CUKUP mencurigakan memang, penganiayaan itu terjadi 21 September lalu, tapi baru diungkap Ratna Sarumpaet 1 Oktober 2018, ada jeda waktu 10 hari. Yakin akan kejujurannya sebagai seorang aktivis, maka kekerasan atas nenek-nenek itu pastilah berkaitan dengan kegiatannya selama ini. Ratna mengaku baru cerita sekarang karena trauma atas ancaman sang penganiaya. Tapi setelah “sinetron”-nya dibongkar polisi, rontoklah segaka reputasinya selama ini. Maka mumpung masih ada umur, sudahlah Nek…., jadi MC alias momong cucu saja!
Jauh sebelum Pilpres, bekas bintang film Ratna Sarumpaet sudah dikenal sebagai aktivis HAM, bahkan mendirikan Crisis Centre segala. Omongannya lumayan galak, dia paling rajin mengkritisi Pemerintah, baik tingkat DKI Jakarta –era Ahok dan Jokowi– maupun Pusat. Karena sering menyerang pemerintah itulah dia menjadi “bintang” ILC di TV One, sebagaimana Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Rocky Gerung.
Demokrasi Indonesia pasca Orde Baru memang sudah mirip-mirip AS, orang boleh ngomong dan kritis terhadap apa saja tanpa takut dikarungin. Ratna Sarumpaet menempuh jalur itu. Cuma sayangnya, tak setiap orang Indonesia bisa menerima gaya dia. Lihat saja di media internet, mayoritas mengecam opini-opini nenek Ratna.
Misalnya saja ketika Ratna Sarumpaet 17 September lalu melempar isyu bahwa dana untuk Papua sebesar Rp 23 triliun yang diblokir pemerintah. Dengan mencatut Komisi XI DPR dia mencoba meyakinkan publik bahwa dana itu bukan fiksi. Katanya, itu hasil patungan keturunan 7 raja Nusantara, yang sedianya untuk membantu memakmurkan penduduk Papua. Ingat akan kisah “Dana Revolusi”, publik tak percaya bahkan mengatakan itu sekedar ilusi nenek-nenek pikun.
Berminggu-minggu menghilang setelah mengunggah isyu tersebut, pada 1 Oktober lalu diberitakan bahwa 21 September lalu Ratna Sarumpaet dianiaya orang di seputar Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Melihat bukti foto yang diunggah di medsos, di mana wajah Ratna Sarumpaet jadi simpang siur seperti habis ditonjokin orang, banyak orang yang percaya atas penganiayaan biadab itu. Tega amat, nenek-nenek renta kok sampai dihajar sedemikian rupa.
Tapi publikpun heran, sebagai publik figur masak beritanya sampai begitu lama terpeti-eskan? Tapi ketika dia beralasan bahwa trauma akan ancaman sang penculik, orang pun bisa memahami. Dan karena Ratna kini menjadi Timsesnya Capres Prabowo, tuduhan kemudian diarahkan ke kubu Capres Jokowi. Tentu saja kubu Jokowi membantahnya.
Untuk menghindari tuduhan liar, polisi minta Ratna lapor saja ke pihak yang berwajib. Ternyata, kelompok dia membela dengan mengatakan, pesimistis laporannya ditindaklanjuti. Padahal, diam-diam polisi terus menyelidiki segala laporan Ratna.
Terus terang, sebetulnya kala itu banyak publik yang berempati terhadapnya, bahkan termasuk tokoh sekaliber Mahfud MD. Maka narasi yang terbangun adalah, menyemangati Ratna Sarumpaet bahwa tiada perjuangan tanpa resiko. Sebagai nenek-nenek yang sudah berusia 70 tahun, tentunya sudah tahu persis resikonya apa bila menempuh jalur sebagai aktivis HAM nan galak. Almarhum Munir contohnya, sebagai aktivis LSM bukan sekedar dikepruki orang, bahkan kehilangan nyawa. Karenanya, jika takut dilembur pasang, janganlah berumah di tepi pantai.
Ternyata narasi untuk menyemangati Ratna Sarumpaet menjadi sia-sia, ketika pihak Polda Metro Jaya kemarib menyatakan: tanggal 21 September nenek Ratna tidak berada di Bandung. Dari tanggal 21 hingga 24 September 2018 dia opname di RS Bina Estetika Menteng untuk bedah plastik muka. Itu artinya, muka bengep Ratna Sarumpaet bukan karena dianiaya orang, tapi efek operasi penyedotan lemah di wajahnya.
Sejak siang itu juga rontoklah reputasi si nenek sebagai aktivis HAM. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Orang-orang yang selama ini menyanjung dan membelanya, termasuk para politisi beken kini rame-rame malbar alias malu bareng. Kini mereka buru-buru minta maaf ke publik dan mengutuk Ratna Sarumpaet. Seorang aktivis kok jadi pembohong, untung saja hidungnya tak memanjang seperti Pinokio.
Tamat sudah kariernya sebagai aktivis. Dia sendiri sudah minta maaf ke publik, karena ternyata jadi penyebar hoaks terbaik. Makanya nek, mau apa lagi sekarang? Mengingat usia mending rajin beribadah dan alih profesi menjadi MC dalam arti Momong Cucu. (Cantrik Metaram)





