Migor Pun di-BLT-kan.

Presiden Jokowi bagikan BLT migor di Pasar Angsa Duo Jambi didampingi ibu negara Iriana.

        

KURANG apa pemerintah? Karena Mendag M. Lutfi gagal menstabilkan harga migor (minyak goreng), Presiden Jokowi turun tangan. Pemerintah bulan April ini menggelontorkan BLT migor dalam bentuk uang tunai sebesar Rp 300.000,- Kesannya ini sekedar pengobat kecewa akibat kebijakan salah Kemendag. Tapi lumayanlah, kelurga miskin tetap bisa goreng menggoreng menghadapi Lebaran 1443 H.

BLT migor ini memang untuk keluarga miskin dan PKL khusus penjual gorengan, tidak termasuk tukang menggoreng isyu lho ya! Tukang memanas-manasi situasi sih tak perlu migor, meski mereka juga demen gorengan yang masih panas-panas. Celakanya, sejumlah menteri kabinet Jokowi juga ada yang demen menggoreng isyu Jokowi 3 periode dan Pemilu ditunda.

Mahalnya migor ini semua berawal dari gebrakan Mendag M. Lutfi, tapi malah bikin rakyat gebrak meja. Katanya mau bikin migor satu harga macam bensin di Papua, tapi gagal. Ganti kebijakan HET macam semen jaman Orde Baru, gagal juga. Akibatnya migor kemasan jadi seperti demit. Ketika harga dipaksa murah, langsung menghilang. Giliran dikasih harga mahal, mendadak migor nampak berjajar di rak-rak pertokoan.

Rakyat pun bertanya-tanya, terutama kaum ibu, ini permainan siapa? Alasan produk kelapa sawit menurun, jadi tak masuk akal karena faktanya begitu harga mahal migor jadi membanjir lagi. Rakyat pun “terhibur” ketika Mendag M. Lutfi bilang sudah tahu siapa mafianya, nanti akan segera diumumkan. Tapi ganti hari sudah berganti alasan, nanti yang akan mengumumkan polisi. Celakanya, hari berikutnya lagi pihak kepolisian bilang, “Tidak ada mafia itu!” Kaco, masak menteri ngeprank rakyat?

Jika menterinya buang badan, bagaimana rakyat mencari solusi. Mengikuti anjuran Megawati agar jangan harga mati makanan harus digoreng, ada netizen yang menyindir merebus peyek di kuali. Tapi yang masuk logika, di Youtube kemudian bertebaran cara bikin minyak goreng dengan santen kelapa. Ini sih kembali pada cara lama orang desa bikin minyak kelapa, yang di daerah Purworejo disebut krengsengan.

Minyak goreng krengsengan, di Yogyakarta sebelum tahun 1970 produk semacam ini merk Bu Harso sering diiklankan di RRI Yogya. Ampasnya disebut blondho, ini rasanya gurih dan sedep. Sedangkan minyak goreng berasal dari parutan kelapa yang istilahnya ngoger, ampasnya disebut bungkil. Ketika digoreng dengan bumbu pedes, enak juga.

Rupanya Presiden Jokowi ikut kasihan juga atas tidak siapnya rakyat dengan mahalnya migor kemasan. Katakanlah sebagai tamba gela atau pengobat kecewa, pemerintah siapkan dana Rp 6,2 triliun untuk BLT Migor ini, diambilkan dari pos PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional). Dana tersebut dialokasikan untuk 20,65 juta keluarga penerima PKH (Program Keluarga Harapan) dan bantuan sosial pangan. Ketemunya setiap keluarga akan menerima Rp 300.000,- atau Rp 100.000,- sebulan, selama 3 bulan (April, Mei, Juni).

Beberapa hari lalu (07/04) Presiden Jokowi ke Jambi, mengunjungi Pasar Rakyat Angsa Duo Kota Jambi. Di sana beliau menyerahkan BLT Rp 300.000,- dan BMK (Bantuan Modal Kerja) sebesar R 1,2 juta. Presiden minta BLT tersebut bisa merata di bagikan ke seluruh Indonesia, paling lambat seminggu sebelum Lebaran sudah terbagikan semua. Pokoknya di hari Lebaran semua rakyat harus bergembira, baik yang terima THR maupun tidak.

Meski BLT dan BMK itu diberikan untuk meringankan beban rakyat, tapi kira-kira apakah semua bantuan tersebut digunakan sesuai tujuannya? Belum tentu! Bisa saja sebagian dimanfaatkan untuk beli baju Lebaran, bahkan pulsa paketan. Sebab toh tidak ada laporan pertanggungan jawabnya sebagai Dana Desa. Sekedar contoh, dana Kartu Prakerja Rp 3,5 juta juga tak jelas pemanfaatannya.

Nah, para keluarga miskin yang  masuk dalam daftar penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan PKH sekarang boleh nyicil ayem (merasa senang), sebab tak lama lagi dapat “duwit enak” dari pemerintah. Ketentuan ini juga berlaku bagi 2,5 juta pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan makanan gorengan. Dengan bantuan ini diharapkan tempe gorengnya tidak semakin tipis macam silet. Begitu juga tahu bulat digoreng dadakan harganya juga bisa tetap Rp 500,- (Cantrik Metaram)

 

 

Advertisement