TANPA terasa kita sudah 73 tahun menjadi bangsa yang merdeka. Seperti biasa, hari ini Presiden Jokowi akan menyampaikan pidato tahunan di depan DPR-DPD. Tentunya akan disinggung pula tentang utang-utang negara untuk melanjutkan pembangunan pisik dan mental. Maklumlah kita belum bisa sepenuhnya membiayai APBN dari kantong negara sepenuhnya. Walhasil, sejak kita merdeka 73 tahun lalu hingga kini, kita baru merdeka dari penjajahan, belum merdeka dari utang. Pemerintah dan rakyatnya sama saja, sama-sama gemar berutang.
Kata orang, terutama dari kelompok lambe nggambleh dan lambe turah, meski setiap bayi lahir akan selalu menangis, tapi tangisan bayi Indonesia bila diperhatikan terasa lebih kencang dan menyentak. Kenapa bisa begitu, sebab begitu si bayi lahir menghirup udara Indonesia, dia sudah terbebani utang negara.
Ada juga cerita lain, di negeri Entah Berentah digelar lomba menangis untuk balita. Juaranya adalah balita yang tahan tidak meangis meski disakiti dan diteror. Dari berbagai negara balita-balita itu diikutkan, dan berguguran. Tapi balita Indinesia luar biasa. Meski dicubit, dijewer, dan diomeli macam-macam, tak juga menangis. Tapi tiba-tiba dia tiba-tiba menangis kencang sampai berguling-guling. Dewan juri pun heran, kenapa bisa begitu. Apa rahasianya? Ternyata balita itu hanya dibisiki kata: ssttt…., utang negaramu sekarang Rp 4.000 triliun lho…..
Hingga Juni 2018 utang Indonesia tercatat mencapai Rp 4.996 triliun. Maka beberapa waktu lalu setengah berkelakar Menkeu Sri Mulyani pernah bilang, setiap jiwa penduduk Indonesia, meski bayi yang baru lahir cengerrrrr……sudah dibebani utang Rp 13 juta. Maka jika pemerintah terus menambah utang demi infrastruktur, bayi-bayi Indonesia utangnya bisa naik lagi sehingga lebih dari Rp 13 juta.
Di jaman awal-awal Orde Baru, Mentri Perdagangan Sumitro pernah diprotes rakyat karena utang pemerintah makin membengkak. Tapi mentri bapaknya Prabowo ini menjawab santai saja, “Saya saja yang jadi mentrinya tidak pusing, kenapa kalian jadi repot? Dan faktanya, utang dari era Orde Baru itu belum juga impas, karena orde reformasi juga makin rajin menambah utang.
Karena utang sudah menjadi kebiasaan pemerintah, rakyatnya juga ikut-ikutan demen utang. Kegemaran berutang menjadi budaya ketika perbankan dan perusahaan pembiayaan juga memfasilitasi rakyat Indonesia berutang. Dari rumah BTN, mobil, alat-alat rumahtangga, semua diperoleh dengan utang (kredit). Maka perhatikan, sepeda motor atau mobil sekarang knalpotnya kebanyakan berbunyi: dit, dit, dit…… itu maksudnya bolehnya ngredit.
Meski utang dipermudah, tapi harus sesuai dengan ratio kemampuan bayar. Nilai aset di rumah hanya Rp 1 miliar misalnya, pinjam bank sampai Rp 750 juta, jelas takkan diberi, karena potensi gagal bayar sangat besar. Pinjam uang di bank dengan data pendukung strok gaji dari kantor tempartnya bekerja, kebanyakan dimanipulasi. Gaji hanya Rp 10 juta sebulan, ngakunya atau ditulis Rp 15 juta. Ini terjadi di mana-mana, dan sudah menjadi kebohongan nasional.
Ungkapan lama mengatakan: hutang emas bisa dibayar, hutang budi dibawa mati. Itu tak bisa dibantah, sebab utang emas jelas tolok ukurnya, utang 100 gram kembali 100 gram ditambah bunga jika memang ada kesepakatan. Tapi berutang budi, belum tentu kita bisa membayar (membalas)-nya lagi. Misalnya kita kecelakaan di jalan karena kesrempet Honda, yang menolong membawa ke rumahsakit siapa, kita sama sekali tidak tahu karena dalam kondisi pingsan. Walhasil sampai kita mati, takkan bisa membalasnya.
Maka orangtua suka menasihati, hidup hanya sekali, jangan suka berutang. Orang Jawa juga punya filosofi: mangan penak, turu kepenak, ngising uga kepenak. Semua itu bisa dicapai salah satunya dengan menghindari atau merdeka utang., punya keadaulatan kantong. Sebab yang namanya utang, akan membuat kita selalu ingat akan utang itu, apa lagi jika tak punya potensi untuk membayarnya. Baru ketemu yang memberi utang langsung sport jantung, padahal dianya bukan hendak menagih. (Cantrik Metaram)





