
NIAT menyenang-nyenangkan siswa-siswi TK dan PAUD di Kel. Sindurjan, Purworejo, Jawa Tengah, berujung musibah akibat terperosoknya kendaraan lapis baja pengangkut personil M-113A milik Batalyon Mekanis Raider 412 BES Kostrad di Kali Bogowonto, Purworejo, Sabtu pagi(10/3).
Bisa dibayangkan, betapa riang dan bangganya 132 anak didik TK dan PAUD itu ketika memperoleh kesempatan menjajal naik kendaraan lapisbaja buatan AS yang digunakan lebih 60 negara dan sudah malang-melintang di berbagai palagan tempur di dunia.
TK Ananda menyertakan enam murid, TK Masitoh 71 murid, PAUD Lestari 20 murid dan PAUD Handayani 35 murid atau seluruhnya 132 murid dan sejumlah guru pendamping mereka.
Usai sesi pengenalan tentang jenis kendaraan yang akan mereka tumpangi, murid TK dan PAUD tersebut dibawa keliling asrama Batalyon 412 BES Kostrad dengan tiga kendaraan M-113A1 dan kemudian diteruskan dengan acara “outbound”,menyeberangi Kali Bogowonto.
Tank pertama berhasil menyeberangi Kali Bogowonto yang alirannya cukup deras, namun malang, kendaraan kedua terperosok di lumpur sehingga penumpangnya terlempar ke sungai, sebagian besar dapat ditolong kecuali Kepala PAUD Ananda, Iswandari dan Pratu Randi Suryadi dari Yon 412 yang meregang nyawa.
Iswandari terbawa arus, sedangkan Pratu Randi kehabisan tenaga setelah berhasil menyelamatkan sejumlah korban.
Empat korban lainnya yang hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit (RS) Citrowardoyo adalah Khofifah Rajendra, Nabhan Dzulfadli dan Luki Fauziah dari TK dan PAUD Ananda dan Endah Purwaningsih (55) pengasuh TK.
Hayunda, ibunda Luki Fauziyah menuturkan peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba. “Saat itu, anak-anak naik di atas tank. Tiba-tiba tank nyungsep, terus siswa tercemplung ke air. Saya langsung memegang anak saya,” katanya ditemui di RS Citrowardoyo, Purworejo, Sabtu (10/3).
Hayunda mengaku bersyukur dia dan anaknya masih selamat dari kecelakaan tersebut. Meski demikian, anaknya mengalami trauma dan shock atas kejadian tersebut.
“Kalau sakit sih nggak,cuma masih kaget,” ucapnya.
Menurut catatan, Indonesia memiliki lebih 50 unit tank pengangkut personil (APC) M113-A1 buatan AS tahun ’60-an yang diterima tahun 1974 dan digunakan oleh sejumlah Kodam.
Sekitar 80.000 unit MA113 dengan berbagai varian termasuk pengangkut mortir dan roket anti tank, pengintai atau kendaraan evakuasi medis telah dibuat serta digunakan oleh lebih 60 negara di dunia.
Selain M-113, TNI juga masih memiliki APC amfibi BTR-50 buatan Uni Soviet tahun 1950-an yang sampai saat ini masih dioperasikan oleh satuan marinir, sedangkan APC yang lebih baru, Anoa, diproduksi PT Pindad bersama Renault, Perancis.
Kostrad sejauh ini sudah membentuk tim investigasi untuk meneliti penyebab musibah tersebut.
Sedangkan Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Sigit Ahmad Basuki mengungkapkan, pihak Batalyon 412 memang meminta bantuan peralatan selam padanya, namun melakukan sendiri evakuasi tank dan korban.
“Kami dilarang ke TKP, “ ujarnya.
Tidak diketahui apakah tank nahas itu memiliki kualifikasi amfibi, karena menurut catatan, kemampuan itu dimungkinkan secara terbatas bila M113 dilengkapi landasan baling-baling (front mounted trim vane)
Terlepas dari persoalan menyangkut daya angkut kendaraan tempur nahas itu, kelayakan operasional dan kondisi lapangan, juga muncul pertanyaan, pantaskah murid2 PAUD atau TK diajak naik tank, menempuh medan berbahaya.
Apa tidak cukup dengan berkeliling kompleks asrama saja?




