MYANMAR – Sedikitnya enam orang ditahan karena dicurigai sebagai pembawa bom yang meledak akhir pekan lalu di beberapa bagian ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe, Myanmar.
Seorang perwira di kantor polisi Sittwe Township mengkonfirmasi kepada Anadolu Agency bahwa tersangka semuanya adalah etnis umat Buddha Rakhine.
“Pengadilan kota telah memerintahkan mereka untuk ditahan selama dua minggu,” kata petugas tersebut, yang berbicara tanpa menyebut nama, karena dia tidak berwenang untuk berbicara dengan media.
“Yang satu berasal dari ANC,” katanya melalui telepon, mengacu pada Dewan Nasional Arakan, sebuah kelompok pemberontak etnis.
ANC adalah anggota United Nationalities Federal Council, sebuah asosiasi yang mewakili kelompok bersenjata etnik.
Laporan media mengatakan Soe Naing, anggota komite pusat ANC, termasuk di antara enam tahanan tersebut.
Tiga bom meledak di berbagai lokasi Sittwe sekitar pukul 4 pagi hari Sabtu pekan lalu. Seorang perwira polisi terluka dalam ledakan bom di rumah seorang pejabat tinggi sementara dua bom lagi meledak di dekat pengadilan kota dan kantor catatan tanah.
Polisi juga menemukan tiga bom lain yang belum meledak di kota tersebut.
Ledakan di Sittwe mengikuti pemboman mematikan di cabang bank lokal di kota Lashio di negara bagian Shan pada Rabu lalu yang menewaskan dua karyawan dan melukai 22 lainnya.
Sebuah ledakan ketiga terjadi di dekat sebuah zona perdagangan utama di negara bagian Shan, Minggu malam.
Beberapa kelompok pemberontak bersenjata etnis aktif di Shan, wilayah etnis terbesar di Myanmar.
Namun, tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangkaian ledakan dalam beberapa hari terakhir.





