Militer Taiwan Hadapi Raksasa China

Walau tak sebanding, militer Taiwan terus mengasah diri untuk menghadapi ancaman invasi raksasa China

TAIWAN jika dihadapkan dengan mesin perang raksasa China yang saat ini terus membangun militernya menjadi kekuatan global, bagaikan legenda “David dan Goliath” di era Palestina tempo doeloe.

Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya tersebut, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.

Mengacu pada ranking kekuatan militer dunia versi Global Firepower, posisi China dan Taiwan bagai langit dan bumi. China bertengger pada ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.

AB China dengan anggaran belanja militer 224 milyar dollar AS (sekitar Rp3.228 triliun atau setara 1,5 kali APBN Indonesia) didukung tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk satu kapal induk, 76 kapal selam dan AD memiliki 13.500 tank, ribuan artileri dan peluncur roket.

Ambisi China menguasai dunia, tampak nyata, mulai dari sekedar membeli persenjataan ex-Uni Soviet, kemudian meniru atau memperoleh lisensi dan selanjutnya membuat sendiri, bahkan kini sudah menjadi negara pengekspor alutsista utama.

Selain membangun kekuatan nuklirnya, China ikut bersaing dalam lomba persenjataan konvensional, misalnya pesawat tempur generasi ke-5 “elang hitam” Chengdu J-20 buatannya yang berkemampuan siluman dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.

Sebaliknya, kekuatan Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang, empat kapal selam dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga menggunakan teknologi mutakhir.

AU Taiwan mengandalkan lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur” F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, pesawat Mirage 2000 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya setara dengan F-16.

Menurut catatan, anggaran pertahanan Taiwan sebesar 346 milyar dollar Taiwan atau sekitar Rp167 triliun per tahun atau sedikit lebih besar dari anggaran pertahanan RI sebesar Rp110 triliun.

Taktik asimetris
Sadar, tidak sebanding untuk berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan raksasa mesin perang China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin.

Hal itu tampak dalam latihan perang yang digelar di Provinsi Changhua, Selasa lalu (28/5) dimana jalan raya dengan cepat bisa berubah fungsi menjadi pangkalan udara dan landas pacu pesawat-pesawat tempur.

“Jalan raya menjadi prioritas alternatif bagi pengoperasian pesawat udara jika pangkalan-pangkalan udara dihancurkan musuh, “ kata seorang perwira menengah AU Taiwan.

Dari simulasi perang itu, tampak Taiwan akan menggunakan kekuatannya yang terbatas secara efektif dan efisien, “bertahan selama mungkin dan mengakibatkan kerugian besar bagi penyerang”

Hal itu bisa dipahami, karena jika Taiwan diserang China, tentu AS sebagai pelindung utama, juga sekutu-sekutunya yang lain, tidak bakal tinggal diam.

Jadi skenario Taiwan, bertahan pada awal-awal serangan dengan menciptakan kerugian besar pada musuh, selanjutnya; “tunggu saja, pasti bantuan akan tiba!”

Sebaliknya, petinggi militer China tentu juga paham, menyerang Taiwan, harus memperhitungkan pula, siapa-siapa saja di belakangnya.

Perang adalah kegiatan perusakan, penghancuran dan pemusnahan yang harus dihindari, walau di sisi lain mungkin menjadi permainan, adu strategi, adu taktik dan adu cerdik serta adu teknologi. (AP/AFP/ns)

Advertisement