Nglulu Gubernur Lampung

Saking parahnya jalan di Lampung, lampu indikator mobil kepresidenan pun menyala. Dan Presiden Jokowi terpaksa ganti mobil.

DALAM KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) tak ditemukan kata nglulu, karena itu memang bahasa Jawa yang belum terserap menjadi bahasa Indonesia. Padanan katanya juga tak ditemukan. Tapi artinya kurang lebih:  sebuah kata yang mengandung pesan berkebalikan. Ngomong A tetapi maksud sesungguhnya B. Misalnya seorang ayah bilang pada anaknya, “Bagus benar kelakuanmu…..”. Kalimat itu justru bermakna sebaliknya, ayah marah atas kelakuan jelek anak kandungnya.

Jumat lalu Presiden Jokowi meninjau Provinsi Lampung. Dari Bandara Raden Intan ke gubernuran Presiden Jokowi tak mau dijemput pakai helikopter, tapi memilih jalan darat dengan mobil kepresidenan. Rute yang ditempuh juga tak mau mengikuti arahan Gubernur Arinal Junaidi, melainkan justru menyusuri jalan-jalan hancur yang ditiktokkan Bima beberapa waktu lalu. Tapi ketika ditanya Pak Gub bagaimana kesan selama perjalanan, jawab Jokowi sambil tersenyum. “Wah, jalanan mulus sekali, sampai-sampai Pak Zulhas (Menteri Perdagangan asal Lampung) dalam mobil tertidur nyenyak…!”

Tak dijelaskan bagaimana raut muka Gubernur Lampung tersebut. Yang jelas kata-kata Presiden Jokowi tersebut kata sindiran khas orang Jawa, yang bagi orang Yogya dan Solo disebutnya nglulu. Sindiran yang benar-benar tajam menukik! Soalnya, pada fakta sebenarnya justru mobil Indonesia-1 jalannya terseok-seok dan tertatih-tatih, sehingga lampu indikator sampai menyala. Kata orang Lampung, betapa buruknya jalan di Lampung itu sampai lumpurnya pun mirip bumbu pecel  habis diuleg dalam cobek!

Dalam tiktoknya Bima menyebut Pemprov Lampung Dajjal, gara-gara tata kelola pemerintahannya yang dinilai tidak bener. Infrastruktur jalan ancur-ancuran,  satu kilometer bagus, satu kilometer rusak parah, padahal dana dari Pusat ratusan miliar telah disuntikkan. Pendek kata suap jadi makanan sehari-hari. Pemprov Lampung telah melaporkan Bima ke polisi, tapi tak diproses karena kritikan tersebut tidak ada tindak pidanannya.

Gara-gara Tiktoknya Bima yang ngarani waton nyata (tuduhan sesuai fakta) tersebut, Pemprov Lampung jadi kebakaran jenggot. Presiden Jokowi juga tertarik untuk meninjaunya langsung. Ketika Presiden bilang Rabu (3/05) ke Lampung, Gubernur Arinal Junaidi langsung kerahkan Bandung Bondowoso dan Sangkuriang untuk mengaspal sejumlah jalan di Lampung. Maksudnya adalah; pengaspalan itu harus selesai sehari jadi, tanpa pakai lelang-lelangan segala. Istilah orang PU namanya pakai anggaran swakelola.

Begitulah cara Presiden Jokowi “ngeprank” Gubernur Lampung. Jalan-jalan sudah dikebut pengaspalannya, eh……Jokowi menunda kunjungannnya menjadi hari Jumat berikutnya. Berton-ton aspal yang digoreng dadakan seperti tahu bulat Rp 500,- banyak yang mubazir karena di sana sini terkelupas kembali gara-gara terguyur hujan. Sepertinya sang aspal tahu, sehingga ikut pula ngerjai Pak Gubernur yang kerja gabener.

Hari Jumat (05/05) Presiden Jokowi benar-benar datang ke Lampung. Dan terjadilah drama itu, karena apa yang ditiktokkan Bima ternyata benar adanya. Mobil kepresidenan pun menyerah, sehingga Jokowi ganti jep Landcruisser. Maka di depan Gubernur Arinal Junaidi Presiden Jokowi mengatakan, jika Pemprov Lampung tidak mampu mengaspal infrastruktur jalannya, nanti akan dikerjakan oleh pusat. Rp 800 miliar akan digelontorkan untuk memperbaiki sejumlah jalan.

Publikpun kaget, sebab Gubernur Arinal Junaidi malah tersenyum dan tepuk tangan. Bagaimana ini orang, ketika Presiden nglulu dirinya, kok bisa-bisanya malah tepuk tangan. Gubernur Arinal Junaidi kok jadi seperti almarhum pelawak Junaidi dari Yogyakarta. Padahal dia mestinya malu sampai berguling-guling,  karena tiap tahun terima DAU (Dana Alokasi Umum) puluhan triliun dari Pusat, dilulu Presiden kok ngglendem (diam) saja.

Terlepas dari sindiran tajam Presiden Jokowi, ada baiknya Pemprov Lampung memang belajar banyak pada kotanya pelawak Junaidi tersebut. Di bawah Gubernur DIY Sultan HB X, jalan-jalan di Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, Bantul,  Kulon Progo dan kota Yogya sendiri, semua mulus bak pipi perawan merata sampai ke desa-desa. Maka ada guyonan satir tentang orang buta naik taksi dari Yogyakarta ke Kebumen. Ketika meninggalkan kota Yogya sampai Temon Kulon Progo, si buta bukan dari gua hantu itu diam saja. Tapi setelah sampai daerah Bagelen dia nyeletuk, “Sudah sampai daerah Purworejo ya Mas?” Sopir kaget, lho kok tahu? “Iya dong, karena jalannya sudah tidak mulus lagi.”

Mustinya Gubernur Lampung malu tersipu-sipu atas tawaran Presiden. Sebab selama ini Pemprov Lampung paling tinggi penyerapan anggarannya setiap tahun, rata-rata di atas 90 persen. Tetapi faktanya kok jalan-jalan di Lampung banyak yang ancur-ancuran? Lalu dikemanakan saja dana APBD itu. (Cantrik Metaram)

Advertisement