Pamer Kekayaan

Perhatikan judul tayangan Youtube Raffi Ahmad, bombastis sekali. Tapi yang nonton bejibun juga.

MENJADI kaya itu tidak dilarang, sama halnya untuk menjadi miskin. Cuma bedanya, untuk menjadi kaya harus ada usaha, sementara menjadi miskin adalah sebuah keniscayaan. Sebab manusia lahir di dunia ini semuanya miskin pada awalnya, tak punya apa-apa kecuali nyawa yang ada dalam tubuhnya. Tapi Allah SWT memberikan yang namanya cipta, rasa dan karsa, sehingga manusia bisa berubah termasuk mengubah nasibnya.

Ukuran kaya adalah sedikit banyaknya rejeki yang diberikan oleh Allah SWT. Orang yang rejekinya melimpah, berpotensi menjadi orang kaya. Sebaliknya yang  rejekinya pas-pasan otomatis terus menjadi miskin, bahkan bisa di bawah garis kemiskinan. Tetapi berbahagialah manusia yang diberi kekayaan material dan juga moral. Sebab jika hanya banyak material tapi tak punya moral, jadilah dia manusia yang suka memamerkan kekayaan.

Minggu-minggu ini soal pamer kekayaan sedang menjadi tranding topic, sampai-sampai Menkeu Sri Mulyani ikut turun tangan. Rafael Alun Trisambodo Kabag Umum Kanwil Pajak Jakarta Selatan, dicopot berkaitan dengan kelakuan anak lelakinya. Lalu Eko Darmanto Kakanwil Bea Cukai DIY juga dicopot gara-gara pamer moge di instagram. Tragis banget kan, mau nampang akhirnya malah tumbang.

Sampe-sampe Presiden Jokowi pun turun tangan, dia juga mengecam pejabat yang suka tampil hedonis. Di sela-sela sidang kabinet beliaunya mengingatkan, pejabat negara pamerkan kekayaan di medsos itu tidak pantas. “Rakyat kecewa, di kala pelayanannya tidak baik, pegawainya malah jumawa pamer kekayaan.” Kata Presiden.

Jokowi sudah memberi contoh. Meski ibarat kata uangnya tinggal ngguntingi saja, cara berpakaiannya sederhana. Memakai baju senengnya putih dan celana hitam, sepatunya hanya seharga Rp 450.000,-an. Bahkan saat jadi Walikota Solo, beli sepatu di tukang loak tidak malu, masih nawar pula!

Ada yang bilang, kaya lahir itu mudah, paling susah adalah kaya lahir batin. Sebab kaya lahir batin itu adalah orang kaya yang bisa berbagi, yang mau menyisihlkan sebagian hartanya untuk membantu orang miskin. Ingat dalam Qur’an diingatkan, di setiap hartamu itu ada haknya orang miskin (Surah Adz-Dzariyat ayat 19). Ada pula hadits yang mengingatkan, bukanlah orang yang beriman jika ada tetangganya yang kelaparan.

Ada juga hadits Nabi yang mengingatkan, carilah rejeki sebanyak-banyaknya seperti akan hidup selamanya, tapi beribadalah sebanyak mungkin seperti akan mati besok pagi. Itu artinya, Nabi pun menyuruh umatnya untuk menjadi orang kaya. Tapi ya itu tadi, kaya yang bermanfaat bagi lingkungannya, bukan kaya untuk dipamer-pamerkan di medsos dan sejenisnya.

Dalam Islam, orang suka pamer itu namana riya. Dalam perspektif ketimuran, pamer itu juga bagian dari orang yang sombong. Satu-satunya orang yang boleh dan harus pamer hanyalah pelukis! Sebab pelukis tidak mau pameran yang tak ada yang mau beli hasil karyanya. Walhasil bagi pelukis, pameran adalah bagian dari cara menggapai rejeki Allah SWT.

Di era gombalisasi ini, seiring dengan kemajuan teknologi jagad maya, setiap hari masyarakat dirangsang untuk menjadi orang kaya. Dulu hanya lewat sajian TV swasta dengan  produk sinetron sampahnya, yang setiap tayangannya selalu memamerkan kekayaan, miskin akan pesan-pesan moralnya.

Kini lewat Youtube tiap jam netizen dirangsang pameran kekayaan keluarga Raffi Ahmad – Nagita dan Atta Halilintar – Aurel. Sedang jungkir balik apapapun keluarga mereka, selaku dijadikan konten, ibarat kata sedang kentut pun jadi bahan untuk diliput. Cuma herannya, netizen juga selalu menyanjung dan memuji segala tingkah polah Atta dan Raffi yang setiap hari pamer kekayaan. Tapi ada juga komentar yang melawan arus, “Kapan nih Cipung (anak Raffi Ahmad) beol dijadikan konten?”

Tapi di sinilah kehebatan warganet Indonesia. Karena untuk menjadi kaya itu tidak mudah, melihat tingkah polah para youtuber kaya di medsos sudah merasa bahagia. Betapun konten Raffi Ahmad dan Atta Halilintar itu hanya tayangan sampah, penonton terus memuja keduanya dan cuan pun terus mengalir ke kocek Raffi Ahmad dan Atta Halilintar. (Cantrik Metaram).

Advertisement