TAK ada undang-undang yang mengatur pemberian nama terhadap bayi yang baru lahir. Orang tua bebas memberi nama anak siapa saja, karena nama anak juga tidak perlu beli. Meski nama tak lazim, yang penting tidak menabrak batasan Kantor Catatan Sipil. Bahkan pakai nama kraton seperti Hamengku Buwono atau Paku Buwono juga boleh, tapi apa berani? Takkan dituntut di Pengadilan gara-gara nebeng nama raja, paling-paling dapat stigma: wong gendheng!
Jika pakai nama Sultan sih banyak, misalnya: Sultan Saladin (bintang film), Sultan Djorghi (pemain sinetron), dan belakangan yang sedang ramai Sultan Alfatih. Kenapa ramai, karena dia terbelit kabel telepon dan nyaris tewas di Jl. Pangeran Antasari. Hebatnya dia, meski mau diberi kompensasi Rp 2 miliar oleh provider pemilik jaringan kabel, tetap menolak.
Di dunia selebritis yang selalu dielu-elukan netizen, yang oleh pers walau hanya kentut tetap diliput, ada sejumlah orang dipanggil sultan karena kekayaannya. Misalnya Sultan Bintaro, itu maksudnya Andre Taulany, Sultan Andara ditujukan pada Raffi Ahmad, dan Sultan Cinere adalah Anang Hermansyah. Menantunya yang bernama Atta Halilintar juga kaya raya, tapi entah kenapa tak dapat predikat sultan.
Beberapa hari ini ramai dalam pemberitaan, lantaran wisudawan dari Unversitas Pajajaran Bandung, namanya lumayan aneh dan panjang, dialah: Jian Ayune Sundul Langit. Dia memang anak pintar. Terbukti saat pendaftaran lewat SNMPTN dia diterima di UGM dan Unpad. Tapi di Yogya namanya dibuat ledekan orang, sehingga pindah ke Bandung bumi Pasundan yang kurang paham Bahasa Jawa.
Bila diartikan secara leterliyk, Jian = sangat, sungguh; Ayune = cantik; Sundul = mentok; Langit = langit. Jadi maksudnya: Sungguh, cantiknya luar biasa, sampai menyentuh langit. Nama semacam ini juga dipakai oleh putra-putri Presiden Jokowi: Gibran Rakabuming Raka, Kaesang Pangarep, Kahiyang Ayu. Pengaruh Jawa-nya kental sekali. Kaesang Pengarep misalnya, bisa diartikan sebagai: Tuh, Sang Pemimpin. Meskipun, baru mau dicalonkan jadi Walikota Depok, Jokowi sang ayah melarangnya. Gagalah jadi pemimpin untuk saat ini.
Bukan tanpa alasan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko memberi nama anak yang didengar telinga agak aneh. Dia punya doa dan harapan, agar selain cantik sekali, bocah ini nantinya juga pintar dan berbudi mulia. Untuk sementara, harapan itu sudah terkabul, karena Jian Ayune Sundul Langit yang cantik ini memang juga pintar, karena lulus cumlaud di Unpad Bandung.
Meski punya nama unik, anak sulung Pak Bupati  ini ternyata juga hanya dipanggil Jian. Tak berani ayah ibunya memanggil dengan sebutan Ndul, karena nanti bisa dikira bernama Gundul. Dan orang pun akan ingat lagu lawas gundul-gundul pacul gembelengan karya RC Hardjosubroto dari Yogyakarta.
Nama adik-adik Jian juga tak kalah uniknya, mereka adalah: Lintang Panuntun Qolbu dan si bungsu Gibran Cahyaning Pangeran. Artinya jelas, lintang panuntun kalbu maksudnya: bintang pembimbing hati. Dan Gibran Cahyaning Pangeran adalah: gibran yang bercahaya Tuhan. Khusus pakai embel-embel gibran karena Bupati Ponorogo ini suka baca bukunya Khalil Gibran, sebagaimana pelawak Mamiek Podang almarhum.
Ketika keluarga muda Sugiri Sancoko memberikan nama anak-anaknya cukup aneh, target pertama tentunya untuk kepuasan batin. Dia tak memikirkan bagaimana anak-anak itu nanti dapat sorotan teman-temannya. Dan betul kan? Jian langsung cabut dari UGM ke Universitas Pajajaran Bandung, hanya karena tak nyaman dengan olok-olok temannya.
Kata teman penulis (kini sudah almarhum), tetangganya di Surabaya ada yang berani memberi nama anaknya Tuhan. Namanya juga anak, nakal adalah hal biasa. Maka seringkali Tuhan dimarahi bapaknya karena main melulu atau disuruh mandi susah banget. Bagi yang tidak ngerti kan bisa dituduh SARA. Tapi kalau nama Robi yang dalam bahasa Arab juga berarti Tuhan, ada dipakai sejumlah orang, sehingga ada nama Robi Cahyadi (penyelundup mobil mewah), Robi Sugara (pemain film).
Tetapi nama-nama anak Bupati Ponorogo ini masih tergolong tidak aneh-aneh amat. Sebab ada yang lebih aneh lagi sekaligus menggelikan adalah anak Arif Akbar (29), warga Tuban (Jatim). Pada anak lelakinya yang lahir 6 Januari 2019 itu dia kasih nama anak panjang sekali bak KA. Sebab nama anak lelaki itu terdiri dari 29 kata, lengkapnya adalah: Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta.
Nama orang satu RT dipakai untuk satu anak. Mentang-mentang nama itu tidak perlu beli, lalu kasih nama anak seenaknya dengan alasan bahwa nama itu sebuah doa. Apa orangtuanya tidak kasihan, jika sekolah nanti Pak/Bu Guru absen nama anak kedua Arif Akbar ini seperti orang tahlilan. Selain banyak mengambil bahasa Arab pula, juga kecampuran nama Jawa pula, misalnya: rangga, sutra, jiwa, sega, kutus, sura.
Belum sampai sekolah itu anak, nama sepanjang sepur grenjeng (KA barang) tersebut sudah ditolak kantor Dinas Dukcapil Tuban. Tapi bak pejabat tinggi negara atau orang penting, Arif Akbar orangtuanya tetap ngeyel sebab dia beralasan, bahwa pemberian nama itu hasil diskusi bersama pamannya yang seorang budayawan Tuban. Dia berharap anak itu kelak menjadi tokoh dunia yang mendunia. Menjadi diri yang tidak berpikir lokal, sempit atau primordial. Tetapi mempunyai wawasan global sekaligus memiliki karsa dan power untuk merealisasikan wawasan besarnya. Kuat namun berjiwa lembut yang welas asih.
Rupanya Arif Akbar tidak tahu aturan Dinas Dukcapil bahwa nama anak paling panjang 60 huruf. Bila dia tetap ngotot dengan nama panjangnya, si bocah takkan punya akte kelahiran. Padahal tanpa akte kelahiran tak bisa sekolah. Nah, bagaimana orangtua akan mewujudkan cita-citanya. Kecuali keajaiban, anak tidak sekolah jaman sekarang ya buruh macul atau jadi agen gas melon 3 Kg. (Cantrik Metaram)





