JAKARTA – Umat Islam saat ini sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan 1444 Hijriah. Di momen ini, umat Islam biasanya mencoba untuk menambah ibadah mereka, salah satunya dengan mengunjungi masjid yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Islam.
Meskipun ada berbagai motivasi untuk melakukan perjalanan wisata sejarah, pada umumnya, aktivitas perjalanan wisata ke masjid-masjid bersejarah sangat penting untuk dijaga dan dipertahankan karena dapat mendorong roda perekonomian masyarakat sekitar masjid.
Salah satu masjid bersejarah yang patut dikunjungi karena memiliki sejarah panjang adalah Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Masjid ini terletak di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang.
Melihat kisah panjang berdirinya masjid dan perjuangannya hingga menjadi masjid bersejarah, Masjid Shiratal Mustaqiem adalah tempat wisata sejarah yang cocok untuk dikunjungi menjelang Ramadan dan Idulfitri 1444 Hijriah.
Dilansir dari indonesia.go.id, Masjid Shiratal Mustaqiem, yang dibangun pada 1881, juga pernah menjadi pemenang ke-2 dalam festival masjid-masjid bersejarah di Indonesia pada 2003.
Bagaimana sejarah pendirian masjid ini? Menurut laman kemendikbud.go.id, seorang ulama dan pedagang Muslim asal Pontianak bernama Said Abdurachman bin Assegaf, yang juga memiliki gelar Pangeran Bendahara, datang ke Kesultanan Kutai pada 1880.
Said memilih kawasan Samarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Tindakan Said mendapat restu dari Sultan Kutai saat itu, yakni Aji Muhammad Sulaiman, setelah melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalankan syariat Islam.
Pada masa lampau, Samarinda Seberang dikenal sebagai daerah perjudian seperti sabung ayam dan dadu serta peredaran minuman keras yang merajalela.
Kondisi ini membuat warga sekitar merasa khawatir karena dapat merusak citra daerah sebagai kawasan syiar Islam. Meskipun begitu, hampir tidak ada warga yang berani mengambil tindakan.
Namun, Pangeran Bendahara datang dan mengingatkan warga akan pentingnya menjalankan syariat Islam. Ia dan tokoh masyarakat setempat kemudian berdiskusi mencari solusi agar Samarinda Seberang bisa terbebas dari aktivitas terlarang tersebut.
Akhirnya, mereka sepakat untuk membangun masjid di lahan seluas 2.028 meter persegi. Pada 1881, pembangunan dimulai dengan empat tiang utama (soko guru) yang dibangun oleh Said Abdurachman bersama warga setempat.
Kabarnya, keempat tiang tersebut bisa berdiri karena dibantu oleh seorang nenek misterius yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Warga yang sebelumnya tidak mampu mengangkat dan menanamkan tiang utama, berhasil melakukannya dengan bantuan nenek tersebut yang tiba-tiba muncul di lokasi pembangunan.
Seorang nenek tiba-tiba datang ke lokasi pembangunan masjid dan meminta izin untuk membantu mengangkat dan memasang tiang. Awalnya, warga hanya tertawa mendengar permintaan nenek tersebut.
Namun, Said Abdurachman menyambut baik kedatangan nenek itu dan meminta warga memperbolehkannya melakukan apa yang diinginkannya. Nenek itu kemudian meminta warga dan Said Abdurachman untuk pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, setelah salat Subuh, warga kembali ke lokasi pembangunan masjid dan terkejut melihat keempat tiang utama masjid telah tertanam dengan kokoh. Sang nenek telah menghilang dari desa tersebut.
Pembangunan masjid dilanjutkan dan rampung sepuluh tahun kemudian. Pada 1891, Sultan Kutai Adji Mohammad Sulaiman menjadi imam pertama di Masjid Shiratal Mustaqiem.
Setelah bangunan masjid rampung, pada 1901, seorang saudagar kaya berkebangsaan Belanda bernama Henry Dasen memberikan sumbangan untuk pembangunan menara masjid berbentuk segi delapan, setinggi 21 meter. Menara itu terletak tepat di belakang kiblat masjid dan dapat dilihat oleh pengunjung.





