NIIS: Takluk tapi Belum Mati

Jatuhnya benteng terakhir NIIS di Baghouz, deir al-Zor, Suriah timur bukan berarti perang lawan NIIS usai. Sel-sel tidur NIIS harus terus diwaspadai.

BENTENG pertahanan terakhir kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Desa Baghouz, Provinsi Deir al-Zor, Suriah Timur, berhasil direbut oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), Sabtu (23/3).

Jatuhnya Baghouz menandai berakhirnya (sementara) aksi-aksi NIIS sejak diproklamasikan keberadaanya oleh pemimpinnya, Abubakar al-Baghdadi di Masjid Raya Mosul, Irak pada 2013.
Al-Bahgdadi sendiri sampai kini tidak diketahui rimbanya. Menurut Kantor Berita AFP, kemungkinan bersembunyi di sebuah gua di gurun Badia, Suriah tenggara, di tapal batas dengan Jordania dan Irak.

NIIS didukung kelompok radikal Suriah, Jabhat al-Nusra atau dikenal sebagai Front al-Nusra hanya selang setahun setelah didirikan, pernah menguasai kota Faluja Irak dan wilayah seluas 88.000 Km2 membentang dari barat Suriah ke bagian timur Irak.

Walau pun memiliki agenda sendiri-sendiri, koalisi internasional Amerika Serikat, Rusia, Iran, Turki dan milisi Kurdi yang bernaung di bawah Unit Pelindung Rakyat (YPG) perlahan namun pasti, akhirnya menghentikan sepak-terjang NIIS selama lebih lima tahun.

Relasi hubungan sesame koalisi internasional melawan NIIS memang ruwet. AS mendukung SDF dalam perlawanannya terhadap rezim Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad yang didukung Rusia.

YPG yang dibantu AS untuk memerangi NIIS adalah kelompok separatis Kurdi yang sebenarnya juga berperang dan ingin melepaskan diri dari Turki. YPG sangat cemas atas rencana penarikan pasukan AS dari Suriah, karena bisa-bisa dimanfaatkan Turki untuk menggempur mereka.

Kekalahan demi kekalahan di berbagai front di Irak dan Suriah akbat keroyokan koalisi internasional sebenarnya juga membuat NIIS mencoba mengalihkan pertempuran ke wilayah lain misalnya ke Filipina dan Indonesia.

Kelompok Maute dan Abu Sayyaf pimpinan Isnilon Hapilon yang berafiliasi dengan NIIS bahkan pernah menguasai kota Marawi, Lanao del Sur, Mindanao, Filipina selama lima bulan dan kemudian dibebaskan oleh pasukan pemerintah (23 Mei – 23 Okt. 2017).

Sementara puluhan angota kelompok Mujahidin Indonesia Timur yang bersumpah setiap pada NIIS pimpinan Santoso atau Abu Wardah beroperasi di hutan-hutan sekitar Poso, Sulawesi Tengah sampai ia terbunuh dalam operasi oleh aparat keamanan pada 18 Juli 2016.

Habis, sebagai Kekuatan Militer
NIIS secara militer sudah berhasil ditumpas, namun Wakil Komandan Koalisi Internasional Mayjen Christopher Ghika dari Inggeris dalam wawancara dengan koran Asharq al-Ashwat mengingatkan, sel-sel kelompok militan itu setiap saat bisa bangkit lagi.

Dengan 20-ribu anggotanya yang tersebar dimana-mana, menurut Ghika, secara perorangan atau kelompok-kelompok kecil, mantan kombatan NIIS bisa sewaktu-waktu melancarkan serangan gerilya atau aksi bunuh diri.

“Perang melawan NIIS belum usai dan bakal terus berlanjut, “ tandas Ghika seraya menambahkan, mungkin taktiknya saja yang berbeda yakni dengan membangun kekuatan lokal untuk memburu jaringan sel-sel NIIS.

Di Indonesia, tumbuhnya paham-paham seperti NIIS tidak bisa dianggap enteng, apalagi jika rakyat mudah diprovokasi oleh kapitalisasi isu-isu agama melalui hoaks ata narasi kebencian.

Advertisement