
HARI Natal 2022 memiliki makna tersendiri selain di tengah keprihatinan akibat pandemi Covid-19 beserta segala dampaknya, ancaman resesi global akibat Perang Rusia – Ukraina dan khusus bagi Indonesia, tahun politik menyongsong Pemilu 2024.
Terkait pandemi Covid-19, tren pemaparannya masih naik-turun sejak awal terdeteksi di Wuhan, China akhir 2019, lalu menjadi pandemi global dan sampai hari ini statusnya belum beranjak ke endemi.
Di Indonesia sendiri, walau beberapa pekan terakhir angka pemaparan sudah melandai (923 kasus pada 23 Des.) dan kematian 19 orang, sebaliknya yang sembuh terus meningkat (2.812 orang), namun belum bisa dipastikan kapan pandemi berakhir.
Pakar pandemi John Grifith Universiy Dicky Budiman bahkan mengingatkan, pernyataan Presiden Jokowi bahwa kemungkinan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan distop awal 2023, harus dipertimbangkan dengan cermat.
Pernyataan Jokowi didasarkan dengan makin terkendalinya pemaparan Covid-19 dan turunnya angka korban, sebaliknya, Dicky mengacu pada situasi liburan nataru yang bisa memicu lonjakan kasus lagi berkaca pada even yang sama pada 2020 dan 2021.
Selain itu, lonjakan kasus Covid-19 juga kini sedang terjadi di China, walau negara itu terpaksa melonggarkan prokes setelah aksi unjuk rasa menentang karantina total (lockdown) marak di sejumlah kota.
Sementara krisis global sudah di depan mata akibat terganggunya rantai pasokan pangan dan energi akibat Perang Rusia – Ukraina dan juga perubahan iklim.
Pembatasan ekspor energi dari Rusia merupakan bagian paket sanksi yang dikenakan AS dan Barat (Uni Eropa – UE) yang dampaknya tidak saja dialami oleh Rusia tetapi juga negara-negara UE yang sebagian bergantung pada pasokan energi Rusia.
Indonesia sendiri walau tidak terlibat langsung konflik antara Rusia dan Ukraina, juga ikut terimbas resesi global terutama dengan kemungkinan PHK besar-besaran terutama di sektor industri manufaktur produk ekspor yang pada karya.
Tahun Politik
Sementara itu, kerawanan di tahun politik menyongsong pemilu serentak 2024 juga membayangi Indonesia, terlebih lagi jika masih ada elite yang memainkan politik identitas, termasuk mengapitalisasi agama demi ambisi mereka untuk merengkuh kekuasaan.
Masih segar dalam ingatan, politik identitas yang dimainkan elite tertentu pada pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 nyaris menjerumuskan bangsa ini ke tubir jurang disintegrasi.
Untuk itu, seruan damai di hati, damai dan rukun di seluruh pelosok negeri yang penuh keberagaman ini yang digemakan pada perayaan Natal 2022 sungguh sangat relevan.
Jika tidak, rakyat yang mayoritas rendah literasi politiknya, dengan mudah diperdaya atau diprovokasi para politisi busuk, terutama jika menyangkut isu sensitif terkait keyakinan atau agama, plus dimainkannya pula money politics.
Untuk itu: tema Natal 2022 yang digagas PGI dan KWI yakni: “Maka Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan lain” sungguh konstektual dan relevan dengan situasi kekinian.
Tema tersebut disalin dari Injil Matius 2:12 yang mengisahkan, Allah meminta orang-orang Majusi mencari jalan lain demi menghindari raja lalim, Herodes yang ingin membunuh sang Juru Selamat di hari kelahirannya.
Pesan yang dapat dimaknai dari tema Natal kali ini adalah ajakan untuk mencari jalan alternatif (lain) menghadapi ragam hambatan dan tantangan.
Melalui perjumpaan di perayaan Natal, umat diajak untuk berkreasi, menemukan jalan baru menghadapi realitas sekeliling, berjalan beriringan dan berpegangan erat untuk pulih dan bangkit bersama.
Kebersamaan juga diperlukan untuk mencari solusi permasalahan bangsa lainnya seperti korupsi, kemiskinan dan penegakan hukum.
Damai di hati, di tengah keluarga, lingkungan, di seluruh pelosok negeri dan penjuru bumi!



