Overthinking di Akhir Tahun, kok Bisa?

Overthinking kerap terjadi di akhir tahun, begini cara mengatasinya. (Foto: Pexels)

Jakarta, KBKNews.id – Akhir tahun sering terasa seperti garis finish dari sebuah perjalanan panjang. Target kerja yang belum rampung, agenda keluarga yang padat, hingga persiapan menyambut tahun baru membuat tubuh dan pikiran bekerja ekstra. Di saat yang seharusnya menjadi momen rehat, justru banyak orang merasa pikirannya semakin bising. Overthinking pun kerap muncul tanpa diundang.

Pikiran dipenuhi pertanyaan yang berulang, “Sudah sejauh apa aku melangkah?”, “Kenapa hidupku tidak seperti mereka?”, atau “Apa aku menyia-nyiakan setahun terakhir?”.

Emosi bercampur aduk antara cemas, lelah, dan berharap. Kondisi ini wajar, tetapi jika dibiarkan, overthinking di akhir tahun bisa menguras energi mental.

Mengapa Overthinking Sering Muncul di Akhir Tahun?

Akhir tahun menjadi waktu refleksi alami. Kita menoleh ke belakang, menilai apa yang tercapai dan apa yang tertinggal. Menurut Yesel Yoon, Ph.D., psikolog asal New York, kecemasan cenderung meningkat di penghujung tahun karena banyak orang menyadari ternyata tidak semua tujuan dan pengalaman bisa diraih dalam waktu yang tersedia.

Perasaan “kehabisan waktu” ini memicu pikiran sia-sia, seolah ratusan hari berlalu tanpa makna. Ditambah lagi tekanan sosial seperti melihat pencapaian orang lain, ekspektasi keluarga, hingga standar sukses yang dibentuk media sosial membuat overthinking semakin kuat. Padahal, tidak semua perkembangan terlihat dari luar. Banyak hal tumbuh pelan, dalam, dan personal.

Ketika Refleksi Berubah Menjadi Tekanan

Refleksi seharusnya menjadi ruang memahami diri, bukan menghakimi. Namun, di akhir tahun refleksi sering berubah menjadi audit keras terhadap diri sendiri.
Kita lebih mudah mencatat kegagalan dibanding menghargai proses. Inilah yang membuat overthinking terasa melelahkan, karena pikiran terus mengulang hal yang sama tanpa solusi.

Padahal, akhir tahun bukan kompetisi. Ia hanyalah penanda waktu, bukan deadline hidup.

Self Care Sederhana untuk Meredam Overthinking

Mengatasi overthinking tidak selalu membutuhkan langkah besar. Self care bisa dilakukan dengan cara sederhana di rumah, tanpa ribet dan tanpa biaya mahal. Misalnya:

  • Menonton film atau serial yang menenangkan di layanan streaming
  • Melakukan yoga ringan atau peregangan
  • Membaca buku sambil ditemani kopi atau teh hangat
  • Mendengarkan musik sambil menatap langit sore
  • Mandi air hangat dengan sabun aromaterapi
  • Mengobrol santai dengan orang tersayang sambil menikmati camilan

Aktivitas kecil ini membantu pikiran kembali ke saat ini, keluar dari pusaran “bagaimana jika” yang sering memicu overthinking.

Cara Mengatur Ulang Jadwal Tanpa Merasa Overwhelmed

Akhir tahun sering identik dengan jadwal padat. Jika tidak diatur, hal ini bisa memperparah stres dan overthinking.

Pertama, tetapkan prioritas dengan jelas. Gunakan matriks Eisenhower untuk membedakan mana tugas yang mendesak dan penting, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Kedua, terapkan time blocking. Bagi waktu kerja ke dalam blok-blok tertentu, misalnya 30 menit untuk tugas ringan dan 1–3 jam untuk pekerjaan penting. Cara ini membantu menghindari mere urgency effect, yaitu kecenderungan mengerjakan hal mendesak tapi kurang penting.

Ketiga, buat deadline yang realistis. Tenggat waktu membantu pikiran lebih fokus dan mengurangi kecemasan akibat tugas yang menumpuk.

Keempat, coba 5 Hour Rule. Sisihkan satu jam sehari untuk belajar atau melakukan hal yang kamu sukai secara sukarela, seperti olahraga, journaling, atau belajar keterampilan baru.

Teknik Relaksasi Ringan untuk Menenangkan Pikiran

Saat overthinking datang, tubuh sering kali ikut tegang. Teknik pernapasan sederhana bisa membantu menurunkan respons stres.

  • Teknik 4-7-8: tarik napas 4 hitungan, tahan 7 hitungan, hembuskan 8 hitungan.
  • Box breathing: tarik napas, tahan, hembuskan, dan tahan kembali—masing-masing 4 hitungan.
  • Alternate nostril breathing: pernapasan bergantian melalui lubang hidung kiri dan kanan yang terbukti membantu tubuh lebih rileks.

Lakukan teknik ini beberapa menit saat pikiran mulai terasa penuh.

Membentuk Mindset Sehat Menjelang Tahun Baru

Overthinking di akhir tahun sering muncul karena kita terlalu keras pada diri sendiri. Cobalah mengganti pertanyaan yang menghakimi dengan pertanyaan yang lebih manusiawi:

  • Apa hal kecil yang patut aku banggakan tahun ini?
  • Kapan aku merasa benar-benar hadir dan menikmati hidup?
  • Pelajaran apa yang paling berarti bagiku?

Yesel Yoon menekankan pentingnya bersikap baik pada diri sendiri. Akhir tahun bukan penentu nilai dirimu. Kamu masih punya waktu untuk bertumbuh, dengan ritmemu sendiri.

Ritual Kecil, Dampak Besar

Tidak perlu resolusi besar untuk merasa siap menyambut tahun baru. Ritual sederhana justru membantu pikiran lebih tenang, seperti membersihkan ruang kerja, menata arsip digital, journaling lima menit sebelum tidur, atau mengambil jeda satu hari dari media sosial.

Hal-hal kecil ini memberi rasa kendali, sesuatu yang sering hilang saat overthinking melanda.

Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Pikiran

Overthinking bukan hanya soal pikiran. Stres emosional sering muncul lebih dulu pada tubuh. Tanda-tandanya seperti mudah lelah, bahu tegang, sulit fokus, atau imun menurun.

Menjaga keseimbangan fisik dan mental di akhir tahun membantu tubuh pulih dari kelelahan panjang dan memberi rasa aman saat melangkah ke tahun baru.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here