IDUL Fitri 1443 H tinggal beberapa hari lagi. Jika NU – Muhammadiyah kompak, maka 1 Syawal jatuh pada Senin 2 Mei 2022. Yang jelas Lebaran itu Minggu atau Senin, arus pemudik sudah terasa pada dua minggu puasa. Bahkan banyak pula yang mencuri start awal puasa sudah pulkam. Polda Metro Jaya mencatat arus pemudik keluar kota pada Rabu lalu tercatat sudah lebih dari 600.000 kendaraan tinggalkan Jakarta. Mereka mau Lebaran di kampung. Tapi ingat, mudik tak hanya mengandalkan kekuatan pisik, tapi juga keuangan yang cukup. Maka orang Jawa punya plesetan, mudik itu = mumet kalau duitnya sekedik (sedikit).
Karena Covid-19 sudah melandai, dan pemerintah sudah melonggarkan aturan mudik, pemudik kembali meledak. Kemenhub memprediksi sekitar 85,5 juta penduduk Indonesia akan pulkam. Dari jumlah itu 47 persen menggunakan kendaraan pribadi. Di sinilah Menhub Budikarya Sumadi menjadi galau, pemerintah susah mengontrol kendaraan pribadi, apakah mereka sudah menjalani vaksin kedua dan boster apa belum. Karenanya jika pasca Lebaran Covid-19 kembali merebak, biangkeroknya dari kendaraan pribadi ini.
Tujuan Lebaran di kampung paling inti adalah bersilahturahmi pada orangtua, sanak saudara; saling maaf memaafkan setelah selama 1 tahun menumpuk dosa. Tapi resiko lain, selain nglebur dosa (menghapus dosa) juga harus nglebur duit. Sebab jika mudik tak membawa uang cukup, muka akan menjadi ciut. Bocah-bocah di kampung akan menstigma Oom anu itu orangnya pelit, masak pulang kampung hanya ngajak salaman doang.
Makanya, jika anggaran terbatas, mending tidak usah mudik.Di samping untuk biaya transportasi PP, juga ada pos untuk bagi-bagi uang pada sanak famili di kampung. Bukan hari Natal harus jadi “sinterklas” bagi-bagi hadiah berupa uang. Yang bocah dibagi receh barang Rp 5.000,- sampai Rp 10.000,- sudah senang. Tapi kalangan dewasa, setidaknya Rp 50.000,- bahkan Rp 100.000,- Benar-benar seperti Dinsos bagi-bagi BLT.
Ada juga orang desa sekampungnya lalu jual jasa bahwa di masa kecilnya sang pemudik, dialah yang ikut gendong-gendong. Tipe begini jika hanya dikasih Rp 20.000,- suka nawar, “Masak hanya Rp 20.000,-?” Terpaksalah dikeluarkan lembaran Rp 50.000,- an. Meski tidak banyak, tapi rasanya jadi seperti dikompas preman Tanah Abang.
Padahal ketika kita pulang kampung, adanya hanya pengeluaran terus, sama sekali tak ada pemasukan. Maka bagi yang keuanannya terbatas, paling 2-3 hari sudah cabut lagi balik ke kota. Maka benar plesetannya orang Jawa, mudik itu memang mumet jika duitnya sekedhik.
Di Purworejo sebelum tahun 2010 pernah ada pemudik di Megulung Lor Kecamatan Pituruh, ketika bagi-bagi angpau kepada orang-orang sekampungnya, seorang diberinya Rp 100.000,- Benar-benar royal dia, duitnya seakan tak berseri. Tapi beberapa waktu kemudian terungkap, orang itu ternyata Gayus Tambunan pegawai Ditjen Pajak yang dicokok KPK karena terlibat mafia pajak. Ibu Gayus memang berasal dari kampung tersebut.
Ya, orangtua yang tinggal di kampung, memang menjadi salah satu penyebab orang kota kembali ke desa asalnya. Jika orangtua keduanya sudah meninggal, banyak orang kota malas pulang kampung. Jika alasannya sekedar untuk ziarah ke makamnya toh memanjatkan dia lewat kota tempatnya tinggal juga bisa! Agama tak pernah mensyaratkan berdoa harus di pusara orang yang didoakan.
Lantaran orang kota tak mau kembali ke desa asalnya, kini di kampung-kampung di mana saja, banyak rumah pusaka menjelma jadi rumah hantu, tak ada penghuninya. Banyak yang sampai ambruk. Di sinilah uniknya, di kota orang pakai rumah orang (kontrak) harus bayar. Tapi di kampung, yang pakai justru dibayar dengan alasan untuk menunggu dan merawat rumah pusaka tersebut.
Bagi orang kampung sendiri, jika Lebaran banyak tamunya dari kota bawa mobil berplat B (Jakarta), H (Semarang), L (Surabaya), AB (Yogyakarta) dan D (Bandung), itu juga mendongkrak status sosial pemilik rumah. Berarti anak-anak dia sukses di kota. Maka para orangtua pun menasihati anak-anaknya, “Kamu sekolah yang pinter, sehingga nanti bisa pulang bawa mobil.” Padahal banyak juga pemudik pulkam dengan pakai mobil rental, atau pinjam punya kantor.
Tapi tak semuanya perantau sukses di kota. Banyak juga yang gagal tapi gengsi balik kampung. Di kota bisnis strom accu dengan modal “Dana Desa” non pemerintah, maksudnya dari orangtua sendiri. Itu masih mending, ada juga di kota Jakarta hanya jadi tukang copet. Pulang kampung ketika sakit gara-gara dikeroyok massa, akhirnya pulang ke rahmatullah…… (Cantrik Metaram).





