Murid Pun Belajar Beternak

Bupati Dedi Mulyadi tengah mengajak generasi muda mencitai dunia pertanian.

GENERASI muda sekarang ini sudah terbius oleh kemajuan teknologi informasi. Gadget dan internet lebih menarik ketimbang kornet. Meski tinggal di desa mereka lebih senang berasyik-asyik dengan smartphone, ketimbang menyatu dengan alam sekitarnya, misalnya bertani dan beternak. Maka sesuai dengan program “Desa Berbudaya” yang pernah dicetuskannya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bertekad memasukkan kurikulum peternakan untuk pelajar SD hingga SMA. Pak Bupati menginginkan, generasi muda tak hanya doyan daging tapi mampu menciptakan sendiri.

Mulai tahun ajaran 2017/2018 mendatang, Bupati Dedi Mulyadi akan memasukkan kurikulum peternakan di 30 sekolah SD dan SMP di 10 kecamatan yang kini menjadi penghasil hewan ternak sapi dan domba di Purwakarta. Kurikulum khusus itu bertujuan untuk menumbuhkan minat dan bakat terhadap dunia ternak. Bupati ingin menumbuhkan dulu kecintaan anak-anak terhadap hewan ternak. “Kelak kalau dewasa mereka bisa menjadi peternak sukses, atau bisa mendalami ilmu di jurusan peternakan dan dokter hewan,” kata Bupati Dedi.

Saat ini generasi muda rata-rata tak lagi menyukai dunia peternakan. Mereka lebih memilih pada produk yang lebih modern seperti gadget, teknologi dan otomotif. Maka Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Surachman sangat mendukung langkah Bupati Purwakarta itu. Saat ini minat pada ilmu peternakan dan kedokteran hewan memang mengalami penurunan tajam.

Yang terjadi sekarang sangat memprihatinkan. Mereka tak tahu ilmu memeras susu sapi, tapi ketika jadi anggota DPR malah “memeras” Dirut BUMN, ketika jadi pejabat “memeras” rakyatnya. Mereka tak mau beternak kambing dan sapi, tapi lebih suka beternak uang di bank. Bahkan banyak juga warga masyarakat yang demen beternak thuyul, dibela-belain sampai ke Gunung Kawi. Atau jadi “santri”-nya Dimas Kanjeng di Probolinggo demi melipatgandakan uang.

Beberapa tahun lalu pernah terjadi, seorang anggota DPR yang juga Ketua Umum sebuah parpol, jadi pasien KPK gara-gara terbelit urusan lahmul bakorun (daging sapi) impor. Dia  tak tahu-menahu bagaimana caranya beternak sapi, tapi sangat paham bagaimana daging sapi impor itu bisa menjadi sumber uang. Nah, dengan memanfaatkan kadernya yang menjadi Menteri Pertanian, dia memainkan jatah impor sapi bekerjasama dengan importir daging sapi. Uang memang banyak masuk ke pundi-pundinya, meskipun dia sendiri harus masuk penjara.

Jauh sebelum digagas Bupati Dedi Mulyadi, sebetulnya Menteri Pendidikan & Pengajaran Prof. Dr. Priyono (1957-1964) pernah menggalakkan peternakan bagi murid Sekolah Rakyat. Lewat program Sapta Usaha Tama (SUT), pada point 3 ditegaskan:  mengharuskan usaha halaman bagi sekolah-sekolah. Karenanya kala itu para murid diwajibkan beternak ayam dan bertani, bekerjasama dengan Kepala Desa.

Jika langkah Bupati Dedi Mulyadi ini berhasil, pelajar SD-SMP dari Purwakarta takkan gamang menghadapi masa depan. Yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, bisa menciptakan kerja di kampung masing-masing lewat usaha berternak, dari ayam, ikan, sapi, kambing, dan sebagainya. Mereka tidak perlu merengek-rengek minta pekerjaan pada negara, karena telah berhasil menciptakan kerja sendiri buat lingkungannya.

Beternak itu memang harus pakai ilmu, yang terus digali dari masa ke masa. Beternak bebek misalnya, jangan hanya percaya pengalamam klasik bahwa suara “kweeek” di tengah malam, itu pertanda bahwa bebek piaraan telah bertelur di kandangnya. Pernah kejadian, ada suara “kweeek” pemilik hanya menghitungnya dari tempat tidur, “Wah, itu 50 ekor bebekku telah bertelur!” Padahal ketika ditengok keesokan harinya, semua bebek di kandang telah raib. Ternyata suara “kweeek” itu adalah suara bebek saat ditangkap si maling. (Cantrik Metaram).

 

 

Advertisement