Mubahalah Kok Mudah

Sumpah pocong yang benar-benar dilaksanakan. Kebanyakan sekedar gertak sambal belaka.

SUMPAH adalah jalan terakhir untuk menguji kejujuran dan kebenaran. Tapi di era gombalisasi ini, orang begitu mudah mengangkat sumpah. Sedikit-sedikit sumpah, sedikit-sedikit sumpah. Paling sering adalah ucapan “demi Allah”, lalu “sumpah pocong”, dan  kemudian “mubahalah”. Yang terakhir merupakan sumpah paling mengerikan, sebab anggota keluarga yang tidak tahu persoalannya “dijaminkan” dalam sumpah itu. Paling ironis, sumpah yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk melawan mereka yang non Islam, kini sama-sama seiman diajak pula “mubahalah gara-gara beda pilihan politik.

Sejak SD atau SR sebelum tahun 1965, anak sekolah atau peserta didik menurut pakar Kemendikbud, sudah dikenalkan dengan sumpah. Tapi jangan salah, sumpah ini sumpah untuk membangkitkan semangat nasionalisme, semangat kebangsaan. Dia adalah “Sumpah Pemuda” yang dicanangkan kali pertama 28 Oktober tahun 1928. Setelah Indonesia merdeka, setiap tanggal 28 Oktober para murid, eh peserta didik, dari SD hingga SMA wajib memperingati. Mereka mengenang jasa para pendiri republik, sekaligus aktualisasi semangat kebangsaan bahwa kita: bertumpah darah, berkebangsaan, da berbahasa satu; Indonesia.

Tanpa jasa para pemuda di jaman itu, mungkin kita masih dalam kekuasaan penjajah Belanda. Ini perlu didengungkan dan dikumandangkan terus demi keutuhan bangsa. Masalahnya, kini ada gejala sekelompok orang yang memasalahkan Pancasila dan mencoba menafikan NKRI demi gerakan khilafah. Di mata mereka, hanya dengan sistem itu akan dicapai masyarakat yang baldatun toyobatun warobbun ghofur.

            Sementara ada pihak yang mencoba mengkhianati Sumpah Pemuda, kita sehari-hari sering mendengar hal yang receh-receh sudah mengangkat sumpah “demi Allah”. Katanya itu sebuah garansi atas kejujuran pihak yang mengucapkan. Ada kalanya benar, tapi sering pula sekedar untuk menutupi kebohongannya. Padahal, orang yang terlalu royal mengucapkan “demi Allah” justru menunjukkan seberapa kwalitas orang itu, mungkin hanya KW-3.

Sesuai dengan kultur Indonesia, ada pula medium penguji kejujuran berupa “sumpah pocong”. Bukan mendatangkan hantu pocong yang jalan berjungkit-jungkit, tapi berupa ritual yang dipandu ustadz, di mana dua orang yang bersengketa diberi kostum kain kafan, persis pocongan mayat hendak dimakamkan. Keduanya pun bersumpah, siapa yang berdusta dalam masalah itu niscaya akan segera binasa.

Dalam kasus korupsi, pernah soal “sumpah pocong” jadi menu persidangan. M. Nazarudin menantang Anas Urbaningrum bersumpah pocong, sebaliknya mantan Ketua HMI itu menantang jaksa KPK untuk bersumpah pocong pula. Bahkan pengacara Yusril Ihza Mahendra juga pernah menantang Prabowo untuk sumpah pocong. Ironisnya, kini Prabowo dan Kivlan Zein giliran ditantang sumpah pocong oleh Menko Polhukam Wiranto.

Begitu mudah “sumpah pocong” diucapkan, padahal resikonya bisa dipocong beneran dalam waktu singkat. Tapi faktanya, tantangan sumpah itu sekedar gertak sambal, sebab sampai kini para penantang maupun yang ditantang tak pernah ada beritanya benar-benar bersumpah pocong.

Paling mengerikan adalah sumpah kelas “mubahalah”. Ini disebut mengerikan, sebab anggota keluarga bahkan anak keturunannya termasuk yang masih di “pucuk pring” sana ikut dijaminkan pula dalam sumpah itu, padahal mereka tak tahu menahu persoalannya. Apa nggak mengerikan itu, sebab bila dirinya bohong, adzab Allah tak hanya untuk dirinya, tapi juga istri dan anak-anak keturuannya. Untung saja tetangga dan Pak RT tak dijaminkan pula.

Di zaman Nabi, sumpah “mubahalah” hanya dilakukan Nabi Muhammad SAW terhadap mereka yang berbeda agama. Tapi sekarang orang seiman pun diajak bermubahalah hanya karena beda pilihan politik. Ada Habib Rijiek, Buni Yani, Gus Nur ustadz kontroversial malah melakukannya dua kali. Padahal Qur’an mengingatkan: Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Al-Qalam: 10). Di surat Almaidah ayat 79 juga diperintahkan: dan jagalah sumpahmu. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement