Di usia yang sudah sangat tua, 97 tahun, Ketut Soring berjuang untuk hidup seorang diri. Ia tinggal di gubuk reot, meski dikelilingi pemukiman padat penduduk di Banjar Dinas Kajanan, Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.
Suaminya, Wayan Dana sudah pergi untuk selamanya sekitar 15 tahun lalu. Ia juga tak memiliki anak. Guna menyambung hidup, hanya mengandalkan belas kasihan sanak saudara.
Ketika dikunjungi Ahad (19/3/2017) siang, terlihat tempat tinggal perempuan kelahiran 1920 ini sangat memprihatinkan, rumah yang ditempatinya tak bisa dibilang layak huni.
Rumahnya tak hanya berukuran sangat kecil, sekitar 3×3 meter, tetapi juga sudah reot. Atap yang terbuat dari genteng banyak lepas dan terlihat bocor.
Dindingnya hanya memakai terpal bekas yang sudah robek. Di beberapa sudut dinding ditutup anyaman daun kelapa. Jika hujan turun air sudah pasti masuk. Tak hanya itu, hanya rumah ini satu-satunya yang masih berlantai tanah di desa itu.
Bila di lihat ke bagian dalam pondok, lebih miris lagi. Tempat tidurnya hanya beralas sprei kusut tanpa selimut. Sama sekali tak ada barang berharga. Pada dindingnya hanya tergantung beberapa helai pakaian.
Di tengah kondisi seperti itu, Soring mengaku hanya bisa pasrah. Niatnya untuk memperbaiki rumah, sudah pasti tidak mampu dilaksanakan, lantaran usianya yang sudah uzur, ditambah hanya hidup seorang diri.
Lebih parah lagi, pendengaran Nek Soring juga mengalami gangguan sehingga tidak mampu menangkap pembicaraan orang lain dengan sempurna. “Rumah ini satu-satunya yang dimiliki. Ini sudah puluhan tahun ditempati. Sempat juga rusak diterjang angin,” tutur salah seorang tetangga yang tidak mau disebutkan namanya.
Pihak keluarga Nek Soring, memang ada tapi kehidupannya tidak lebih mampu dari Nek Soring. Jadi jangankan untuk membantu Nek Soring, untuk kehidupan mereka sendiri juga susah.
“Kami dari pihak keluarga juga kekurangan. Kalau sebatas memberi makan, kami masih bisa. Kalau untuk buat rumah, masih sulit,” ucap Made Puja Negara, salah seorang keponakan Nek Soring.
Pernah warga mengajukan kepada pemerintah untuk membedah rumah Nek Soring, namun ketika diverifikasi status tanah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan.
“Katanya lahannya terlalu sempit. Makanya tidak dapat. Kami mohon bantuan tidak harus rumah yang besar. Cukup satu kamar saja. Biar layak ditempati,” ungkap Negara.
Lebih lanjut, sekitar tujuh bulan lalu, Soring sempat ditawari untuk tinggal di Panti Jompo. Namun, Soring menolaknya. Ia ingin lahir dan mati tetap di Joanyar. “Sudah sempat mau diajak ke panti, tapi tidak mau,” imbuhnya.
Seperti dilaporkan Bali Post, kondisi Soring yang demikian juga dibenarkan Ketua Tempek 6 Made Wikerta. Ia berharap Soring bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sekarang Soring tidak punya KTP dan KK jadi ia juga tidak mendapat Raskin dan bantuan PKH. Kasihan.





