Nyamannya Divaksin

Pengaturan vaksinasi massal yang dirancang hingga detil, membuat pelaksanannya lancar mengalir. Sukses pengelolaan vaksinasi bia dijadikan pembelajaran program-program lainnya.

PEMERINTAH sedang menggelar helat besar program vaksinasi bagi 181,5 juta atau sekitar duapertiga dari total 271 penduduk Indonesia demi terciptanya herd immunity atau kekebalan kelompok dari Covid-19.

Bisa dibayangkan, rumitnya pengorganisasian program tersebut mengingat tersebarnya penduduk di ribuan pulau di Nusantara termasuk di wilayah 3 T (terdepan, terpencil dan tertinggal) dengan keterbasan akses komunikasi dan transportasi.

Pemerintah begitu sigap dengan segera membuat komitmen, baik secara bilateral mau pun skema multilateral melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Vaksinasi dan Imunisasi Global (GAVI) terkait pengadaan vaksin.

Namun dalam perkembangannya kemudian , ancaman tersendatnya pasokan vaksin di depan mata, karena sebagian produsen seperti India menunda pengiriman karena ada lonjakan kasus Covid-19 di dalam negerinya.

Sementara itu, program vaksinasi massal dicanangkan oleh Presiden Jokowi melalui vaksinasi perdana, 13 Januari lalu dilanjutkan sesuai dengan sasaran  prioritas secara bertahap.

Saat ini vaksinasi memasuki tahap pemberian suntikan bagi 40 juta lebih penduduk (sekitar 1,4 juta tenaga kesehatan, 21,5 juta kaum lansia dan 17,4 juta petugas layanan umum sampai Juli nanti.

Tidak tanggung-tanggung, helat akbar vaksinasi melibatkan sekitar 39.000 nakes, 3.000 puskesmas dan 1.000 rumah sakit di seluruh Indonesia dan ditargetkan untuk menjangkau 181,5 juta penduduk, dijadwalkan rampung dalam 15 bulan.

Pelaksanaannya dilakukan di puskesmas, gedung-gedung sekolah dan bangunan pemerintah, misalnya di DKI Jakarta menggunakan fasilitas olahraga di Gelora Bung Karno (GBK) dan GOR-GOR lainnya.

 Terpola dan Detil

Penulis menyaksikan, bagaimana detil rundown atau runut proses tahapan pelaksanaan vaksin dilakukan dengan cermat dan terpola sehingga prosesnya lancar mengalir.

Walau hanya di satu titik pelaksanaan vaksinasi yang dikoordinasikan oleh  Puskesmas Pancoran, Jakarta Selatan berlokasi di SMA Negeri 55 Jl. Potlot II, Duren Tiga, mungkin sampel ini bisa mewakili sentra-sentra vaksinasi lainnya.

Menurut petugasnya, pada hari itu (Senin, 29 Maret), vaksinasi dimulai pukul 08.00 sampai pukul 15.00 dengan jumlah peserta sekitar 300 orang.

Pasien terdiri dari lansia duduk di bangku-bangku yang disediakan, cukup membawa fotocopy KTP atau surat keterangan domisili bagi warga beralamatkan di luar DKI Jakarta.

Dengan ramah, nakes yang bertugas memberikan kalung dengan “name tag” memuat nomor urut antrian dan secarik kertas blangko yang nantinya akan diisi catatan terkait parameter kesehatan pemegangnya.

Nakes lainnya menerangkan tatacara vaksinasi yang harus diikuti dan pasien bisa bertanya untuk hal-hal yang ingin diketahui mereka.

Pasien lalu dipanggil sesuai urutan ke konter pendaftaran, diverifikasi KTP atau surat domisilinya, kemudian bergeser ke tempat pemeriksaan gula darah,  ukur tensi dan suhu tubuh dengan thermogun.

Setelah itu pasien menuju ruang pemeriksaan dengan menyerahkan hasil pemeriksaan tersebut dan sebelum disuntik vaksin, dokter menanyakan riwayat kesehatan, komorbid (penyakit penyerta) dan kondisi kesehatan lainnya.

Dokter juga menanyakan, apakah sebelumnya pasien pernah terkena Covid-19 (karena hanya penyintas yang tiga bulan sudah dinyatakan negatif boleh divaksin) atau ada keluhan seperti kesulitan menaiki tangga, alergi atau lainnya.

Setelah disuntik vaksin (hampir tidak terasa), pasien diarahkan ke ruang lain untuk memastikan tidak ada efek samping vaksinasi dan setelah 30 menit bisa pulang dengan membawa kartu vaksinasi yang antara lain berisi jadwal suntikan kedua (28 hari setelah suntikan pertama).

Kurang dari Dua Jam

Seluruh proses vaksinasi, mulai dari saat pemanggilan giliran termasuk menunggu usai divaksin, berjalan sekitar satu setengah jam.

Selain proses vaksinasi yang lancar dan tertib, sikap “care” dan keramahan yang ditunjukkan para petugas, nakes dan dokter agaknya membuat pasien merasa “diwongke”, merasa menjadi warga negara  bermartabat.

Sisi lain program vaksinasi yang membersitkan semangat dan tekad pemerintah memberikan pelayanan terbaik bagi warganya perlu ditularkan pada helat-helat lain yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

Misalnya, memberikan pembelajaran bagi penonton sepakbola, apalagi pertandingan internasioal agar tertib, sopan dan bersikap sportif, berdisiplin saat antri sembako atau tertib di tengah kerumunan massa.

Pembelajaran lain yang bisa dicontoh dari program vaksinasi yakni bagaimana pengaturan harus dilakukan secara detil, garis komandonya jelas sampai ke ujung persoalan dan pihak yang terlibat.

Dalam kenyataan, sering terjadi, atasan memerintahkan bawahannya, setelah itu, secara berjenjang ditafsirkan sendiri-sendiri sehingga ujung-ujungnya hasilnya cuma keruwetan dan saling lempar tanggungjawab.

Contoh paling anyar, bagaimana Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku tidak tahu-menahu mark-up pembelian lahan untuk program Rumah DP Nol Persen yang ditaksir bernilai sampai ratusan milyar rupiah.

“Saya dan gubernur tidak mengurusi hal-hal teknis, “ ujarnya enteng.

Dari sukses penanganan program vaksinasi massal, semua bisa belajar dan memperbaiki diri. Kalau mau!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement