
BANYAK jalan menuju Roma, banyak cara mencari duit, dari yang halal sampai yang haram. Dan di jaman yang semakin canggih ini, cari uang pun bisa pakai cara lebih canggih. Kini banyak YouTuber muda kaya dadakan, gara-gara ngeprank (ngerjain) orang. Tapi ingat, janganlah ngeprank sampai kebablasan karena bisa terkena sanksi pidana macam Ferdian Paleka dan Edo Putra. Jika sampai jadi masalah, siap-siap terkencing-kencing di celana!
Kata ahli Ilmu Jiwa, tertawa itu bisa melepas ketegangan. Tapi orang bisa tertawa jika ada sesuatu yang lucu. Dan sebuah lelucon atau humor, selalu membutuhkan korban, yakni obyek yang hendak ditertawakan. Jika tak ada korban di dalamnya, bukanlah hal yang lucu. Jika ada yang tertawa juga, paling sang pembikin itu sendiri.
Tukang bikin lucu yang biasa disebut pelawak, bukan hanya dinikmati rakyat jelata. Raja-raja dulu seperti di Kraton Surakarta dan Yogyakarta, juga punya abdi dalem yang tugasnya menghibur raja dan manggala praja dengan lawakan-lawakannya, namanya Abdi Dalem Oceh-ocehan. Mereka bekerja tanpa honor, kecuali hanya gelar dari kraton dan mengharapkan “berkah dalem”.
Jaman semakin maju, tertawa bisa dibisniskan, misalkan gambar kartun di majalah. Pada pers penerbitan sebelum merdeka, bikin kartun belum dibayar, dimuat saja sudah senang. Tapi setelah merdeka, melawak lewat gambar di koran dan majalah bisa jadi penghasilan. Misalkan Indri Sudono (Mas Klombrot) di Panjebar Semangat Surabaya (1950-1975), Johny Hidayat di Selecta Group (Stop, Detektip&Romantika, Senang), atau FX Har di majalah Varia, Mayapada dan Tjakra.
Srimulat adalah tontonan panggung yang 100 persen membisniskan humor, dan ternyata tahun 1980-1990 laku keras di Jakarta, Surabaya dan Solo. Berbarengan dengan itu di TV ada Bagio Cs, Bing Slamet Cs, Jojon Cs. Pelawak generasi belakangan bisa disebut Cak Lontong, Kirun, Marwoto. Mereka bermain di panggung maupun layar TV. Ada yang bermain tunggal ada pula yang dalam grup.
Terakhir dan yang sedang ngetrend di TV, adalah lawakan anak muda secara monolog, yang disebut komika atau stand up. Mereka melawak dengan konsep, jika tak disebut sekedar menghafal saja. Karena lawakan itu sering sekali meloncat-loncat, tidak mengalir begitu saja. Tapi lawakan model begini sedang banyak disenengi orang macam Bintang Emon.
Tapi sekarang, ketika jaman semakin maju dengan internetnya, lewat YouTube orang bisa bebas bikin lelucon, meskipun dengan cara ngerjain sesamanya. Yang dikerjain kaget setengah mati, yang bikin program tersebut dapat duit, bukan hanya jutaan, tapi miliaran dari adsense.
Padahal sebetulnya, program ngeprank semacam itu di TV swasta juga pernah ada, semacam Super Trap, Iseng Banget, Bikin Orang Panik dan Upsalah. Tapi karena sering kebablasan dan membahayakan, beberapa di antaranya sudah tidak muncul di layar TV
Kini juragan ngeprank paling terkenal adalah Dave, WN Australia yang fasih bahasa Jawa khas Surabaya karena sedari kecil tinggal di Kota Pahlawan. Lewat acara “Londo Kampung” di chanel YouTube dia ngerjain orang dengan memanfaatkan keanehan dirinya, bule kok pinter ngomong Suroboyoan. Dan dia bisa banyak duit dari itu bahkan sepertinya menjadi sumber penghasilan pokok, karena dia dia biasa ngeprank di berbagai kota.
Meniru Dave, ada dua anak muda namanya Ferdian Paleka Edo Putra mencoba ngeprank orang di YouTube dengan cara tidak senonoh. Ferdian Paleka ditangkap polisi karena ngerjain bencong dengan kantong isi batu dan sampah, sedangkan Edo Putra kasih kantong daging kurban isinya sampah juga. Ini semua terjadi karena kesalah-pahaman belaka, gara-gara tanpa seorang menyertainya. Artinya, begitu adegan ngeprank selesai serta merta ada yang menjelaskan, sehingga tidak sampai terunggah ke medsos maupun pers.
Begitulah ketika ngeprank kebablasan. Dulu pelawak Kiwil ketika ikut tim bikin acara ngeprank untuk TV, juga hampir digebuki orang karena salah paham. Ingin jadi orang kaya mendadak lewat ngeprank di YouTube tak melanggar UU, tapi harus terukur. Tahu mana yang pantas, mana yang tidak boleh. (Cantrik Metaram)




