Nadzar Berjalan Kaki

Demi ngluwari ujar, seorang lelaki muda jalan kaki Palembang-Jambi sambil gendong anak.

NADZAR itu termasuk utang, sehingga harus dibayar (ditunaikan) oleh siapapun yang mengucapkannya. Maka beberapa hari lalu terbetik berita, seorang lelaki jalan kaki Palembang – Jambi sejauh 280 Km sambil gendong anak balita, sebagai bentuk pemenuhan nadzar yang pernah diucapkan. Ternyata banyak orang yang “bernadzar” jalan kaki, termasuk bekas Ketum PAN Amien Rais. Sayangnya “sumpah” jalan kaki Jakarta-Yogya itu sampai kini tak pernah dipenuhinya. Maklum, yang namanya mencla-mencle, itu hal lumrah bagi kalangan politisi.

Saat masih di LP Sukamiskin Bandung, Andi Mallarangeng yang menjadi terpidana kasus korupsi Proyek Hambalang, nampak paling ceria dari napi-napi koruptor lainnya. Dia suka nyanyi-nyanyi lagu Campursari, di antaranya lagu “Sewu Kutha” milik Didi Kempot. Kemudian ada wartawan yang memotong sambil memberitahukan bahwa penyanyi asal Solo itu kini lumpuh. “Masak sih? Saya kok nggak dengar.” Sang wartawan pun menjelaskan, bagaimana nggak lumpuh dan lempoh, karena Didi Kempot nekad jalan kaki untuk mengunjungi seribu kota. Menpora era SBY itupun tertawa terkekeh-kekeh.

Perjalanan Didi Kempot memang sekedar perjalanan imajinir sebuah lagu. Dalam kondisi nyata, beberapa hari lalu ramai diberitakan di medsos, tentang seorang lelaki muda jalan kaki Palembang – Jambi sambil menggendong anak perempuan balita. Melihat foto-fotonya, memang sangat menggugah perasaan. Sekaligus itu menyadarkan pada kita bahwa masih ada orang yang lebih menderita ketimbang kita sendiri.

Sebagaimana yang diunggah oleh Rahman Pamenang dalam FB-nya, lelaki yang tak disebut nama dan dari mana asalnya itu sedang membayar nadzar. Jika putrinya yang pernah sakit sampai mati suri bisa sembuh kembali, akan jalan kaki Palembang-Jambi. Mungkin lelaki itu memang manusia paling malang se Palembang, baru saja istrinya meninggal, disusul putrinya sakit parah. “Bagi yang melihat mohon diberikan bantuan air minuman, makanan dll untuk meringankan beban bapak dan anak perempuannya ini,” tulis Rahman Pamenang dalam FB-nya.

Kisah orang jalan kaki ratusan kilometer, bahkan ribuan bukan hanya cerita sekarang. Rudolf Lawalata orang Ambon, adalah orang Indonesia pertama yang berhasil keliling dunia dengan cara nyeker. Berangkat tanggal 8 Januari 1955, bertiga dengan Abdullah Balbed dan Sujono Djono, mereka mengawali perjalanan dari Batam menuju Singapura kemudian dilanjutkan ke Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Afganistan, Irak, Iran, Arab Saudi, Sudan, Mesir, Yunani, Yugoslavia, Austria, Italia, Swiss, Jerman, Belgia, Belanda, Swedia, Norwegia sebelum akhirnya tiba di Amerika Serikat pada Agustus 1956. Dalam KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) pun kemudian muncul kosa kata baru, melawalata = jalan kaki jarak jauh.

Tahun 2016 Indra Azwan (57), warga Malang (Jatim), nekad jalan kaki dari Aceh menuju Irian Barat (Papua), sebagai bentuk keprihatinan sekaligus protes atas lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Pada tahun 1993 anak lelaki Indra tewas jadi korban tabrak lari. Tapi pelakunya yang oknum polisi, tak tersentuh bahkan kini masih bertugas di Polres Blitar. Selama 23 tahun dipet-eskan, tahu-tahu dinyatakan kadaluwarsa. Indra pun protes dengan jalan kaki dari Aceh sampai Papua. Pada Mei 1916, perjalanan Indra baru sampai ke Yogyakarta.

Ada juga Giman (38) warga Malang, jalan kaki menuju Jakarta karena saking senangnya Jokowi terpilih jadi Presiden RI. Pada 29 September 2014 perjalanan itu sampai kota Yogya. Dia jadi ingat Amien Rais yang pernah bersumpah mau jalan kaki Yogya-Jakarta jika Prabowo kalah nyapres. Dia segera ngampiri bapak reformasi itu di rumahnya untuk jalan bareng ke Jakarta. Ternyata beliaunya tak ada di rumah.

Nadzar Amien Rais yang tak pernah dibayar tersebut sampai sekarang masih ditagih publik. Tapi sebagai politisi harus dimaklumi bahwa omong mencla-mencle itu sah-sah saja. Sebagai bekas Ketum PP Muhammadiyah, dia pasti tahu makna kaidah fiqih: dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih (menolak bahaya jauh lebih diutamakan dibanding mengambil manfaat).

Sebagai kakek yang sudah sepuh, sangat riskan jalan kaki Yogya-Jakarta sejauh 538 Km itu. Bila terjadi apa-apa gara-gara ngluwari ujar, siapa yang tanggungjawab? Maka ketimbang banyak mudlarat, mending khianat. Ini sama halnya bagi sang pejalan kaki Palembang-Jambi sejauh 280 Km itu. Jika si anak malah sakit lagi gara-gara kepanasan sepanjang jalan, sama saja mengejar masholih tapi korbankan mafasid, akhirnya kan mubazir. (Cantrik Metaram)

Advertisement