JAKARTA – Organisasi Kerja Sama Islam mendesak Myanmar mengizinkan delegasinya untuk meninjau langsung kondisi komunitas Rohingya di Negara Bagian Rakhine menyusul dugaan kekerasan terbaru yang mereka alami.
Seruan itu disampaikan OKI dalam komunike usai pertemuan darurat tingkat menteri luar negeri yang diadakan di Kuala Lumpur pada Kamis sore (19/01).
Seperti dilansir Tribun, Jumat (20/1) Komunike OKI juga mendesak Myanmar menegakkan hukum, bekerja untuk mewujudkan solusi yang lestari dan mengizinkan pulang pengungsi Rohingya dengan jaminan keamanan. OKI, dalam pertemuan yang dihadiri oleh menteri luar negeri dari 56 negara anggota, meminta Myanmar memberikan “akses leluasa dan tanpa syarat” bagi bantuan kemanusian ke daerah yang terdampak.
Sidang darurat OKI digelar menyusul berbagai laporan dugaan kekerasan terbaru yang dialami kelompok minoritas Rohingya, pada umumnya beragama Islam, di Negara Bagian Rakhine.
Kekerasan ini bermula pada Oktober 2016 ketika terjadi pembunuhan sembilan polisi perbatasan Myanmar yang oleh otoritas setempat dikatakan dilakukan oleh militan Rohingya.





