MYANMAR – Myanmar mendesak umat Islam di barat laut yang bermasalah untuk bekerja sama dalam mencari pemberontak yakni militan rohingya yang dikenal sebagai ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army).
ARSA merupakan kelompok yang melakukan serangan terkoordinasi terhadap pos keamanan dan menyebabkan tindakan keras tentara dalam melakukan serangan mematikan yang menelan komunitas Rohingya dalam beberapa dasawarsa.
Bentrokan dan serangan balik militer telah membunuh hampir 400 orang dan mendorong sekitar 58.600 Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh selama seminggu terakhir karena para pekerja bantuan di sana berjuang untuk mengatasinya.
Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jumat bahwa kekerasan terhadap umat Islam adalah genosida.
Ini menandai sebuah peningkatan dramatis dari konflik yang telah merebak sejak Oktober, ketika serangan Rohingya yang lebih kecil terhadap pos keamanan mendorong sebuah reaksi militer yang disebabkan oleh tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
“Warga desa Islam di utara Maungtaw telah didesak oleh pengeras suara agar bisa bekerja sama saat pasukan keamanan mencari teroris ekstremis Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), dan tidak menimbulkan ancaman atau senjata brandish saat pasukan keamanan memasuki desa mereka,” imbau negara yang dikelola negara New Light of Myanmar mengatakan pada hari Minggu (3/9/2017), dikutip Reuters.
ARSA telah dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah. Kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi terhadap pos keamanan minggu lalu.
Di desa Maungni di Rakhine utara, penduduk desa awal pekan ini menangkap dua anggota ARSA dan menyerahkannya kepada pihak berwenang, surat kabar tersebut menambahkan.
Tentara menulis di sebuah postingan Facebook pada hari Minggu bahwa gerilyawan Rohingya telah menyalakan api ke vihara, gambar Buddha serta sekolah dan rumah di Rakhine utara.
Lebih dari 200 bangunan, termasuk rumah dan toko, hancur di beberapa desa, kata militer.
Sementara pejabat Myanmar menyalahkan ARSA atas pembakaran rumah-rumah tersebut, Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dan pengamat hak asasi manusia mengatakan bahwa sebuah kampanye pembakar dan pembunuhan oleh tentara ditujukan untuk memaksa kelompok minoritas tersebut keluar.





