kejuangan anak bangsa banyak yang mengendor. Militansi bangsa Indonesia banyak yang berubah jadi imitasi. Dan di hari Sumpah Pemuda ini kita banyak menemukan sampah pemuda berserakan di mana-mana. Tiada guna, bahkan membebani dan menganca negara.

Penduduk Indonesia saat proklamasi tahun 1945, jumlahnya sekitar 61 juta jiwa, dari Sabang sampai Merauke. Ketika lembaga BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dibentuk pemerintah Orde Baru tahun 1970, jumlah penduduk mencapai 122,2 juta. Tahun 1998 ketika Orde Baru ambruk, sudah menjadi 205,7 juta. Dan setelah memasuki era reformasi dari 1998 hingga sekarang ini (data Juni 2022), jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,3 juta.

Ledakan penduduk sebanyak itu pemerintah mengemasnya dalam bahasa menghibur sebagai: bonus demografi. Bonus uang dan barang selalu menyenangkan, tapi bonus ledakan penduduk? Justru bikin pusing pemerintah. Soalnya negara tak hanya  harus memikirkan bagaimana kasih makan, tapi juga pendidikan, kesehatan, keamanan, perumahan yang intinya semua bermuara demi kesejahteraan rakyatnya.

Dari jumlah penduduk sebanyak itu yang berusia muda antara 20-35 tahun jumlahnya mencapai 66,9 juta jiwa. Bagi kalangan Capres 2024, ini merupakan ceruk suara untuk memilih dirinya. Tapi bagi pemerintah, khususnya Kementrian Tenaga Kerja, justru menumbuhkan pertanyaan, jumlah angkatan muda sebanyak itu sudah tertampung di kantor-kantor dan pabrik apa belum?

Jika mereka generasi muda penuh militansi sebagaimana disebut di awal tulisan, itu merupakan bonus bagi negara. Tapi jika jadi pengangguran yang masih membebani keluarga, negara pun terdampak karenanya. Mereka ini sangat berpotensi terjerumus ke perilaku kriminal karena terlibat pencurian, pengedar dan pemakai narkoba sampai kejahatan seksual. Mereka inilah yang disebut generasi sampah pemuda, atau pemuda sampah.

Paling berbahaya adalah, manakala sampah pemuda itu sudah terjerumus pada tindakan yang merusak keutuhan NKRI. Gara-gara ikut pengajian yang salah, dia malah jadi memusuhi dan menyalahkan negara. Mereka dicekoki paham khilafah, sehingga menganggap semuanya akan selesai bila Indonesia dijadikan negara Islam dan Pancasila dihapuskan.

Sampah pemuda dan pemudi itu salah satunya si Siti Elina (25) yang beberapa hari lalu (25/10) ditangkap polisi di depan Istana Negara. Gara-garanya, perempuan bercadar tersebut menodongkan pistol ke Paspampres dan berusaha masuk ke Istana untuk bertemu Presiden Jokowi. Mau ngapain? Katanya untuk menyampaikan pesan agar Presiden mengganti Pancasila dan menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah.

Enak betul ngomongnya macam ahlinya ahli. Anak kemarin sore saja kok mau mengajari Presiden. Kalau mau, sudah dari tahun 1945 Presiden Sukarno menjadikan Indonesia sebagai negara Islam seperti maunya antum. Meski ada usulan semacam itu, tapi Bung Karno waktu itu menolak dengan tegas. Sebab Indonesia merdeka bukan hanya diperjuangkan oleh kelompok Islam semata. Tokoh-tokoh pejuang bangsa juga banyak dari agama non Islam.

Sampah-sampah pemuda dan pemudi macam Siti Elina itulah yang harus diwaspadai. Jangankan perempuan nggak jelas macam dia, yang berpendidikan tinggi seperti mahasiswa dan dosen, ternyata juga banyak kampus PTN yang tercemar sampah-sampah pemuda. Mereka pendukung HTI, dan NII yang sudah dibubarkan pemerintah.

Maka benar kata Alifurrahman, Youtuber di Seword.Com, begitu anehnya kelakuan kelompok radikal ini. Yang cantik direkrut untuk dipoligami, sedangkan yang jelek-jelek dijadikan tumbal sebagai teroris. Faktanya, Siti Elina dan sejumlah wanita bercadar yang pernah ditangkap dan ditembak mati beberapa waktu lalu, mereka semua memang bertampang sangat standar. Wajahnya pas-pasan, pemikirannya pas-pasan pula. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement