
HIDUP di rantau orang, bukan di negeri sendiri lagi, tak punya bekal keuangan yang cukup, sungguh mengenaskan. Itulah nasib para pengungsi pencari suaka yang terdampar di Indonesia. Mereka korban konflik perang di kawasan Timur Tengah yang tak kunjung usai. Tapi ironisnya, di negeri ini ada sekelompok orang yang justru mendambakan Indonesia menjadi negara sebagaimana Timur Tengah, yang katanya demi mencapai Indonesia yang baldatun toyibatun warabun ghofur.
Sejak 5 tahun lalu Indonesia menjadi sasaran kaum pengungsi pencari suaka. Dulu mereka bertahan di seputar Kalideres. Tapi karena UNHCR tak bisa berbuat banyak, akhirnya kini mereka merangsek sampai ke Kebon Sirih, selangkah lagi bisa di depan Balaikota. Untung saja Pemprov DKI mengantisipasi dengan cepat, tanpa menunggu gubernurnya yang sedang jalan-jalan ke Amerika Selatan dan Serikat.
Pencari suaka adalah orang-orang yang terusir dari negaranya, akibat konflik etnis dan perang yang berkepanjangan. Mereka yang masuk Indonesia berasal dari negara Afganistan, Sudan, Somalia, dan Irak. Mereka berharap UNHCR (United Nation High Comission for Refugees) segera bisa segera menempatkan ke negara ketiga sebagai tujuan. Di sanalah mereka akan membangun kehidupan baru, melupakan negeri tumpah darahnya untuk selama hayat dikandung badan.
Indonesia memang negara aman damai, penduduknya dikenal sebagai bangsa yang ramah, sehingga para pengungsi dari Timur Tengah ini ingin numpang hidup meski sementara saja di negara kedua. Di sinilah ironisnya. Sementara kawasan Timur Tengah selalu berkecamuk dilanda perang berkepanjangan, sekelompok orang Indonesia justru ingin menjadikan Indonesia seperti Timur Tengah. Kelompok ini sudah dibubarkan negara, tapi anggotanya masih gentayangan menyusup ke kelompok resmi untuk membangun kekuatan kembali.
Ratusan manusia Indonesa berduyun-duyun ke Irak untuk bergabung dengan ISIS. Padahal akhirnya, mereka hanya menuai kekecewaan dan ingin kembali ke Indonesia. Di sinilah kelucuannya, sementara orang-orang Timur Tengah pada lari meninggalkan negaranya, justru orang Indonesia melarikan diri ke negara mereka. Apakah ini bukan namanya golek mala (cari penyakit)?
Para pengungsi Timur Tengah yang terdampar di Indonesia, masuk RI awalnya di sekitar Kalideres, berkeleleran di sekitar Jl. Jalan Peta Selatan. Rupanya jumlah pengungsi semakin banyak, sehingga kini melebar sampai ke Kebon Sirih, Jakarta Pusat, mendekati kantor UNHCR. Padahal bila sudah sampai ke Kebon Sirih, sebentar lagi bisa merambah Balaikota! Ini sungguh bikin sepet di mata.
Mereka tinggal di tenda-tenda, dengan makanan dari bantuan dan belas kasihan orang. Sebetulnya mereka juga ingin cari makan sendiri, bekerja jadi kenek proyek bangunan kek, atau jadi kuli panggul di Pasar Induk. Tapi aturan UNHCR melarang mereka bekerja, sekasar apapun. Padahal yang namanya rasa lapar, tak seorang pun mampu melarang.
Tak punya uang di negeri orang, sungguh menyedihkan. Jangankan orang sudah berkeluarga, pelajar-mahasiswa saja ketika kiriman uang dari orangtua tak kunjung masuk ATM, sudah kelimpungan. Apa pun digadaikan. Kalau kaum pencari suaka, mau gadaikan apa? Karena harta miliknya tinggal anak istrinya, berikut baju yang melekat di badan.
Untung saja Dinas Sosial DKI cepat tanggap. Mereka kemudian dipindahkan ke bekas kantor Kodim di Jakarta Barat. Entah diambilkan anggaran dari mana, selama seminggu 1.100 pencari suaka itu dapat ransum sehari dua kali. Seperti kata Sekda Saefullah, Pemprov DKI hanya bisa bantu seminggu saja, selebihnya dikembalikan ke UNHCR. Tragisnya nasib para pencari suaka, mereka direken seperti ular python saja, sekali makan ayam bisa sebulan kemudian tak perlu makan lagi.
Kata pengamat huÂkum internasional HikmahÂanto Juwana, Badan Pengungsi tanggung jawab UNHCR. Pemerintah Indonesia tidak dapat diperÂsalahkan atas kondisi ini kaÂrena Indonesia tidak tergabung dalam konvensi pengungsi. Jika Indonesia mau membantu, semata-mata atas dasar kemanusiaan belaka. Tapi sampai kapan, karena UNHCR nampaknya juga diam seribu bahasa. (Cantrik Metaram)




