Pamer Kekayaan

Mobil mewah berderet, bikin orang terangsang cari duit secara tak benar.

IRING-iringan  mobil mewah, di antaranya 40 Lamborgini, Jumat kemarin diberitakan mengalami kecelakaan di Tol Cipali. Mereka dalam perjalanan touring Jakarta-Cirebon. Salah satu mobil yang tabrakan itu dikendarai pengawal anak pengacara kaya Hotman Paris. Tetapi apa komentar warganet di medsos? “Alhamdulillah…..!” Bayangkan, ada anak bangsa mengalami musibah kok malah bersyukur (disukurin).

Ada nuansa kecemburuan sosial dalam komentar itu. Tapi memang begitulah gaya orang kaya jaman now. Mereka jalan-jalan ke luar kota dengan barisan mobil Lamborgini, sementara Mbok Gini di kampung-kampung jangankan mobil mewah,  sedan Corolla 1973 atau Honda 1969 saja tidak memiliki. Ini bukan mendikotomikan si kaya dan si miskin, tapi faktanya di lapangan seperti itu.

Tahun 1960-an, pejabat dan pemimpin yang menumpuk kekayaan tak peduli rakyat, dikecam sebagai “pejuang Impala”. Impala adalah mobil mewah di masannya, sekelas Bell Air, yang kata orang Jawa jaman itu: lakune gleser-gleser ora ana suwarane (jalannya tidak berisik). Yang punya kala itu memang hanya orang berduit, sekelas pengusaha Markam atau Dasaad.

Di era reformasi sekarang ini, ketika jumlah orang kaya semakin ombyokan, makin banyak pula orang yang memiliki mobil mewah seperti: Ferary, Lambhorgini. Mercedez Benz, Lan Rover Range. Bentley Continental BT. Lihat saja di tempat parkir gedung DPR Senayan, banyak wakil rakyat yang memilikinya. Padahal rakyat, boro-boro punya Bentley Continental BT, wong hidup sehari-hari saja tambah bete lantaran susahnya perekonomian kelas bawah dewasa ini.

Busyro Mukodas saat menjadi Ketua KPK pernah mengecam, banyaknya anggota DPR yang tampil hedonis, pamer kekayaan. Sebab secara tak langsung hal itu juga merangsang orang mencari uang dengan cara tak wajar (korupsi). Tapi peringatan Busyro hanya dianggap angin lalu, buktinya sepeninggal dia dari KPK terus saja banyak anggota DPR yang ditangkap lembaga anti rasuah itu.

Andaikan para pemilik mobil mewah itu taat membayar pajaknya, niscaya punya kontribusi untuk memberdayakan rakyat kecil. Sebab dana pemerintah untuk membangun negara 70 % APBN-nya juga dari pemasukan pajak. Tapi sepertinya banyak pemilik mobil mewah yang mbeler (males) bayar pajak. Dulu anggota DPRD DKI Haji Lulung ketahuan mobil mewahnya bodong, karena belum diurus surat-suratnya. Bahkan Gubernur Anies baru-baru ini juga buka kartu, masih ada 744 mobil mewah di Ibukota yang nunggak pajak hampir Rp 45 miliar.

Ke mana-mana bawa mobil mewah, adalah bagian dari pamer kekayaan. Dalam perspektif agama, pamer kekayaan adalah perbuatan berlebihan, melampui batas. Bahkan dalam Islam, harta banyak jika tak bijak memanfaatkan dan membelanjakan, justru menuntun pemiliknya ke neraka. Dalam harta mereka ada haknya orang miskin. Tapi jika tak dipenuhi, Allah mengancam orang-orang yang lalai membayar zakat. Ingat, dalam Our’an begitu banyak ayat yang mengingatkan kewajiban membayar zakat.

Dengan harta yang banyak, segala keinginan bisa terpenuhi. Tapi harta bukanlah segalanya. Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, takkan pernah ora ketemu teman lama bertanya, “Berapa rumah dan berapa hektar tanah yang dimiliki?” Pasti yang ditanyakan anakmu berapa, cucumu berapa.

Jadilah orang kaya yang bermanfaat bagi lingkungannya. Maka sebuah hadits Nabi mengingatkan, mubadzir haji seseorang jika tetangganya ada yang hidup kelaparan. Itu artinya, orang kaya harus punya kepedulian pada lingkungan sekitarnya. Maka biadablah orang kaya yang makan duren dan masak gulai kambing, tapi tetangga tak dibagi kecuali hanya baunya belaka. (Cantrik Metaram).

Advertisement