Misteri Kapal Penjelajah RI Irian

Penjelajah RI Irian, kapal perang terbesar yang pernah dimiliki TNI-AL. (13.640 Ton), nasibnya menyedihkan. Konon dijual keTaiwan atau Jepang sebagai besi tua karena kurangnya biaya perawatan dan suku cadang.

TNI-AL menjelang kampanye merebut Irian Barat pada era ’60-an pernah memiliki kapal penjelajah (cruiser) kelas Sverdov buatan Uni Soviet yang membuat gentar nyali Belanda, pihak musuh saat itu.

Sampai saat ini, RI Irian masih menjadi kapal perang terbesar yang pernah dimiliki TNI-AL. Kapal-kapal perang lainnya adalah kelas di bawahnya seperti fregat, korvet dan kapal patroli yang lebih kecil.

Sebanyak 14 kapal dari kelas yang sama dibangun oleh Uni Soviet sejak 1949 sebelum distop sekitar 1960 karena dianggap sudah kuno sejalan berkembangnya rudal-rudal anti kapal yang mengancam kapal-kapal bertonase besar.

RI Irian dengan bobot 13.640 ton, panjang 220 meter dan lebar 22 meter digerakkan oleh dua turbin uap yang menghasilkan kecepatan rata-rata 18 knot, dilengkapi dengan berbagai radar penjejak pesawat udara dan pemandu tembakan.

Sesuai kelasnya sebagai kapal penjelajah, KRI Irian dipersenjatai dengan 12 kanon kaliber 152mm masing-masing tiga pucuk di empat kubahnya, 10 tabung torpedo 533mm, enam kubah dengan meriam laras ganda kaliber 100 mm dan 32 pucuk penangkis serangan udara ringan 37 mm.

Saat dioperasikan armada Baltik AL Uni Soviet, KRI Irian bernama Ordzhonikidze dengan nomor lambung 310, diambil dari nama Menteri Industri Berat era Joseph Stalin, Grigory Ordzhonikidze.

Kapal ini dibuat di galangan kapal Admiralty, Leningrad. Peletakan lunas pertama dilakukan tanggal 9 Oktober 1949, diluncurkan pada 17 September 1950, dan pertama kali dioperasikan pada 30 Juni 1952.

Sebelum dibeli, pihak Indonesia meminta kapal tersebut dimodifikasi agar bisa dioperasikan di wilayah tropis sampai suhu 40 derajat C, namun tidak bisa dipenuhi seluruhnya karena biayanya yang terlalu besar.

Akhirnya, disepakati modifikasi dilakukan dengan memasang generator yang lebih kuat guna menggerakkan ventilator tambahan, agar suhu udara di atas kapal cukup nyaman bagi para awaknya.

Tidak diketahui berapa harga KRI Irian, karena pembeliannya satu paket pinjaman bernilai milyaran dollar AS dengan alutsista lain termasuk pesawat-pesawat tempur MiG-15, MiG-17, MiG-19, MiG-21 dan pembom TU-16 untuk digunakan merebut Irian Barat.

Kehadiran KRI Irian dan belasan kapal selam dan kekuatan udara TNI-AU yang dipersiapkan untuk merebut Irian Barat, agaknya mendorong AS untuk membujuk Belanda duduk di meja perundingan.

Belanda sebagai salah satu anggota NATO, sebenarnya saat itu juga sudah siap saiaga mempertahankan Irian Barat dengan mengirimkan kapal induk Karel Doorman dan sejumlah kapal perang serta ribuan pasukannya.

Ternyata tidak mudah untuk menangani kapal KRI Irian yang teknologinya terbilang baru bagi TNI-AL, sehingga sejak bertugas pada 1962, dilakukan “trial and error”, malah pernah menabrak kapal selam yang muncul ke permukaan.

Mungkin juga akibat perawatan dan penanganan yang kurang memadai, tiga dari enam boilernya rusak sebelum setahun kapal digunakan sehingga keandalan operasionalnya menurun.

Bahkan selang dua tahun setelah pengoperasiannya (Maret 1964), RI Irian dianggap sudah tidak laik laut sehingga ditarik kembali ke pelabuhan Vladivostok, Soviet untuk diperbaiki dan baru kemudian difungsikan kembali oleh TNI-AL usai perbaikan (Agustus 1964).

Terbengkalai, tidak terawat
Pasca peristiwa G30S/PKI pada 1965, di tengah himpitan ekonomi sehingga biaya perawatan minim dan kesulitan suku cadang akibat memburuknya hubungan dengan Soviet, perawatan RI Irian terbengkalai.

Pada era tersebut kemampuan ekonomi sangat terbatas, investasi asing masih langka, bahkan sebagian PMA dinasionalisasi, inflasi tidak terkendali. Boro-boro untuk biaya perawatan kapal yang begitu besar, sedangkan gaji PNS dan juga tentara saja, sangat cekak.

Nasib kapal perang terbesar di jajaran TNI-AL itu semakin miris di tahun-tahun berikutya, lebih banyak sandar karena kelangkaan sukucadang dan mahalnya biaya operasi, dan kabarnya kapal RI Irian dijadikan rumah tahanan sementara bagi tapol PKI.

Tidak RI Irian saja, kapal-kapal perang lainnya dan berbagai jenis pesawat MiG dan pembom TU-16 KS mangkrak, tidak terawat akibat minimnya anggaran dan juga renggangnya hubungan dengan Soviet pasca G30S.

Bahkan menjelang dekade ’70-an, kabarnya sebagian palka RI Irian sudah digenangi air karena kebocoran di sana-sini, sementara pompa-pompa air tidak berfungsi.

Tidak jelas apa yang terjadi selanjutnya, karena walau berdasarkan perjanjian dengan Soviet, kapal RI Irian tidak bisa dialihkan ke pihak ketiga, kabarnya kapal kebanggaan RI itu dijual sebagai besi tua.

Satu versi cerita menyebutkan, konon RI Irian dijual ke Taiwan atau Jepang sebagai besi tua, namun ada kabar burung yang menyebutkan, kapal ditenggelamkan oleh Soviet di tengah perjalanan menuju negara pembeli. Entah, wallahualam, mana yang benar.

Selain melegenda saat menjadi milik TNI-AL, RI Irian juga pernah ditautkan dengan kisah mata-mata di era Perang Dingin lalu yakni hilangnya penyelam Inggeris Lionel Crab di pelabuhan Portsmouth, Inggeris pada 19 April 1956.

Crab yang mantan pasukan katak Inggeris diduga dibunuh oleh pihak Soviet usai melakukan pengintaian bawah air terhadap kapal Ordonikidze yang membawa PM Nikita Kruschev dalam lawatannya ke ke sana.

Menurut pengakuannya sendiri mengutip dari seorang saksi sebelum dinyatakan hilang, Crab yang sudah pensiun dari AL Inggeris itu dibayar untuk melakukan pengintaian di bawah lunas Ordzhonikidze.

Sejumlah tokoh seperti Laksamana (Purn) Widodo AS yang pernah menjabat menkopolkam dan panglima TNI menjadi perwira senjata di RI Irian, sedangkan dr. Kartono Muhammad dan dr. Tarmizi Taher (mantan menteri agama) menjadi petugas kesehatan kapal.

TNI-AL agaknya perlu mengklarifikasi fakta sesungguhnya menyangkut kapal RI Irian sebagai acuan sejarah.

Advertisement