Mereka yang “Tertebus” dari Sekolah

Penyerahan bantuan tebus ijazah Norisman dari LPM Dompet Dhuafa

JAKARTA—Sudah menyelesaikan bangku sekolah, tapi nasibnya masih menggantung. Begitulah yang dialami Norisman, pemuda lulusan SMK Asy Syurur Cijeruk, Bogor. Meski sudah dinyatakan lulus Ujian Nasional, ia belum bisa mengantongi ijazah. Ia pun tak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya hanya karena selembar ijazah.

Apa yang dialami Norisman juga dirasakan ratusan atau bahkan ribuan pemuda lainnya. Mereka terhalang masa depannya karena tidak memiliki lembar pengakuan dari pemerintah itu. Bukan karena kecerdasan yang terbatas, melainkan kemampuan financial yang menjadi penghalang. Sepanjang 2016 saja, ada 20 ijazah anak-anak dhuafa yang sudah ditebus oleh Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, lewat program reguler, “Tebus Ijazah.”

“Nilai tebusan beragam, rata-rata nilai tunggakan di atas Rp 1 juta, ” ungkap Rifky, Manager Program LPM Dompet Dhuafa, seusai menebus ijazah Norisman, alumni SMK Asy Syukur, Cijeruk, Bogor.

Dikatakan Rifky, ijazah yang ditebus tentu ijazah yang dapat digunakan untuk mencari kerja dan kuliah. “Jadi ijazah yang dapat digunakan untuk kehidupan bukan untuk kenangan,” terang Rifky.

Ada yang ijazah tidak diambil karena menunggak di sekolah, tapi tamatan, 1990 an, tentu tidak masuk program. “Itu hanya untuk sekedar kenangan aja, orangnya udah punya cucu, kalau  yang kayak gini tidak masuk kategori,” tutur Rifky.

Fenomena ijazah ditahan pihak sekolah karena tidak mampu membayar, ternyata fenomena gunung es. “Kasus ini banyak hanya sedikit yang terungkap, LPM tahun 2015 ada sekitar 30 ijazah, tahun 2016 ada 20 ijazah. Itu karena ada yang lapor, kalau yang tidak mengajukan ke Dompet Dhuafa tentu banyak,” pungkasnya.

Advertisement