
BANYAK orang berhasil jadi menteri, tapi selama ini belum pernah ada yang menjadi menteri terbaik sedunia. Barulah Menkeu Sri Mulyani Indrawati yang memperoleh predikat itu. Minggu lalu dia ditahbisikan sebagai Menteri Terbaik Sedunia (Best Minister in the World Award) di World Government Summit yang diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh pemimpin Dubai, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum.
Karena warisan penjajahan, orang Indonesia sering mengacaukan antara menteri dan mantri. Padahal itu dua jabatan yang sangat berbeda, ya prestise ya gaji yang diterima. Menteri hanya ada di pusat pemerintahan Jakarta, sedangkan mantri ombyokan sampai ke tingkat kecamatan. Ada mantri polisi, mantri kesehatan, mantri kewan (hewan), mantri pengairan.
Tapi semenjak Orde Baru “pangkat” seperti itu lambat laun menghilang. Misalnya saja, mantri polisi kini biasa disebut Kapolsek (Kepala Kepolisian Sektor). Mantri Kesehatan, kini disebut Kepala Puskesmas. Jaman Orde Baru, karena keterbatasan tenaga dokter, asal pernah memperoleh pendidikan Ilmu Kesehatan, bisa menjadi Kepala Puskesmas. Tapi sekarang, seorang Kepala Puskesmas mesti seorang bertitel dokter (dr), bukan doktor (DR).
Jabatan mantri yang menentukan kepala dinas. Tapi menteri, yang menentukan seorang presiden, karena itu merupakan hak prerogratifnya. Di masa Orde Lama, jabatan menteri sering hanya seumur jagung, karena sering berganti-gantinya kabinet. Ajeg lima tahunan baru di masa Orde Baru. Masuk era reformasi, kembali banyak menteri numpang lewat, karena sedikit-sedikit ada reshuffle, sedikit-sedikit ada reshuffle. Kenapa reshuffle hanya sedikit?
Karena hak prerogratif seorang presiden, jabatan menteri tak ada sekolahnya. Yang bergelar Profesor Doktor, belum tentu bisa jadi menteri. Sebaliknya yang hanya berbasis SMA atau bahkan SMA saja tak selesai, ada saja yang jadi menteri. Nasib mujur itu dialami misalnya oleh Harmoko di era Presiden Soeharto, dan Susi Pudjiastuti di era Presiden Jokowi sekarang.
Mereka ini sosok menteri yang pendidikannya mini, tapi kinerjanya maksi. Bedanya adalah, Harmoko bisa jadi Menteri Penerangan sampai 3 periode, karena selalu mengikuti petunjuk bapak presiden. Sedangkan Susi Pudjiastuti, bisa jadi Menteri Kelautan & Perikanan karena Jokowi menurut pada “petunjuk Tuhan”. Jika tidak, mana mungkin berani merekrut menteri yang hanya lulusan SMP. Dan ternyata benar, di Kabinet Kerja Susi sering sekali tenggelamkan kapal pencuri ikan, sementara ada juga menteri yang tenggelam namanya.
Susi Pudjiastuti memang termasuk menteri berprestasi di kabinet Jokowi, di samping Sri Mulyani Indrawati sang Menteri Keuangan. Dan minggu ini namanya demikian ngetop-markotop, karena berhasil meraih penghargaan Best Minister in the World Award. Bayangkan, dari beratus-ratus negara di dunia, hanya Sri Mulyani lah yang dinilai terbaik sedunia.
Sri Mulyani memang layak menerima penghargaan itu. Dialah menteri yang berani tekor sebagai pejabat tinggi negara. Jika mau enak, buat apa melepaskan jabatan Direktur Bank Dunia yang bergaji Rp 8,192 miliar setahun. Tapi karena ingin berbakti pada negaranya, dia mau dibujuk Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Keuangan RI yang bergaji hanya sekitar Rp 19 juta sebulan atau Rp 228 juta setahun. Dia memang pernah mengatakan, “Jangan pernah lelah mencintai negara ini.” (Cantrik Metaram)




