
MASSA prodemokrasi Myanmar menggunakan berbaga cara non-kekerasan melawan aksi-aksi brutal yang dilakukan rezim junta militer yang mengambil alih atau mengudeta pemerintah sipil 1 Feb. lalu.
Tiada hari tanpa unjukrasa sejumlah kota, mulai dari ibukota Naypyidaw, Jangon, Mandalai, Dawei dan berbagai wilayah lain diikuti oleh segenap elemen bangsa, masyarakat umum, remaja, bhiksu, pengusaha, bahkan ANS, anggota polisi serta tentara.
Pengunjuk rasa cukup kreatif membangun nuansa non-kekerasan dalam aksi-aksi mereka, misalnya dengan mengenakan gaun pengantin, busana modis gaya ABG era now, atau tampilan super hero.
Menggantungkan jemuran pakaian dalam (CD) atau sarung perempuan (longyi) juga dilakukan oleh para pengunjukrasa di Yangon, karena sesuai kepercayaan lama masyarakat Myanmar, para pria yang melintasi atau menyentuhnya akan kehilangan tenaga.
Diantara jemuran pakaian dalam perempuan itu, pendemo juga memajang foto pimpinan kudeta Jenderal Min Aung Hlaing sehingga aparat keamanaan yang ingin menyingkirkanya harus lebih berhati-hati.
Akibatnya, aparat keamanan terpaksa menyingkirikan dulu barikade yang dipasang dengan seutas tali di berbagai ruas jalan sebelum merangsek membubarkan kumpulan massa pendemo.
Sebaliknya pihak junta militer yang juga didukung satuan polisi bersenjatakan water canon, gas air mata, granat kejut, peluru karet, bahkan peluru tajam tidak memberi ampun melawan unjuk rasa tanpa senjata, sehingga dilaporkan sampai hari ini tercatat 60 korban tewas.
Satuan keamanan juga terus melancarkan razia dari rumah ke rumah untuk mencari dalang unjukrasa
Massa prodemokrasi juga memasang barikade berupa tumpukan batu bata, ban bekas, kawat berduri dan berbagai benda untuk memperlambat gerak maju aparat keamanan.
Demoralisas di kalangan satuan polisi mulai tampak, tercermin dari puluhan yang menyeberang ke perbatasan India karena mereka tidak mau berhadaan dengan warga sipil yang seharusnya mereka ayomi dan lindungi.
Martir Remaja Puteri
Sementara unggahan video tentang korban-korban yang ditembaki aparat keamanan juga beredar, salah satunya menayangkan korbannya, seorang gadis remaja, Kyal Sin (19) mengenakan kaos bertuliskan “semuanya akan baik-baik saja” yang tewas di kota Mandalay.
Junta militer sendiri masih “PD” bahkan mengancam akan mengambil tindakan keras terhadap para pelaku unjuk rasa dan mereka sesumbar, berbagai tekanan yang pernah dilakukan oleh komunitas internasional mampu mereka lawan.
Pimpinan partai NLD , Aung San Suu Kyi bersama pembantu dan tokoh-tokoh lainnya saat ini masih dikenai tahanan rumah, sementara ratusan orang ditangkapi oleh rezim junta karena dianggap menentang mereka.
Rezim junta bergeming terhadap sanksi dan tekanan dari AS dan sejumlah negara Barat lainnya agar mereka menghentikan aksi-aksi kekrasan terhadap AS dan melakukan pelanggaran HAM.
Namun, eksalasi unjukrasa makin meluas dan sembilan serikat pekerja di sektor knstruksi, pertanian dan pabrik mengajak seluruh rakyat untuk mogok dan melancarkan perlawanan pada rezim junta.
Mungkin saja junta bisa bertahan dari tekanan internasional, namun jika mogok massal meluas dan melumpuhkan kegiatan ekonomi, usaha dan industri, kejatuhan mereka agaknya tinggal menunggu waktu. (AP/Reuters/ns)




