KANADA – Masa depan program pengungsi Amerika masih tidak menentu di tengah penantian dunia akan revisi perintah eksekutif Presiden Donald Trump tentang imigrasi.
Seorang pengungsi Kurdi kelahiran Suriah, Tima Kurdi, yang dilahirkan dan dibesarkan di Suriah, dan kini merupakan warga negara Kanada mengatakan ia kerap merasa bertanggungjawab untuk memperjuangkan nasib pengungsi dan keluarga mereka, yang seperti dirinya, mengorbankan jiwa demi masa depan yang lebih baik.
“Tidak ada negara yang seharusnya menutup pintu perbatasan mereka. Para pengungsi itu melarikan diri dari ISIS, dari teroris. Mereka bukan teroris. Mereka keluarga dengan anak-anak yang tidak tahu kemana harus pergi. Mereka terpaksa meninggalkan negara itu karena perang, bukan karena keinginan sendiri, dan tidak seorang pun seharusnya mengalami hal itu,” tambahnya, kepada VOA.
Tima mengaku bersahabat dengan seorang anggota Kongres Amerika Tulsi Gabbard asal Hawaii, yang juga pengecam keras perubahan rezim di Suriah, dan telah mengajukan undang-undang yang melarang pemberian dana bagi kelompok-kelompok gerilyawan di luar negeri.
Menurutnya, masa depan program pengungsi Amerika masih belum menentu. Ia mengatakan pidato presiden itu membuatnya optimistis tapi juga waspada dengan masa depan.
“Kita perlu menemukan solusi politik untuk mengakhiri hal ini. Kita perlu menemukannya. Saya harap Presiden Trump akan berhenti mendukung perubahan rezim dan menemukan solusi politik untuk mengakhiri penderitaan orang-orang ini,” harapnya.





