Nenek 80 Tahun Tinggal Nelangsa di Hutan dengan Dua Anaknya yang Sakit Jiwa

Rumah Nenek Bodo'/ Kompas.com

MAMASA – Seorang nenek berusia 80 tahun,  Bodo’ Pole di Mamasa, Sulawesi Barat, hidup nelangsa  di tengah hutan bersama dengan kedua anaknya yang menderita gangguan jiwa dan terpaksan ia pasung karena sering mengamuk.

Sebenarnya, anak nenek Bodo ada empat, dan semuanya menderita gangguan jiwa namun sudah hidup terpisah darinya. Kini kedua anak lainnya, Tara (27) dan adiknya, Limbong (20), sudah hampir lima tahun terakhir dipasung keluarganya secara terpisah di Desa Paladan, Kecamatan Sesena Padang, Mamasa.

Tara dipasung di rumahnya. Adiknya, Limbong, dipasung terpisah di sebuh gubuk mirip kandang kambing berukuran 1,3 x 0,80 meter persegi di samping rumahnya.

Dalam menghadapi hidupnya sehari-hari, nenek Bodo harus berjuang  berjualan rerumputan yang dikenal warga Mamasa dengan nama Seong. Rumput kering ini dijual dengan harga bervariasi hingga Rp 5.000 per kilogramnya. Selain itu, nenek Bodo juga menjual sayur mayur milik petani pada saat hari pasar.

Di rumah peninggalan suaminya ini tak ada fasilitas istimewa. Hanya ada sejumlah piring, periuk dan panci tua berserakan di lantai rumahnya.

“Saya cuma jualan rumput kering, biasa juga jualan sayur milik petani saat hari pasar. Tapi saya sudah tua dan tidak mampu lagi bekerja keras, tapi apa boleh buat tak ada yang bisa diharapkan,” ujar Bodo.

Ia juga mengaku kerap mengutang ke sanak tetangga kampung di desanya jika persediaan beras di rumahnya tak ada lagi yang bisa dimasak unutk keluarganya.

Selain itu, seiring dengan usianya yang semakin menua, ia juga sudah sakit-sakitan dan lututnya terasa nyeri, namun karena tak ada tulang punggung keluarga Bodo’ tetap terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Ia tidak mendapat bantuan dari pemerintah karena meski sudah puluhan tahun bermukim di hutan Mamasa, keluarga Bodo’ tidak memiliki dokumen kependudukan yang sah. Mereka mengaku tidak bisa mengurus dokumen kependudukan karena kondisi kesehatan anggota keluarga masing-masing.

Keluarga dekat Bodo’ yang juga Kepala Desa Paladan, Marten, mengaku sudah menyampaikan kondisi kehidupan keluarga Bodo’ kepada aparat pemerintah daerah setempat namun hingga kini, tak ada perhatian.

Jangankan memberi bantuan sosial dan perawatan kepada keluarga Bodo’, menurut Marten, petugas dinas sosial atau dinas kesehatan setempat tak pernah datang menjenguk.

“Saya sudah adukan kasus ini ke berbagai intansi pemerintah terkait, tetapi responsnya hingga kini belum ada. Padahal mereka sangat butuh uluran tangan pemerintah,” ujar Marten, demikian dikutip dari Kompas.com.

Advertisement