
JAKARTA – Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan dan Penguatan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, mengatakan bahwa sepeda motor bukanlah pilihan yang aman untuk mudik Lebaran karena kendaraan tersebut tidak dirancang untuk perjalanan jarak jauh.
Djoko menjelaskan bahwa perjalanan jauh memerlukan kondisi tubuh yang prima bagi pengendara dan memerlukan konsentrasi yang baik saat mengemudi. Jika pengemudi mengantuk atau tidak konsentrasi saat berkendara, rentan terjadi kecelakaan lalu lintas.
Djoko juga menambahkan bahwa perilaku pengendara yang tidak tertib dalam mengikuti aturan lalu lintas juga bisa meningkatkan risiko kecelakaan.
“Apalagi jika perilaku pengendara yang kurang tertib untuk mengikuti aturan dan rambu-rambu lalu lintas. Mitigasi sangat diperlukan karena rentannya penggunaan sepeda motor untuk perjalanan jauh,” kata Djoko, dilansir dari Antara, Rabu (5/3/2023).
Selain itu, kemungkinan barang berlebihan dan penumpang melebihi batasan juga menjadi alasan mengapa sepeda motor rentan terjadi kecelakaan saat mudik. Djoko menjelaskan bahwa batasan kapasitas tersebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan kendaraan selama perjalanan.
“Maka dari itu, sebaiknya dihindari berkendara menggunakan sepeda motor dan membawa angkutan berlebihan. Selain berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Djoko.
Meskipun semua kendaraan memiliki risiko di jalan, sepeda motor termasuk kendaraan yang paling rentan karena tubuh pengendara tidak dilindungi oleh bagian kendaraan tersebut dalam kasus kecelakaan.
Djoko menyarankan agar pemerintah tidak hanya mengimbau, tetapi harus berani melarang mudik naik sepeda motor dan membawa anak-anak.
Setiap pemudik yang terbukti membawa anak-anak dengan sepeda motor harus dihentikan perjalanannya dan dapat diminta kembali ke rumah atau disediakan kendaraan lain yang akan membawa ke tujuan.
Meskipun tidak ada larangan resmi, Djoko mengingatkan bahwa mudik dengan sepeda motor terutama bermesin kecil sangat berbahaya dan berisiko, apalagi jika membawa anak-anak. Oleh karena itu, dia menyarankan untuk mempertimbangkan alternatif lain jika memungkinkan.
“Memang tidak ada larangan mudik menggunakan sepeda motor, tetapi, jika ada alternatif lain sebaiknya dihindari. Pasalnya, mudik memakai sepeda motor, terlebih motor bermesin kecil, sangat berbahaya dan terlalu banyak risikonya. Apalagi kalau mudiknya berboncengan dan membawa anak pula. Sebaiknya dipikirkan dengan matang,” kata Djoko.
Hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pada 2023 ada potensi 25,13 juta unit sepeda motor yang digunakan selama periode mudik Lebaran.
Djoko mengatakan bahwa masyarakat memilih mudik dengan sepeda motor karena dianggap lebih hemat dan memudahkan mobilitas di kampung halaman, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan.
“Oleh karena itu, pilihan mudik memakai sepeda motor terasa sangat menguntungkan. Keuntungan ini masih dapat bertambah dengan fleksibilitas waktu berangkat mudik yang lebih santai (tidak terikat waktu) dan tidak perlu buru-buru memesan tiket transportasi umum,” ujarnya.
Djoko menyarankan agar pemerintah menyediakan lebih banyak kendaraan transportasi massal dengan tarif terjangkau atau lebih banyak layanan mudik gratis, terutama bagi para pemudik dengan sepeda motor.
Pada musim Lebaran 2023, Kementerian Perhubungan menyediakan program mudik gratis dengan kereta api, kapal laut, dan bus untuk para pemudik dengan sepeda motor. Selain itu, program mudik gratis juga diselenggarakan oleh kementerian dan lembaga lain, BUMN, dan perusahaan swasta.




