
UMAT Kristiani di seluruh Indonesia merayakan Hari Raya Natal, Senin, dengan sederhana, aman, tertib, nyaman dan damai tanpa kejadian atau insiden apa pun yang merusak suasana kehikmatan.
Seruan damai dan pentingnya toleransi antarumat beragama demi merekat persatuan dan kesatuan dalam kerangka NKRI digaungkan oleh para pengkhotbah dalam misa dan kebaktian Natal di berbagai tempat di seluruh penjuru tanah air.
Sikap toleransi antarumat beragama juga ditunjukkan antara lain dengan penyediaan layanan parkir kendaraan di lahan parkir masjid Istiqlal, Jakarta bagi jemaat yang mengikuti misa di gereja Katedral yang bersebelahan.
Pemuda Ansor NU juga ikut ambil bagian mengamankan jalannya misa Natal di gereja-gereja di sejumlah kota, begitu pula kelompok Pencalang masyarakat Hindu, ikut mengawal perayaan Natal di Bali.
Sekretaris GP Ansor DKI Jakarta Dendi Finsa mengemukakan, keikutsertaan Pemuda Ansor dalam pengamanan Natal membuktikan kerukunan dan persatuan umat beragama di Indonesia serta wajah Islam yang rahmatan lilalamin atau damai.
Sedangkan Romo Beny Susetyo menilai, kerukunan antara umat kristiani dan muslim sudah terjalin lama, termasuk saat keduanya bahu-membahu melawan penjajah Belanda di era revolusi kemerdekaan 1945.
Suasana kesejukan Natal kemarin hendaknya juga berlanjut saat menghadapi pilkada 2018 dan pemilu 2019 yang tidak bisa dielakkan, hadirnya perbedaan pandangan dan pilihan politik yang rawan dikonversi menjadi pertentangan SARA.
Masih segar dalam ingatan, sentimen SARA khususnya perbedaan agama dimainkan oleh pihak tertentu di tengah proses pilkada DKI Jakarta 2017 sehingga nyaris menjerumukan Indonesia dalam malapetaka perpecahan.
Hiruk pikuk kampanye dan dukung-mendukung pasangan calon masih menyisakan kekesalan dan luka hati tidak saja di level elite tetapi juga di tengah keluarga, termasuk antara suami dan isteri hanya karena perbedaan pilihan mereka.
Ketua Umum Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Henriette TH Lebang mengingatkan agar umat Kristiani agar tidak mudah terpancing isu SARA karena ego sektarian dalam berpolitik berpotensi memecah belah anak bangsa.
Kedepan, soliditas antarumat beragama di Indonesia seharusnya tidak sebatas hal-hal sepele atau seremonial belaka, tetapi juga menghadapi persoalan besar bangsa seperti pengentasan kemiskinan, memerangi korupsi dan ketidak adilan.




