MOJOKERTO – Kekeringan dialami warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto meski mereka berada di lereng Gunung Penanggungan, hanya ada beberapa titik lokasi saja yang terdeteksi mengandung air.
Kekeringan terjadi karena debit air tak sederas aliran pada umumnya. Saat musim kemarau seperti ini, beberapa titik lokasi yang terdeteksi mengandung air juga mengalami kekeringan.
Tandon yang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, untuk menampung air pun hanya ditaruh di beberapa titik yang dinilai rawan kekeringan.
Seperti, Dusun Telogo, Dusun Kunjoro dan Dusun Sumber. Untuk itu, warga yang berada di bawah memilih membeli air dari Sumber Tetek di Kabupaten Pasuruan, daripada ke Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto di sisi barat. Pertimbangannya tidak lain adalah jarak tempuh yang cukup jauh.
Bahkan, hanya ada satu tanki air saja yang berani mendistribusikan air bersih ke wilayah ini. Jalan yang berkelok-kelok, curam dan sempit, menjadi alasan tersendiri bagi sopir. Tangki tersebut yakni milik Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mojokerto.
Dengan memanfaatkan Water Cannon dengan kapasitas 6.000 liter, Polres Mojokerto menyalurkan air bersih ke Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi. Tidak hanya menggunakan water cannon, Polres juga mendistribusikan air bersih dengan tanki yang dalam penyalurannya akan dilakukan secara bertahap.
Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, mengingat medan yang cukup curam dan berkelok, yang bisa mencapai ke plosok lereng gunung hanya tanki. “Sedangkan water cannon dimanfaatkan untuk penduduk yang wilayahnya tidak terlalu curam,” ungkapnya, Rabu (30/8/2017).
Sementara itu, Kepala Desa Kunjorowesi Susidarsono mengatakan, hanya ada beberapa titik lokasi di Desa Kunjorowesi yang terdapat sumber air. “Tapi itupun dengan kedalaman 250 meter, dengan debit air yang keluar hanya sedikit. Ditambah saat ini musim kemarau, air tak keluar sama sekali,” ujarnya, dikutip beritajatim.





