
AKSI gerak cepat milisi Taliban untuk menguasai lagi Afghanistan dari tangan pasukan pemerintah sepeninggal penarikan bertahap pasukan koalisi pimpinan AS sampai akhir Agustus diperkirakan akan menelan banyak korban kedua belah pihak.
Pasalnya, Amerika Serikat tidak tinggal diam, menurut laporan the Daily Mail (7/8), Presiden Joe Biden sudah menginstruksikan pengiriman skuadron pesawat pengebom B-52 Stratofortress dan pesawat meriam (gunship) AC-130 Spectre.
Bomber B-52 yang diproduksi tahun ’50-an adalah pesawat pengebom tulang pungung AS di era Perang Dingin lalu, mampu mengangkut sampai 32 ton bom, berjangkauan sekitar 14.800 km lebih dan terbang tinggi sehingga sukar dijangkau rudal lawan.
Dengan delapan mesin berbaling-baling, B-52 dipersenjatai aneka bom pintar (smart bom) untuk menghancurkan gua-gua atau bunker di bawah tanah, rudal-rudal dan bisa menggembol bom nuklir.
Sementara AC-130 Spectre yang dijuluki “hell in the sky” (neraka di langit) adalah salah satu varian pesawat angkut sedang Hercules yang dimodifikasi sebagai pesawat meriam (gunship) dilengkapi aneka kanon sasaran di darat seperi Gatling 25mm, meriam kaliber 102 mm dan 105mm.
Sumber pertahanan AS mengatakan kepada The Times bahwa B-52 dan AC-130 menargetkan pemberontak Taliban yang berada di sekitar Kandahar, Herat, dan Lashkar Gar di Provinsi Helmand.
Taliban bergerak maju menyerang pasukan pemerintah Afghanistan yang harus betempur sendiri setelah pasukan koalisi pimpinan AS menarik pasukannya bertahap yang kini sudah mencapai 95 persen dan diharapkan rampung 31 Agustus.
Sementara menurut laporan AFP (6/8), Sheberghan adalah ibu kota provinsi kedua yang jatuh ke tangan pemberontak selama 24 jam terakhir setelah Zaranj jatuh ke tangan Taliban.
Seorang penduduk Sheberghan yang anonim mengatakan, terjadi serangan udara berat dan pembebasan tahanan dari penjara oleh Taliban. Dari sebuah tayangan video medsos tampak tahanan kabur di Sheberghan setelah Taliban menguasai penjara.
Sapu Bersih Afghanistan
Kombatan Taliban dilaporkan telah menyapu bersih sebagian besar wilayah Afghanistan dengan kecepatan yang mengejutkan, awalnya mengambil distrik yang terletak di sejumlah daerah terpencil.
Saat ini pasukan Taliban dilaporkan pula menguasai 9 dari 10 distrik polisi di kota Lashkar Gah. Lebih dari 210 distrik dan pusat distrik Afghanistan sudah jatuh di tangan Taliban.
Sebaliknya, AU AS terus membantu angkatan udara Afghanistan menargetkan serangan ke Taliban seperti di provinsi Helmand dan Kandahar selatan, saat pasukan pemerintah Afghanistan berusaha mencegah pengambilalihan wilayah itu.
Sementara di ibu kota provinsi Helmand, Lashkar Gah, pasukan komando elit Afghanistan, dibantu oleh pasukan reguler berusaha untuk mengusir serangan milisi Taliban.
Taliban memerintah dan menguasai sebagian wilayah Afghanistan sejak 1996 hingga 2001, berakhir dengan pemboman yang dilancarkan AS pasca tragedi 11 September di New York dan Washington.
Uni Soviet juga pernah bercokol di Afghanistan dengan menempatkan puluhan ribun pasukannya untuk mendukung rezim Marxisme-Leninisme Babrak Karmal melawan kelompok Mujahidin dukungan AS dan Pakistan antara 1979 dan 1989.
Paling tidak sekitar 2.500 tentara AS dan sekitar 15.000 pasukan Soviet tewas dalam kampanye mereka di Afghanistan, belum termasuk milisi Taliban, Mujahidin dan tentara pemerintah serta warga sipil.
Praktis Afghanistan terjebak dalam perang sejak 1979, sementara penarikan pasukan AS dan sekutunya kemungkinan hanya mengubah perimbangan geopolitik di negeri itu, diwarnai peran baru yang bakal dimainkan China. (AFP/the Daily Mail/ns)




