ORANG Barat menganggap, nama tak punya makna apa-apa. Bahkan pujangga Inggris William Shakespeare bilang, apalah artinya sebuah nama. Beda dengan pemahaman orang Islam, nama itu sebuah doa. Maka di tengah kecenderungan orang Indonesia memberi nama anak-anaknya berbau Barat dan Timur Tengah, kita angkat topi pada Presiden Jokowi yang tetap setia pada kemandirian budaya sebagaimana pesan Trisakti-nya Bung Karno. Dari ketiga putra-putrinya dan ketiga cucunya, punya nama yang njawani, mengakar pada budaya sendiri.
Ketika Presiden Jokowi sibuk persiapan peresmian jalan tol Lampung di lintasan Terbanggi Besar –Kayuagung 15 Nopember lalu, Ibu Negara Iriana tidak mendampinginya. Sebab dia tengah menunggu kelahiran cucu ketiganya, yakni anak kedua Gibran Rakabuming Raka di Solo. Presiden Jokowi baru bisa menengok malam harinya.
Jika istri Gibran seorang artis, wow……pastilah proses persalinan itu akan diliput habis-habisan media TV, dari pembukaan satu sampai seratus! Dan itu tak sampai terjadi, karena cucu Jokowi yang ketiga ini proses kelahirannya memang melalui operasi cesar. Itupun wartawan rentep (banyak sekali) seperti laron, sampai-sampai Gibran meledek, “Isyu Pilwakot Solo jadi terlupakan, ya?”
Namanya juga cucu Presiden RI, tak mengherankan yang membezuk kalangan penggede negara. Menkes Terawan Putranto bahkan mendampingi saat proses kelahirannya di RS PKU Muhammadiyah, Solo. Menyusul Ketua MPR Bambang Susatyo, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan juga Menko Polhukam Mahfud MD. Semua memberi selamat pada Gibran selaku bapak si bayi.
Yang menarik, nama bayi perempuan itu adalah: La Lembah Manah, itu pilihan nama yang terasa njawani sekali. Cuma agak ganjil, karena ada tambahan La di depan namanya. Apa itu? Apakah ada hubungannya dengan notasi angka dalam musik, LA, yang berarti enam? Atau LA dalam bahasa Arab yang berarti tidak? Atau jangan-jangan memang ada hubungan keluarga dengan Ketua DPD RI sekarang, La Nyalla Mattalliti?
Nama Lembah Manah gampang dimengerti, karena itu bahasa Jawa yang artinya rendah hati, penyabar tidak sumbu pendek. Semua orang menebak-nebak. Tapi ternyata kata Gibran, LA merupakan akronim Loma Anakku. Loma bahasa Jawa mengandung makna: suka memberi, atau kawehan kata orang Solo. Cuma, karena namanya Lembah Manah, apakah nanti panggilan akrabnya jadi: Mbah?
Sebagai Presiden RI ke-7 yang mengaku penerus amanat Trisakti Bung Karno, Jokowi konsisten pada prinsip berkepribadian dalam budaya. Maka meski belum jadi presiden saat itu, tiga anaknya diberi nama: 1. Gibran Rakabuming Raka, 2. Kahiyang Ayu dan 3. Kaesang Pangarep. Sedangkan cucunya adalah: Jan Ethes Sri Narendra, Sedah Mirah Nasution dan La Lembah Manah.
Orang Jawa pada umumnya, sangat akrab sekali dengan nama-nama yang diberikan Jokowi pada anak dan cucunya itu. Misalnya untuk putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, bisa diartikan sebagai anak laki-laki yang pandai, teguh, dan bijaksana, tapi tetap sederhana dan membumi alias tidak sombong.
Anak kedua Kahiyang Ayu, bisa diartikan sebagai perempuan tersayang yang cantik. Sedangkan si bungsu Kaesang Pangarep, mengandung makna: itulah pemimpin terdepan. Begitu pula nama cucu Jan Ethes Srinarendra, itu bisa diartikan: pemimpin yang cerdas dan tahan banting.
Sedangkan Sedah Mirah Nasution putri Kahiyang Ayu-Bobby Nasution, mengandung makna wanita yang cantik dan anggun. Bila dikaitkan dengan sejarah kerajaan Surakarta, BRAy Sedah Mirah adalah nama istri selir Pakubuwono IV yang dimakamkam di Kartosura.
Itulah Jokowi, Presiden RI yang tak melupakan akar budaya bangsa sendiri. Padahal orangtua sekarang, berlomba-lomba memberi anak dengan nama Barat semisal Christoper, Ferdinand, Thomas, Jeferson, Humphrey. Sedangkan yang berbau Timur Tengah memilih nama: Aisha Fatim, Jalila Martiza, Munira Habiba, Lakia Akasma, Alzam, Altarik, Azka
Bagi orang Islam nama adalah doa, sementara orang Barat tak peduli dengan makna sebuah nama. Tapi itulah dinamika perkembangan budaya, setiap orangtua memiliki selera sendiri untuk menabalkan sebuah nama ke buah hatinya. Tetapi, meski nama tidak beli, jangan coba-coba kasih nama anak: Paku Buwono atau Hamengkubuwono, bisa kualat! Sebab itu nama-nama monopoli raja di Surakarta dan Yogyakarta. (Cantrik Metaram)





