
BANK Dunia (WB) dalam pertemuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bali, pekan ini menyebutkan, Indeks Modal Manusia (IMM) Indonesia dengan skor 0,53 masih berada di bawah rata-rata dunia sebesar 0,57.
Artinya, Indonesia harus mengerjakan “PR” atau bekerja lebih keras lagi, walau nilai IMM 2017 naik sebesar 0,50 dibandingkan dengan yang dicapai pada 2012 termasuk tinggi diantara negara-negara dalam sekelompok pendapatan.
IMM dianggap penting sebagai indikator untuk mengukur peluang hidup bayi sejak lahir sampai usia lima tahun, harapan lama sekolah, nilai ujian sekolah untuk mengetahui mutu pendidikan, tingkat harapan hidup pada rentang usia 15 – 60 tahun dan jumlah kasus “stunting” atau anak bertubuh pendek yang dialami 34 persen anak Indonesia.
Pendidikan dan kesehatan merupakan dua sektor yang perlu dipacu pembangunannya, karena dengan rata-rata lama sekolah anak Indonesia selama 12,3 tahun, capaian akademisnya setelah dilakukan harmonisasi skor uji, hanya setara dengan lama sekolah 7,9 tahun.
Laporan Bank Dunia itu perlu ditindaklanjuti jika Indonesia ingin memanfaatkan bonus demografi dengan menata strategi dan kebijakan investasi pembagunan infrastruktur sosial, khususnya pendidikan dan kesehatan selain infrastrutur fisik.
Seperti negara berkembang lainnya, Indonesia berpeluang melakuan lompatan besar menjadi negara maju ketika memperoleh bonus demografi karena memiliki lebih banyak penduduk berusia produktif ketimbang dari yang belum memasuki usia produktif atau sudah tidak produktif lagi.
Tentu saja, tingkat pendidikan juga kesehatan publik berhulu dari tingkat kemiskinan yang menurut catatan BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2018 sebanyak 25,9 juta orang atau 9,82 persen, berkurang 633,2 ribu orang dibandingkan dengan September 2017 sebanyak 26,58 juta orang (10,12 persen).
Yang menggembirakan, persentase penduduk miskin di perkotaan yang pada September 2017 sebanyak 10,27 juta orang (7,26 persen) turun 128,2 ribu orang menjadi 10,14 juta orang (7,02) persen pada Maret 2018, begitu pula penduduk miskin di pedesaan, turun 505 ribu orang dari 16,31 juta orang (13,47 persen) menjadi 15,81 juta orang (13,2 persen) pada periode sama.
Kebodohan dan tingkat kesehatan yang rendah biasanya berada dalam satu paket dengan kemiskinan yang harus dientaskan untuk mencari solusinya.




