Misteri Tewasnya sang Pembangkang

KOREA UTARA kembali menjadi perhatian dunia akibat kematian misterius Kim Jong Nam, kakak tiri Presiden Korea Utara Kim Jong Un di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (13/2).

Baru sehari sebelumnya, Minggu (12/2) , Korut membuat cemas tetangganya, Korea Selatan dan Jepang dan negara seterunya, Amerika Serikat, atas keberhasilan uji coba peluncuran rudal balistik jarak menengah, Pukguksong (Bintang Utara).

Pukguksong yang berkemampuan memuat hulu ledak (warhead) nuklir dan untuk menjangkau sasaran sejauh 2.000 Km, berhasil melayang pada ketinggian 550 Km di atas ufuk sebelum jatuh di Laut Jepang, 500 km dari lokasi peluncuran.

Beda dengan rudal Scud tinggalan ex-Uni Soviet milik Korut dan rudal-rudal buatannya yang mengaplikasikan teknologi era dekade “60-an berbahan bakar propelan cair, Pukguksong berbahan bakar padat, sehingga mobilitasnya lebih tinggi dan jangkauannya lebih jauh.

Sementara Kim Jong Nam, tokoh yang hidup di pengasingan akibat menentang rezim otoriter Kim Jong Un, menghembuskan nafas di tengah jalan menuju RS karena kolaps setelah seseorang menepuk wajahnya – diduga menyemprotkan racun mematikan – saat ia akan mengejar penerbangan ke Macau.
Jong Nam adalah putera buah cinta di luar nikah antara Presiden Kim Jong Il dan seorang artis asal Korsel Son Hye-rim. Jong Nam lebih banyak menetap dan menjalani kehidupan gaya hedonis di luar negeri.

PM Korsel Hwang Kyo-ahn menilai, jika Jong Nam terbukti dibunuh oleh agen-agen Korut, hal ini semakin menegaskan kebrutalan yang dilakukan oleh rezim Kim Jong Un.
Menurut catatan, sejak berkuasa sepeninggal ayahnya, Kim Jong Il pada 17 Desember 2011, Jong Un telah mengeksekusi 400 orang termasuk pamannya, Jang Song Thaek yang dianggap penghianat, tidak loyal terhadap negara

Jong Nam selama ini dilindungi oleh pemerintah Tiongkok dan menetap bersama isteri dan anaknya di Beijing, namun ia juga sering berada di Hongkong atau di Macau bersama isteri keduanya.

Demi keamanan dirinya, Jong Nam juga sering menggunakan paspor palsu. Termasuk saat menjelang kematiannya, menurut polisi Diraja Malaysia, di paspornya tertera nama Kim Chol.

Warga Negara Indonesia
Yang mengherankan, seorang WNI asal Tangerang, Banten berinama Siti Aisyah (25) termasuk yang ditahan polisi Malaysia atas dugaan terlibat pembunuhan Jong Nam selain seorang perempuan lain asal Vietnam, Doan Thi Huong (28) dan seorang pria warga negara Malaysia bernama Muh. Farid (26) dan seorang pria WN Korut Ri Jong Cho (47).
Sejauh ini tim Kementerian Luar Negeri RI yang dikirim guna memastikan identitas Siti Aisyah sebagai WNI, dan jika terbukti, untuk memberikan pendampingan pada yang bersangkutan, belum diizinkan oleh otoritas Malaysia untuk menemuinya.

Seorang anggota parlemen Korsel, mengutip keterangan intelijen negaranya, hampir memastikan, kedua perempuan yang ditangkap aparat keamanan Malaysia berdasarkan citra CCTV tersebut adalah agen rahasia Korut.

Jong Nam selama ini dikenal sangat kritis atas sepak-terjang rezim Korut dinasti keluarganya di bawah Kim Jong Un sehingga kemungkinan ia dihabisi.
Serangan Jong Nam bertambah keras sepeninggal ayahnya dan menyatakan Korut bagaikan buah si malakama. Bakalan ambruk jika tidak mereformasi diri, sebaliknya, jika mereformasi diri, yang ambruk adalah rezim dinasti Kim.

Siti Aisyah sendiri, berdasarkan identitas diri di paspor yang dibeberkan imigrasi Malaysia, berasal dari Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, 15 KM dari pusat kota Tangerang.
Menurut penuturan ibunya, Baenah (50) pada harian Kompas (18/2), Siti Aisyah berjualan pakaian di Pulau Batam, sedangkan menurut seorang tetangganya, Siti Aisyah sebelumnya pernah tinggal dan bekerja di perusahan konveksi di kawasan Tambora, Jakarta Barat.

Sedangkan Ketua RT Sindangsari, Sukria menuturkan, Siti Aisyah pernah pulang beberapa hari ke desanya saat liburan imlek akhir Januari lalu. Sementara Wapres Jusuf Kalla sendiri meragukan dugaan bahwa SA adalah agen rahasia Korut dan mengira ia malah menjadi korban rekayasa oleh komplotan pembunuh Jong Nam.

Publikasi tentang kematian Jong Nam juga tidak tampak di tengah euforia pesta kembang api untuk memperingati HUT Kim Jong Il, ayah Jong Nam dan juga ayah Presiden Jong Un, Kamis, 16 Februari.
Warga berbondong-bondong meletakkan karangan bunga di bawah patung raksasa Kim Jong Il dan bapak bangsa Korut Kim Il Sung di Bukit Mansu.

Ketegangan terjadi antara Pemerintah Malaysia yang meminta sampel DNA keluarga Jong Nam guna menyelidiki jenis racun yang digunakan untuk menghabisinya, namun Korut mendesak agar Malaysia tidak melakukan otopsi, dan segera memulangkan zenasah Jong Nam.

Hasil peradilan di Malaysia juga nanti yang akan menguak siapa di balik tabir, motif pembunuhan dan racun yang digunakan untuk menghabisi Jong Nam serta mungkin peran yang dimainkan oleh seorang WNI bernama Siti Aisyah (Ap/AFP/Reuters/NS)

Advertisement