Menjadi Tua Yang Sejahtera

Ilustrasi : Lansia

SEJAK September 2016 lalu warga lansia (lanjut usia) di Jakarta dapat fasilitas naik busway gratis. Dengan tunjukkan KTP seumur hidup (60 tahun ke atas), kakek- nenek, opa-oma, yangkung-yangti; bebas naik busway sampai gempor keliling Jakarta tanpa bayar. Begitulah salah satu cara Gubernur Ahok hendak mensejahterakan warga lansia di Ibukota.

Kakek-nenek cap apapun selalu mengharapkan bisa hidup sejahtera di hari tua. Sehat badan, sehat kantong dan sehat pikiran. Itu memang kemauan dan keinginan yang wajar setiap manusia. Tapi tak semuanya bisa terpenuhi. Jangankan bisa sehat badan, kantong dan pemikiran; bahkan usia tua 60 tahun ke atas saja tak semunya bisa mencapai. Target (baca: keinginan) sering tak sebanding dengan omset (baca: jatah umur). Ketika masih banyak yang diinginkan, tahu-tahu Izroil datang memanggil.

Panggilan Pengadilan untuk jadi saksi sidang penistaan agama di Gedung Kementrian Pertanian, masih bisa ditunda bahkan mangkir. Tapi panggilan Allah Swt semenit pun tak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Allah telah berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Surat Al ‘A’raf ayat 34.)

Target para lansia sebetulnya tidak banyak. Anak keturunan jadi semua, bukan hanya jadi-jadian. Kemudian: sehat badan, sehat kantong dan sehat pikiran. Setelah semua ini terpenuhi, nantinya ketika sudah dipanggil Sang Khaliq pun ……masuk surga janatun naim, tanpa hisab lagi. Kata para ulama, setiap lelaki di sana akan dilayani 2 istri dari dunia dan 70 bidadari. Ini benar-benar bahagia dunia akhirat.

Bila bisa mencapai dua-duanya, alhamdulillah. Jangankan masalah akhirat, urusan duniawi saja banyak para lansia empot-empotan untuk menggapainya. Tak semuanya bisa: sehat badan, sehat kantong dan sehat pikiran. Ada yang kantongnya sehat, badan sehat, tapi pikiran rada kenthir (tidak waras). Ada juga yang tak punya masalah dalam hal badan dan pikiran, tapi justru bermasalah pada kantongnya. Ini paling lazim. Sebab sudah menjadi hukum alam, usia makin bertambah, pendapatan semakin berkurang.

Ketika kantongnya bermasalah, biasanya kesehatan juga ikut-ikutan bermasalah. Ditambah lagi sebuah penyakit keniscayaan para manula, yakni B-5 alias: budheg, beser, blawur (penglihatan kabur), buyuten (jalan mulai tak stabil), bengek dan ditambah 3 B lagi, yakni brat bret brottt…. alias kentut melulu.

Dalam usia lansia, manusia ada kecenderungan membentuk komunitas tersendiri, berkumpul dengan teman-teman seusia. Misalnya berkesenian main musik kroncong, jalan pagi bersama. Atau juga ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, mengenai penyakit dan obat kuat lelaki. Maklum, kebanyakan kaum lansia, istri bukan lagi sebagai “pandangan” hidup atau “pegangan” hidup, melainkan menjadi “perjuangan” hidup.

Banyak juga yang punya kecenderungan pulang kampung, ke tempat asal kelahirannya dulu. Bahagianya bukan main ketika ketemu teman lama, teman sepermainan dulu. Di situlah mereka bernostalgia. Itu jika teman lama masih ada. Jika sudah banyak mendahului kita, paling-paling bisanya tinggal mengheningkan cipta. Seminggu dua minggu masih betah di desa, selebihnya ingin kembali ke kota, karena kangen pada anak-anak dan cucu.

Ibarat padi, semakin tua semakin merunduk. Semakin santun, karena semakin banyak ilmu, paling tidak ilmu kehidupan yang tak pernah ada dipelajari di bangku sekolah. Mulailah si manula ini mbegawan, jadi tempatnya orang bertanya, menjadi medannya kawula muda berkonsultasi. Orang Jawa bilang, tak bisa uwur (memberi bantuan materi) cukuplah sembur (nasihat). Paling celaka adalah tuwa tuwas, yakni usia semakin lanjut tetapi kelakuannya justru bikin malu anak cucu. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement