
JAKARTA (KBK) – Meskipun dilarang di negara Malaysia dan menjadi sorotan di negara-negara muslim di dunia, di Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia tetap membolehkan Film Beauty and The Beast untuk diputarkan di bioskop-bioskop di Indonesia.
Film tersebut akan tetap tayang pada Jumat (17/3/2017) dengan klasifikasi usia 13+ dan tanpa sensor.
Seperti dikutip dari VivaNews, Catherine Keng, Corporate Secretary dari Cinema XXI menjelaskan, Beauty and the Beast sudah dinyatakan lulus sensor secara konten sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Untuk Beauty and the Beast secara konten sudah lulus sensor kategori umur 13+. So far udah disensor oleh Lembaga Sensor, bahkan sensor 2x,” katanya Senin, 13 Februari 2017, lalu.
Seperti dikutip dari Antara, beberapa kelompok umat Islam di Indonesia telah meluncurkan protes pada pertunjukan hiburan Barat di masa lalu, yang mengarah pada pembatalan misalnya konser bintang pop Lady Gaga pada tahun 2012.
Film Beauty and the beast diluncurkan di China dan India pada Jumat (117/3/2017). Di India, film itu telah diberi rating U / A yang berarti bebas bagi masyarakat tetapi dengan bimbingan untuk anak di bawah 12 tahun.
Kemunculan karakter gay di film remake dari versi animasi tahun 1991 itu telah memicu seruan boikot di antara beberapa kelompok ultra-konservatif di seluruh dunia.
Seorang pendeta evangelist Amerika Serikat mengatakan pekan lalu bahwa film itu mencoba untuk mempromosikan agenda LGBT (lesbjan, gay, biseksual dan transgender) untuk anak-anak.
Lyle Shelton, direktur kelompok konservatif Australia Christian Lobby, mengatakan prihatin dengan laporan adanya “Konten seksual” di film itu tapi ia mengatakan tidak akan memulai kampanye publik untuk menentangnya.
“Ada banyak pertempuran. Ini hanyalah salah satu dari banyak hal dalam budaya kita yang mengabaikan kepolosan anak-anak, “katanya kepada Reuters.
Sementara itu, Kantor Komunikasi Keuskupan Agung Katolik Roma Singapura memperingatkan pemirsa tentang isi “Beauty and the Beast “.
“Dengan laporan media yang luas yang diklaim sebagai momen gay di film ini, kami percaya bahwa orang tua harus membahas dan menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang apakah gaya hidup yang digambarkan selaras dengan ajaran Kristus,” katanya dalam sebuah pernyataan.




